Apa itu JS Portfolio?

SAHAM BUKANLAH TIKET LOTRE

Saham bukanlah tiket lotre. Dibalik lembaran saham itu terdapat bisnis, yang akan menentukan harga saham perusahaan itu. Pembelian saham JSP tidak dilakukan, dengan harapan bahwa akan segera ada orang lain yang mau membelinya di harga yang lebih tinggi. Pergerakan harga di pasar setiap harinya, bukan merupakan perhatian utama JSP. Harga di pasar bukan merupakan referensi dari Value yang melekat pada sebuah perusahaan. Dengan perhatian utama terhadap Value yang melekat di perusahaan, hanya jika Price yang terbentuk di pasar lebih rendah dari Value sebuah perusahaan, JSP akan melakukan pembelian. Oleh sebab itu, tidak ada waktu terjadwal, kapan sebuah pembelian itu akan dilakukan.

Di dalam Catatan Portfolio itu, selain alasan pembelian, juga dituliskan harga pembelian maximum yang direkomendasikan, dan Trailing Stop yang diterapkan untuk saham tersebut. Dalam 12 bulan, akan terdapat 12-15 saham yang dapat dimasukan di Portfolio, dengan alokasi dananya masing-masing. Oleh karena, setiap member memiliki waktu bergabung yang berbeda, keranjang portfolio dari masing masing member bisa saja berbeda. Status Portfolio Terakhir akan dapat dilihat setiap minggu. Berdasarkan informasi ini dapat dilihat, apakah ada saham baru yang masuk minggu itu. Atau sebaliknya ada yang dijual, karena sudah menyentuh Trailing Stop-nya. Apakah ada perubahan angka TS, karena harga sahamnya di minggu itu mencatat harga tertinggi baru dan sebagainya.

Ada baiknya juga membaca alinea pertama, yang selalu dicantumkan di atas Status Portfolio Terakhir untuk dapat memahami pengertian dari setiap kolom yang ada di informasi tersebut. Dengan bergabung di JSPortfolio, melakukan investasi di pasar modal bisa menjadi lebih mudah. Anda hanya perlu 10-15 menit saja sebulan. JSPortfolio bertumpu pada keunggulan individual investors. Apa yang tidak dapat dilakukan professional investors (smart money) menjadi hal yang sangat mungkin dilakukan individual investor Mereka yang bergabung, dapat melihat catatan dari setiap saham yang masuk di JSP dari sejak dimulainya JSP tanggal 13 Mei 2020.

Semakin simple thesis sebuah investasi, hasil yang diperoleh biasanya lebih baik. Bahkan di dalam kasus khusus, seperti Berkshire Hathaway, BBRI dan BBCA, koreksi tajam pada saat itu hampir tidak memerlukan perhitungan apapun. Dalam kepanikan berjamaah, koreksi yang terjadi akan membuat harga saham berbagai perusahaan yang baik, seperti Berkshire di Wall Street dan BBRI serta BBCA di BEI juga ikut terkoreksi. Itu sebabnya, Buffett juga menyampaikan, bahwa peluang terbaik buat membeli saham perusahaan yang baik, adalah pada saat perusahaan itu sedang berada di meja operasi. Krisis Covid telah membuat perusahaan perusahaan yang baik itu harus terbaring di atas meja operasi.

Berbeda dengan professional investors, yang harus terus menerus aktif mengikuti pergerakan pasar, individual investors tidak dituntut untuk melakukan itu. Jika pasar tidak menawarkan opportunity yang menarik, doing nothing merupakan pilihan terbaik. Hanya jika probabilita terjadinya hasil yang baik terlihat sangat besar – seperti saat terjadinya koreksi berjamaah – pelatuk pembelian bisa ditekan. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, lazimnya imbal-hasil terbaik itu diperoleh setelah 3 tahun saham itu berada di portfolio.

Atas alasan ini, maka setiap saham yang dimasukan dalam JSP dilakukan atas dasar kerangka time-frame investasi 3 tahun. Namun demikian, dalam perjalanannya, tidak berarti kenaikan besar itu tidak mungkin terjadi sebelum masa 3 tahun – seperti dapat dilihat dari beberapa saham, yang dimasukan sejak dimulainya JSP, 13 Mei 2020. Mereka yang bergabung dapat melihat catatan masing masing saham itu, saat dimasukan di JSP.

MMLP masuk pada tanggal 21 Juni 2020, dengan judul “Opportunity di Sektor Property – Leader di Pergudangan Modern”, di harga Rp 200. Kecilnya perusahaan ini, mendorong saya untuk memberikan Warning di baris pertama Catatan itu, saya kutip “WARNING : Do not chase the stock. Ikuti maximum harga pembelian yang dianjurkan. Dengan nilai transaksi harian yang tidak terlalu besar, jangan dipaksakan membeli di atas harga maximum yang dianjurkan. Karena jika banyak yang melakukan hal itu, bisa mendorong kenaikan harganya. Investasi di saham ini dianjurkan untuk periode minimum 2 atau 3 tahun. Oleh karena itu, jangan dipaksakan membelinya apabila terjadi kenaikan harga, karena pembelian dapat dilakukan bertahap. Maximum harga beli yang dianjurkan adalah Rp 200”. 

Meskipun MMLP perusahaan kecil, tetapi emiten ini adalah leader di sektor pergudangan modern, dengan pangsa pasar 37%. 

Selain berbagai rencana transformasi yang direncanakan perusahaan, undemanding valuation MMLP menjadi bantalan yang cukup nyaman. Tingginya safety margin ini, memungkikan kita untuk dapat menunggu dalam waktu memadai, sampai terealisasinya transformasi itu.

Seperti ditulis di catatan itu, “Maximum harga beli yang dianjurkan, di Rp 200, setara 0.35 NBV. Harga ini 65% lebih rendah dari harga MMLP saat IPO tahun 2015 (Rp 585), dan harga Right Issue di bulan Oktober 2017 (Rp 580)”.

“Dengan EV Rp 433 Milyar, kita mendapatkan EBITDA Rp 203.1 Milyar, setara EV/EBITDA hanya 2.13 X. A real bargain untuk market leader dari sebuah perusahaan properti yang memiliki niche market (properti logistik)”. Emiten ini ternyata naik lebih cepat dari yang diduga. Tepat 1 tahun, harganya menyentuh Rp 400, dan menghasilkan one-bagger. One-bagger membutuhkan waktu setahun, tetapi hanya dalam hitungan minggu, harga menyentuh Rp 600, dan membuat MMLP menjadi 2- bagger.

MMLP bukan saham pertama yang menjadi 2-bagger di JSP. Aston Martin/AML, yang listed di LSE menjadi one-bagger pertama, dan juga two-bagger pertama di JSP. Aston merupakan emiten kelompok pertama, yang masuk di JSP di tanggal 13 Mei 2021, di harga GBp 610 (reverse stock-split adjusted). Covid dan strategi IPO yang tidak tepat, telah membuat pengendali saham AML sebelumnya, harus menyaksikan harga sahamnya turun 95%. Tekanan cash flow telah membuat harga saham hanya tinggal GBp 610 dari GBp 10,000 saat IPO.

Masuknya investor dan manajemen baru, pemilik Formula One yang didukung juoleh Daimler (Mercedes Benz) mengisyaratkan langkah awal turn around dari produsen mobil James Bond ini. Entry price yang rendah, membuat saham ini sudah menjadi one-bagger dalam waktu 1.5 bulan di bulan Juni 2020. Enam bulan kemudian, AML menjadi two-bagger pertama. Perjalanan masih panjang untuk perusahaan ini.