Headwinds yang menerpa Alibaba, sepertinya masih belum selesai. Berita soal adanya rencana Softbank menjual saham BABA yang dimilikinya, menjadi kabar baru yang menekan harga Alibaba – meskipun dalam trading semalam (Feb 8) di NYSE, Alibaba mengalami pemulihan. Adanya saham Softbank, selain Alibaba, di JSP, memungkinkan natural hedging atas penurunan harga Alibaba, atas alasan yang terakhir ini.

Headwinds sebelumnya, berasal dari pemerintah China, yang berkaitan dengan anticompetitive law. Bahkan April 2021, Alibaba harus membayar denda 18.2 Milyar Yuan, yang tentu mempengaruhi bottom line. Langkah pemerintah Amerika untuk menyelidiki cloud business Alibaba menambah bobot tekanan terhadap saham ini. Meningkatnya saingan yang dilakukan Pinduoduo dan JD.com, merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan Alibaba.

Namun demikian, turunnya harga Alibaba sampai 60% dan kembali ke harganya 5 tahun yang lalu, merupakan langkah pasar yang sangat berlebihan. Kondisi seperti ini merupakan opportunity yang baik untuk membeli, dan mengakumulasi saham Alibaba.

Seperti tampak di Gambar, Revenue tahun fiskal 2021 (CNY 717 Milyar) 4.5 kali lipat Revenue tahun 2017, saat harga saham Alibaba di $ 120, seperti harga hari ini. Laba Alibaba di tahun 2021 (CNY 150 Milyar) 3.5 kali lipat laba tahun 2017. And yet, harga saham saat ini sama seperti tahun 2017.

Alibaba mengendalikan bisnis dengan memakai Big Data yang dimilikinya. Data Morningstar September 2021, Alibaba memiliki AAC (Annual Active Consumers) sebesar 953 Juta. Angka ini setara dengan 79% online population (1.2 Milyar) dan 68% dari jumlah penduduk China (1.4 Milyar). Big Data memungkinkan besarnya potensi monetisasi yang dapat dilakukan Alibaba, yang merupakan jembatan bagi penjual dan konsumen di China (di luar pasar China, Alibaba memiliki Lazada). Meskipun saat ini cash flow dari e-commerce menjadi kontributor Alibaba terbesar (85%, per September 2021). AliCloud memiliki potensi pertumbuhan yang menarik. Sebagai bahan perbandingan, Amazon dalam laporannya yang terakhir, menyebutkan angka penjualan Amazon Cloud melonjak 39%, dan mencapai $ 16 Milyar. Angka ini setara 14.5% dari total penjualan Amazon.

AliCloud yang baru mulai beroperasi tahun 2009, untuk pertama-kalinya mencatat EBITDA positif di tahun 2020. Posisi AliCloud saat ini berada di belakang Amazon dan Microsoft. Dari data Gartner, market share Alibaba sekitar 9%. Saat ini, AliCloud menyumbang 9 % (angka 6 bulan pertama 2021/2022) dari total pendapatan – atau sekitar 50% dibawah angka yang disumbangkan Amazon Cloud kepada total Sales Amazon. AliCloud tumbuh 33%, lebih tinggi dari pertumbuhan Total Commerce.

Meskipun Pinduoduo dan JD.com merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan Alibaba, namun posisinya sebagai e-commerce yang terbesar, membuat Alibaba memiliki wide-moat. Hal ini tampak dari sticky-nya konsumen Alibaba. Atas dasar data Alibaba terakhir, Alibaba mencatat angka retensi 90% dari AAC inti-nya, di kelompok umur 25 – 44. Kelompok umur ini menyumbang sekitar 70% dari GMV (Gross Merchandise Value) Alibaba per-September 2021. Selain itu, dari angka GMV dan profit per-active user, posisi Alibaba juga jauh lebih unggul dibanding saingannya. GMV per-AAC Alibaba mencatat angka CNY 770/bulan. Sementara Pinduoduo dan JD.com masing-masing CNY 176 dan CNY 461. Laba per-AAC Alibaba mencapai CNY 61, sementara JD.com CNY 8 dan Pinduoduo CNY 4. Berbeda dengan BABA, Pinduoduo dan JD tidak memiliki cloud business.

Saldo kas Alibaba saat ini sekitar 21% dari Market Cap-nya. Arus kas Alibaba sebagian digunakan untuk melakukan shares buy-back. Data sampai Maret tahun lalu, average price shares buyback di $ 218, atau 80% lebih tinggi dari harga saat ini. Alibaba juga sudah mengumumkan, nilai shares buyback dalam 2 tahun ini, dinaikan dari $ 6 Milyar menjadi $ 10 Milyar.

Valuasi Alibaba saat ini, dengan PE 12.80 X dan EV/EBITDA 11.90 X menjadikan saham ini sebagai one of the best ideas for 2022. Mereka yang ingin mengalokasikan dananya di saham ini, lakukan di HKSE dengan kode 9988, JANGAN yang di NYSE dengan kode BABA.