DIVIDEN. By T.Kopiholic

Hal apa lagi yang perlu diperhatikan terkait dividen?Sebagai ilustrasi, umpamakan lima orang bekerja sama, membuka sebuah warung bakso. Modal masing-masing investor 20 juta, sehingga total terkumpul 100 juta. Warung tersebut berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan bersih 20 juta dalam setahun. Dalam terminologi investasi, warung bakso ini menghasilkan return on equity (ROE) sebesar 20% (20jt dibagi 100jt).

Kemudian kelima investor ini bersepakat untuk membagi keseluruhan keuntungan dalam bentuk dividen. Sehingga setiap investor mendapatkan masing-masing 4 juta (20jt dibagi 5). Dividen yield yang diperoleh para investor sebesar 20% (4jt dibagi 20jt). Dividen payout ratio (DPR) sebesar 100% dikarenakan keseluruhan keuntungan dalam tahun tersebut dibagikan kepada pemegang saham.

Mari kita coba, misalkan, para pemegang saham tidak membagi seluruh keuntungan dalam bentuk dividen. Namun menahan sebagiannya sebagai laba ditahan untuk ditambahkan sebagai modal yang akan diputar kembali dalam kegiatan operasional dalam rangka menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi. Misalkan, dari keuntungan 20 juta, sejumlah 4 juta dibagikan dalam bentuk dividen. Ini artinya dividen payout ratio sebesar 20% (4 juta dibagi 20 juta). Sehingga masing-masing investor mendapatkan 800 ribu. Ada pun laba sejumlah 16 juta (20 juta dikurangi 4 juta) ditambahkan sebagai modal warung bakso di tahun berikutnya.

Ada selisih yang mencolok antara 800 ribu vs 4 juta. Apakah yang 4 juta lebih baik daripada 800 ribu? Secara cepat tentu akan dikatakan, iya 4 juta lebih baik daripada 800 ribu. Tapi apakah benar demikian? Jawabannya, belum tentu.Mari kita lihat. 

Ketika warung bakso membagikan seluruh keuntungannya kepada pemegang saham, pertanyaan yang muncul, akan dikemanakan uang bagi hasil tersebut? Ditabung? Deposito? Beli Surat Utang Negara? Atau? Ada beragam macam jawaban, juga beragam imbal hasil yang akan didapatkan.Tapi warung bakso ini memiliki prospek yang cerah ke depan. Kinerja manajemen sangat memuaskan. Program yang ditawarkan oleh manajemen dalam rangka pengembangan usaha ke depan juga masuk akal. Secara garis besar, menurut proyeksi manajemen, warung bakso akan mampu menghasilkan return on equity berkisar di angka 15%-20%.

Dengan adanya tambahan data ini, tentu gambarannya akan berubah. Bila keseluruhan keuntungan bersih dalam setahun itu tidak dibagikan semua, tetapi ditahan dan ditambahkan sebagai modal, maka kita bisa expect mendapatkan imbal hasil 15%-20% seperti apa yang dipaparkan oleh manajemen. Pertanyaannya, mampukah kita, apabila dividen dibagikan seluruhnya, untuk menghasilkan imbal hasil sebagaimana manajemen mampu hasilkan?

Pada contoh di atas, laba yang ditahan sejumlah 16 juta. Maka modal untuk tahun depan bukan lagi 100 juta, tetapi berjumlah 116 juta. Misalkan perusahaan memperoleh laba bersih sebesar 20%, maka keuntungannya bukan lagi 20 juta, tetapi menjadi 23,2 juta. Demikian berputar terus modal dan labanya.

Di bursa efek Indonesia, suatu perusahaan bukan saja dimiliki oleh lima orang seperti contoh di atas. Tapi bisa dimiliki oleh ribuan bahkan puluhan ribu orang. Kombinasi kemampuan perusahaan menghasilkan ROE yang konsisten tinggi dan dividen payout ratio (DPR) yang kecil, merupakan rumus baku untuk meningkatkan nilai perusahaan. Ketika nilai perusahaan naik, tidak ada pilihan lain kecuali harga di pasar dalam jangka panjang akan mengikuti kinerja perusahaan tersebut. Tidak ada pilihan lain. Dalam jangka pendek, siapa yang tahu?

Jadi, Anda pilih yang mana, dividen besar (yang DPR-nya juga besar), ataukah kita memilih menitipkan laba kepada manajemen untuk diolah kembali? 


Skip to toolbar