By Darian Mandala Sofian

Belajar dari sejarah, bisa kita lihat bahwa sejarah hampir selalu berulang.

Dalam 100 tahun terakhir, umat manusia mengalami setidaknya 4 kali pandemi (COVID-19, HIV/AIDS, Influenza A/H3N2 / Hong Kong Flu, Influenza A/H2N2), begitu juga 100 tahun sebelumnya mengalami 4 kali pandemi (Influenza A/H1N1 / Spanish Flu, Pandemi Flu 1889-1890, Pandemi PES, Pandemi Kolera).

Sejak Great Depression 1929, setidaknya dalam rentang 10 tahun, terjadi 1 sampai 2 kali resesi di Amerika Serikat (1937, 1945, 1949, 1953, 1958, 1960, 1969, 1973, 1980, 1981, 1990, 2001, 2007, 2020).

IHSG dalam 30 tahun terakhir, mengalami 11 kali terjadi harga penutupan pada akhir tahun lebih rendah dari pembukaan pada awal tahun. Berarti hampir setiap 3 tahun sekali mengalami koreksi tahunan (1991, 1994, 1997, 1998, 2000, 2001, 2008, 2013, 2015, 2018, 2020).

Sebagai investor, kita tentu berharap situasi selalu baik, sehingga setiap perusahaan berkinerja baik yang saham nya kita miliki (Prinsip #1), selalu dapat tumbuh seiring jalan nya waktu (Prinsip #3). Namun kita tidak dapat melupakan “SEJARAH YANG BERULANG”, oleh karena itu kita perlu “dry powder” / extra cash yang memang kita sisihkan. Dimana wabah / resesi / koreksi / perilaku Mr Market yang irasional yang dapat merugikan kita, ternyata memberikan kesempatan untuk kita melakukan pembelian dengan harga yang baik (Prinsip #2).

Saya yakin para investor sudah memahami “Dry Powder”, bahkan tentu menjalankannya strategi ini. Namun izinkan saya untuk membahas kembali, mengingat sejarah yang selalu berulang dan kemungkinan gelombang kedua pandemi COVID-19 yang harus siap kita hadapi.

Dry Powder ini dapat kita taruh di rekening / dimanapun yang bisa kita cairkan dengan segera dan langsung kita gunakan untuk membeli saham ketika pasar memberikan kesempatan untuk kita melakukan pembelian dengan harga yang baik (Prinsip #2).

Berapa banyak Dry Powder yang harus kita siapkan?

Setiap investor tentu memiliki pandangan dan kalkulasi masing-masing mengenai berapa banyak “dry powder” / extra cash yang memang kita sisihkan. Melalui buku dan tulisan nya Bpk Joeliardi Sunendar, pelajaran dari hasil survey dari CapGemini tentang alokasi assets dari Global High Net-Worth Individuals (HNWI) selama periode 2013-2017, setidaknya menyisihkan hampir 1/3 dana investasinya dalam bentuk kas.

Apabila datang saat nya pasar memberikan kesempatan untuk kita melakukan pembelian dengan harga yang baik, maka beruntunglah yang memiliki Dry Powder. Sedangkan bagi yang tidak memiliki Dry Powder, silahkan menarik nafas panjang dan berkata “Seandainya saja ….”

(Prinsip #1)
Hanya membeli saham berkinerja baik
Kita dapat menilai saham yang berkinerja baik, masukkan watchlist, lakukan pembelian.
Hal ini bisa dilakukan kapan saja.

(Prinsip #3)
Membiarkan waktu yang memadai untuk investasinya bekerja (and you do nothing)
Apabila kita sudah memiliki saham berkinerja baik, dan pada harga yang baik. Kita bisa diam dan menikmati investasi bekerja.
Tentu saja diam bisa dilakukan kapan saja.

(Prinsip #2)
Melakukan pembelian tersebut dengan harga yang baik.
Hal ini tentu tidak dapat dilakukan semua orang dan tidak dapat dilakukan kapan saja.
Hanya ketika Pasar (Mr. Market) bertindak irasional dan memberikan kesempatan untuk kita melakukan pembelian dengan harga yang baik saja, hal ini bisa dilakukan. Tentunya apabila kita memiliki “Dry Powder” / extra cash yang memang kita sisihkan.

Jadi, apabila Mr. Market menawarkan kepada kita (Prinsip #1) perusahaan yang baik, dengan (Prinsip #2) harga yang baik, dimana anda setelah membelinya dapat (Prinsip #3) membiarkan waktu yang memadai untuk investasinya bekerja, sudah cukupkah “Dry Powder” / extra cash yang memang anda sisihkan ? 

Salam,

Darlan MS
Skip to toolbar