KATA PENGANTAR JS PORTFOLIO

SAHAM, INSTRUMEN INVESTASI TERBAIK

Apakah Anda termasuk 147 juta pemegang rekening di perbankan yang masih belum berinvestasi di pasar modal?

Jika jawabannya iya, berarti Anda selama ini mengabaikan kesempatan baik yang ditawarkan pasar modal. Berbagai studi telah menunjukan, bahwa saham merupakan instrument investasi yang memberikan hasil terbaik.

Perhatikan gambar kenaikan IHSG dalam periode 1999 – 2019 di atas. IHSG naik 931%, dari angka 677 menjadi 6300, atau meningkat rata-rata 11.81% per-tahun. Dana 100 Juta berubah menjadi 931 Juta.

Bagaimana hasilnya kalau dana 100 Juta itu disimpan di deposito Bank, dengan bunga 5%/tahun, dan hasil bunganya ditambahkan lagi menjadi deposito? Jika itu dilakukan, maka dana 100 Juta itu akan menjadi 265 Juta, atau sekitar 28% dari hasil investasi saham.

Dengan mengabaikan kesempatan yang ditawarkan pasar modal, maka mereka yang tidak memanfaatkannya, telah membuang peluang untuk mendapat tambahan hasil sebesar 72%. Untuk setiap 100 Juta mereka telah membuang tambahan hasil 666 Juta.

Atau, perhatikan data-data di bawah ini. 

Dalam 20 tahun, GDP Indonesia meningkat 661%. Kue perekonomian kita naik 661%. Namun, seperti disampaikan di atas, kue mereka yang berinvestasi di pasar modal (IHSG) meningkat 931%, angka yang lebih tinggi dari peningkatan kue GDP.

Tahun 1999, Nilai Pasar (Market Cap) Pasar Modal Indonesia nilainya sekitar 28.6% GDP. Tahun 2019, Market Cap sudah meningkat 1,150%  sehingga sekarang angkanya sudah mencapai 46.7% GDP. 

Hanya mereka yang berinvestasi di pasar modal, yang dapat menikmati kenaikan yang lebih besar dari peningkatan GDP di dalam 20 tahun ini.

Atau perhatikan apa yang terjadi dengan mereka yang memilih untuk menjadi pemegang saham Bank BCA.

Di dalam 10 tahun ini, kue perekonomian (GDP) Indonesia meningkat 48%. Mereka yang sudah memanfaatkan pasar modal, dan berinvestasi dengan menjadi pemegang saham Bank BCA – bersama dengan ribuan pemegang saham lainnya – mengalami peningkatan kue kekayaan yang lebih tinggi lagi, sebesar 176%. Tidak hanya 48% saja.

Tentu, tidak ada yang bisa memberikan jaminan, bahwa dalam 20 tahun ke depan, kenaikan yang sama dapat terjadi lagi.

Namun, “History doesn’t repeat itself, but it often rhymes”. Jika ritme yang sama terjadi, maka angka IHSG tahun 2039 dapat mencapai angka 58700. 

58700? Tinggi sekali. 

Mana mungkin IHSG bisa melonjak naik ke 58700? Bukankah saat ini, IHSG bahkan turun dari 6299 akhir tahun 2019 menjadi 5100 saat ini? 

Tentu tidak ada yang tahu, bahwa angka 58700 itu dapat tercapai. Kita masih perlu waktu untuk melihatnya. Dan dalam perjalanannya, seperti terjadi dalam 20 tahun terakhir, angkanya bisa turun dan naik.

Namun demikian, dari angka 6299 ke 58700, berarti naik 9.3 kali.

Sekarang. Coba bayangkan, jika jarum jam bisa diputar ulang, kembali ke tahun 1999. Di tahun 1999 itu, jika ada orang yang berkata, bahwa 20 tahun kemudian, di tahun 2019, IHSG bisa naik 9.3 kali lipat, dari angka IHSG saat itu, di 677, ke 6300, apakah ada orang yang percaya?. 

Pada kenyataannya, IHSG mencapai angka 6300 di tahun 2019.

Jadi, kita biarkan saja waktu yang bakal menjawab mungkin tidaknya. Ada soal lainnya yang lebih penting. 

Apa itu? Peningkatan luar biasa angka IHSG yang digambarkan di atas  terjadi, karena meningkatnya harga-harga saham perusahaan. Kenaikan harga saham perusahaan, sama dengan adanya peningkatan kekayaan  para pemegang saham perusahaan.

Disinilah letak masalahnya. Hanya sebagian kecil masyarakat saja yang menikmati peningkatan kekayaan yang luar biasa itu. Bagian terbesar masyarakat kita, masih tidak memiliki minat untuk menjadi pemegang saham perusahaan.

Saat ini, hanya ada 3 juta rekening pemegang saham di Indonesia, atau 1% dari jumlah penduduk Indonesia. Angka ini juga sangat kecil, jika dibandingkan dengan 150 juta rekening yang ada di perbankan. Fakta ini sekaligus menunjukan, bahwa rendahnya minat masyarakat kita saat ini untuk menjadi pemegang saham perusahaan, bukan disebabkan oleh tidak adanya dana. Jumlah 150 juta rekening di perbankan dengan jelas menunjukan, masalahnya bukan karena tidak adanya dana.

Bisa jadi, rendahnya minat itu karena banyak yang masih menganggap, bahwa berinvestasi di pasar modal itu merupakan hal yang sangat sulit, dan hanya dapat dilakukan mereka yang berlatar belakang keuangan.

Pandangan seperti itu tentu saja sangat tidak benar. Namun demikian, yang menjadi fatal bukan terletak pada cara pandangnya. Permasalahan terbesarnya adalah, konsekwensi – meskipun mungkin tidak disadari – dari pandangan semacam itu.

Konsekwensi itu dapat dijelaskan oleh konsep keajaiban penggandaan (the magic of compounding).

Dalam 20 tahun (1999-2019) IHSG meningkat dengan CAGR 11.81%, dari angka 676 ke 6299, naik 932%. Dana Rp 100 Juta menjadi Rp 932 Juta, dan uang Rp 200 Juta menjadi Rp 1.8 Milyar. Kenaikan ini belum memperhitungkan dividen setiap tahun yang bisa dipakai buat membeli tambahan saham di bursa.

Apabila dana yang sama itu ditanamkan dalam deposito dengan tingkat bunga 5%, dan bunganya dimasukan lagi menjadi deposito, maka dana Rp 100 Juta tersebut akan menjadi Rp 265 Juta, dan bukan Rp 932 Juta, seperti disampaikan di atas.

Perhatikan besarnya opportunity yang hilang seperti ditunjukan di atas, jika investor tidak mengalokasikan dananya di dalam saham. Meskipun saham sebagai instrumen investasi telah menunjukan kinerja yang lebih baik dibandingkan instrumen investasi lainnya, namun kenaikan yang luar biasa itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat kita.

Benar, bahwa dalam dua tahun terakhir ini, jumlah rekening investors telah meningkat 300%, dari 1 Juta menjadi sekitar 3 juta rekening saat ini. Namun demikian, dibanding dengan jumlah rekening di perbankan (150 Juta rekening), tentu saja 3 Juta rekening saham menjadi jumlah yang sangat kecil.

Seperti ditunjukan di atas, kenaikan IHSG dalam 20 tahun terakhir itu, angkanya lebih tinggi dari kenaikan GDP (661%). Gambar serupa juga tampak dalam peningkatan Market Cap. Tahun 1999, Market Cap BEI baru mewakili sekitar 26.8% angka GDP. Di akhir tahun 2019, Market Cap BEI sudah mencapai angka 46.7% GDP, dengan terjadinya angka kenaikan Market Cap sebesar 1,150%. Angka kenaikan ini, sekali lagi, jauh lebih tinggi dari peningkatan angka GDP. Mereka yang tidak mau memanfaatkan pasar modal, berarti tidak ikut serta dalam peningkatan yang terjadi selama ini.

Rendahnya basis individual investors di Indonesia, jelas bukan karena masalah tidak tersedianya dana. Statistik dan jumlah rekening yang ada di perbankan, seperti disampaikan di atas menjadi buktinya. Boleh jadi, fenomena ini lebih disebabkan oleh belum meratanya pemahaman soal investasi pasar modal dalam masyarakat kita. Padahal, berinvestasi di pasar modal, tidak sesulit seperti yang dibayangkannya selama ini.

Fenomena ini yang menjadi alasan, mengapa dalam lima tahun ini saya menulis sejumlah catatan yang fokusnya tentang berinvestasi di pasar modal, melalui account Stockbit (September 2015 – Juni 2020) dan IG @joeliardisunendar, dengan sekitar 27,000 folllowers sejauh ini untuk kedua accounts tersebut.

Melalui JSIRA, sudah berhasil diterbitkan 3 buku, yaitu “Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal’ (CSBPM) Vol I dan II, “Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan’ (CMMLK), serta 2 Seminar Tahunan, “The Buffett Way. And Beyond – A Simple and Smart Way In Stock Investing” dan Seminar “Anatomi Laporan Keuangan – Menemukan Perusahaan Yang Baik”. Apa yang disampaikan di dalam buku maupun Seminar tersebut memiliki tujuan yang sama :  Empowering Individual Investors.

Mulai bulan Mei tahun 2020 ini, JS Portfolio (JSP) mulai diluncurkan.

Dalam melakukan investasinya di pasar modal, ada beberapa opsi yang dapat dilakukan individual investor. 

Opsi pertama, adalah opsi yang paling mudah, berinvestasi pada Index. Seperti ditunjukan di atas, CAGR angka IHSG dalam 20 tahun terakhir ini angkanya 11.81%. Ini merupakan imbal-hasil yang secara realistis bisa Anda harapkan dari berinvestasi di saham. Imbal-hasil yang lebih baik dari deposito (5%) maupun SUN (7%). 

Opsi kedua, minta bantuan Fund Manager untuk mengelola dana Anda. Tentu saja tidak gratis. Ada fee yang harus dibayar, sekitar 2%/tahun. Masalahnya, data-data menunjukan, bahwa mayoritas Fund Manager itu kinerjanya lebih buruk dari Index. Padahal dengan membayar Fee, tentu saja Anda mengharapkan, bahwa kinerja portfolio yang dikelola mereka bisa lebih baik dari Index.

Saya tidak tahu persis statistik tentang kinerja Fund Managers di pasar modal Indonesia. Namun, apabila saya menggunakan data di Amerika, angkanya kurang menggembirakan. Di dalam periode 15 tahun, sekitar 90% Fund Manager menunjukan kinerja portfolio yang lebih buruk dari angka Index.

Namun kalaupun kinerja mereka sebaik Index, maka Anda tentu harus memperhitungkan adanya fee sekitar 2% per-tahun itu. Faktor 2% ini, tampak kecil, tetapi coba Anda lihat gambar di bawah. Apabila return sebesar 11.81% itu harus dikurangi fee 2%, sehingga hasil neto menjadi 9.81%, maka dana Rp 100 Juta itu tidak lagi menjadi Rp 932 Juta, tetapi hanya Rp 650 Juta. Artinya, sekitar 30% dari yang dihasilkan itu, Anda berikan kepada mereka yang membantu Anda (Fund Manager).

Pembentukan JSP, menawarkan kesempatan untuk mereka yang ingin memilih Opsi yang ke-3, yaitu dengan merancang portfolionya sendiri, sehingga tidak harus mengeluarkan fee 2%.

Mereka yang memilih bergabung di JSP, sebulan sekali akan mendapat informasi tentang saham yang dapat dimasukan ke dalam portfolio-nya. Informasi yang disampaikan, berisikan data-data yang dengan mudah bisa dipahami, yang mungkin hanya membutuhkan waktu 10-15 menit saja untuk membacanya. Dalam 1 tahun, akan ada 12 saham yang bisa dimasukan ke dalam portfolio, dan Anda hanya perlu waktu 10 atau 15 menit saja dalam sebulan. Anda bayangkan jika Anda harus melakukan sendiri, berapa banyak waktu yang diperlukan untuk mendapatkan satu perusahaan yang menarik. Berinvestasi di pasar modal, tidak lagi harus menyita waktu Anda.

Selain informasi di atas, Anda juga akan mendapatkan pemberitahuan, jika ada saham dalam Portfolio yang harus dijual. Adanya pedoman TS (Trailing Stop) yang dipakai, juga memberikan tambahan referensi jika ada saham yang sudah harus dijual.

Meskipun sasaran JSP ini adalah mendapatkan hasil seperti yang dapat diperoleh dari Index, namun kemewahan waktu yang dimiliki seorang individual investor, memungkinkan hasilnya bisa lebih baik dari angka Index.

Naik dan turunnya harga di pasar dalam jangka pendek, bukan hal yang akan menjadi perhatian utama JSP.  

“You have to turn over a lot of rocks to find those anomalies. You have to find the companies that are off the map…way off the map”- Buffett. 

Ini adalah jawaban Buffett, ketika ditanyakan bagaimana dia berhasil mendapatkan imbal-hasil memuaskan ketika dia mulai berinvestasi. 

Di awal investasinya, dengan dana investasi yang relatif masih kecil,  triple-digit gain bukan merupakan kemustahilan bagi seorang Buffett muda. Melalui perjalanan waktu, besaran dana investasi yang dikelola Buffett – melalui Berkshire Hathaway – semakin besar.   

Super-return – multi-bagger – menjadi semakin sulit bagi mereka yang jumlah dana investasinya semakin besar, seperti Buffett. Apa yang dia lakukan, melakukan pembelian atau penjualan, bisa langsung menarik perhatian banyak orang. Semakin sulit bagi dia untuk bisa menemukan “companies that are off the map…………way off the map”. 

Namun demikian, Buffett juga telah menunjukan, bahwa untuk dapat mendapatkan hasil yang baik, kita tidak harus melakukan hal yang luar biasa (extra-ordinary). Peningkatan harga saham Berkshire Hathaway sebesar 2,744,062% “hanya” membutuhkan CAGR 20.3%, kurang dari 2% per-bulan. 

Memang benar, CAGR 20.3% secara konsisten per-tahun bukanlah hal yang mudah. Tetapi angka itu bukan angka yang extra-ordinary. Angka kenaikan yang setara dengan 1.7% per-bulan, bukan angka yang dapat membuat investor bersorak kegirangan. Padahal, cukup hanya dengan  1.7%, Anda dapat memperoleh hasil yang sangat baik seperti Buffett.

Namun, karena “kelemahan” Buffett – berupa dana yang sangat besar itu – tidak dimiliki individual investors, maka small investors tentunya masih bisa memanfaatkan fenomena “way off the map” yang disebut oleh Buffett di atas. 

Apa yang tidak dapat dilakukan lagi oleh Buffett serta big professional investors lainnya, masih sangat mungkin dilakukan individual investor. Big professional investors, apabila melakukan pembelian, sebelum dia selesai menuntaskan rencana pembeliannya, harga di pasar dipastikan sudah meningkat. Jumlah pembeliannya yang besar akan mendorong terjadinya kenaikan harga. Apalagi, jika media ikut memberitakannya. 

Begitu pula sebaliknya. Penjualan yang ingin dilakukan, menjadikan harga bisa turun, sebelum mereka menuntaskan penjualannya. Hal ini tidak terjadi pada small individual investors.

Jumlah dananya yang kecil membuat apa yang dilakukannya tidak akan diperhatikan pasar. Oleh karena itu, mereka bisa lebih leluasa untuk melakukan pembelian/penjualan yang sesuai dengan target harganya.

Fenomena ini, dikombinasikan dengan kemewahan waktu yang selalu dimiliki individual investor, menjadi dasar pembentukan konstruksi JS-Portfolio. Pada akhirnya, yang akan menentukan harga saham sebuah perusahaan, adalah kinerja perusahaan yang menerbitkan lembaran-lembaran saham itu. Konsensus pasar, khususnya dalam jangka waktu yang pendek, bisa saja menimbulkan disparitas antara kinerja dengan harga yang terbentuk. Munculnya disparitas semacam ini merupakan salah-satu peluang yang akan dimanfaatkan melalui JS Portfolio ini.

Peluang-peluang seperti ini, yang memungkinan JSP diharapkan dapat memperoleh kinerja yang lebih baik dari IHSG (11.81%).

Apa yang terjadi dalam sejumlah saham yang masuk di dalam JSP sejak dirancang tanggal 13 Mei, dapat diberikan sebagai contoh :

BBTN menjadi second bagger kedua dalam JSP, setelah Aston Martin, yang listed di LSE.

Atau saat pasar menawarkan kesempatan lagi – untuk kesekian kalinya  – untuk membeli saham BBRI tanggal 13 dan 18 Mei, seperti di gambar ini

Contoh lainnya bisa dilihat pada saham Auckland Airport di bawah ini.

Atau peluang yang ditawarkan bank terbesar di Italia, dengan sentimen negatif yang menghantam bank-bank di Eropa.

Turunnya harga minyak membuat berbagai related oil companies juga mengalami penurunan harga. Padahal perusahaan seperti Civeo yang memiliki niche market di energy sector, masih mampu menghasilkan Free Cash Flow dalam kondisi seperti itu.

Di Indonesia, property sector dengan niche market seperti MMLP yang fokus dalam pergudangan, menawarkan peluang yang baik.

Di Amerika, magnit perusahaan berbasis teknologi telah menjadikan saham seperti Berkshire Hathaway ditinggalkan. Perhatian lebih banyak diarahkan kepada kerugian yang timbul dari airlines stock yang ada dalam Equity Portfolio. Padahal Equity Portfolio hanya merupakan salah satu Rumpun Pepohonan dalam 5 Rumpun Pepohonan Berkshire Hathaway. Seperti dikatakan Buffet, “Focus on The Forest – Forget The Trees’. Pasar yang masih fokus kepada pohon dan bukan hutan, menawarkan kesempatan baik untuk membeli saham Berkshire pada tanggal 13 Mei.

Contoh-contoh di atas bukan untuk bragging. Hal ini ditunjukan untuk dapat menegaskan, bahwa individual investors memiliki kemewahan yang tidak tidak dimiliki professional investors. Dengan memanfaatkan kemewahan itu, individual investor – tanpa harus mengeluarkan fee 2% – memiliki kesempatan untuk dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik dari professional investors.

Dengan berlangganan untuk mendapatkan akses ke JS-Portfolio, Anda dapat mempertimbangkan apa yang merupakan bagian portfolio ini di dalam konstruksi portfolio Anda.

JS-Portfolio mulai disusun tanggal 13 Mei 2020. Tidak ada jadwal pasti, kapan satu saham perusahaan akan dimasukan ke dalam, atau dikeluarkan dari JS-Portfolio. Masuk atau keluar-nya saham dari Portfolio akan tergantung kepada apa yang ditawarkan Mr Market. 

Namun dengan sejumlah market di berbagai dunia yang menjadi fokus JS-Portfolio, seperti disampaikan di atas, akan ada 1 saham dimasukan kedalam JSP, melalui posting di webpage jsportfolio.id.

Untuk tahap awal, jumlah saham yang akan dimasukan ke dalam JS-Portfolio ini akan berjumlah 15-25 saham, baik saham-saham di BEI maupun di luar non-BEI. Apabila sudah sampai waktunya nanti, akan dilakukan pemilahan antara saham di BEI dan non-BEI.

Tujuan konstruksi portfolio ini adalah untuk mendapatkan imbalan yang lebih baik dari non-risk investment instruments, dan CAGR IHSG dalam 20 tahun terakhir ini (11.81%) menjadi referensi yang dipakai.

Di dalam perjalanannya, tidak ada jaminan bahwa kinerja dari portfolio ini akan lebih baik dari target yang ditetapkan di atas, khususnya dalam satuan waktu yang pendek. Quotational loss tidak akan menjadi perhatian penting dalam konstruksi JSP, apalagi dalam satuan waktu yang pendek. Konstruksi JSP dirancang untuk menghindarkan adanya permanent loss.

Pemanfaatan konstruksi portfolio ini dapat disesuaikan dengan risk-profile setiap investor. Jika ada perkembangan yang relevan dengan perusahaan yang berada di dalam portfolio, informasi tersebut akan segera disampaikan. Demikian pula, jika ada perkembangan yang bisa membuat saham dalam portfolio ini untuk dijual atau dikeluarkan dari portfolio.

Konstruksi portfolio ini tidak mungkin cocok dan sesuai untuk semua orang. Namun, apabila premise dasar dari konstruksi ini sesuai dengan profile Anda, maka dengan berlangganan sebagai Member, kami dapat menjadi pendamping Anda di dalam perjalanan investasi Anda, lewat saham-saham yang dimasukan dalam JS Portfolio.

Untuk tahun pertama ini, Annual Fee Membership ditetapkan sebesar Rp 1,250,000.-, termasuk bonus buku, yang bisa dipilih dari salah-satu buku CSBPM Vol I, II atau CMMLK.

 Tahapan yang bisa dilakukan untuk menjadi Member JS-Portfolio :

 1. Klik Subscription di webpage jsportfolio.id

 2. Lakukan pembayaran

 3. Konfirmasi pembayaran ke e-mail jsportfolio2@gmail.com atau ke WA 0811822622 atau WA 081213071115

4. Setelah kami menerima bukti pembayaran, kami akan mengaktifkan subscription terkait. 

5. Untuk dapat mengikuti saham-saham apa yang dimasukan dan thesis investasinya, bisa dilihat di Catatan Portfolio maupun Status Portfolio Terakhir di webpage jsportfolio.id 

6. Selain itu, apabila ada informasi yang menarik, akan dikirimkan juga Perspektif – Newsletter, yang bisa diakses oleh umum, dan tidak hanya oleh mereka yang berlangganan saja. Jika ada yang ditanyakan, dapat menghubungi e-mail address :jsportfolio2@gmail.com. Namun kami tidak dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengn saham-saham secara spesifik, yang diajukan orang per-orang.

Disclaimer : Publikasi ini merupakan platform edukasi yang berkaitan dengan investasi saham, dan bukan platform investasi. Portfolio ini tidak dapat dipandang sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual saham yang namanya disebut disini. Pengambilan keputusan investasi berada di luar tanggung jawab kami, dan harus disesuaikan dengan risk-profile, assets allocation dan time-frame dari masing-masing investor. Sebelum melakukan investasi, setiap investor sebaiknya melakukan konsultasi dengan Financial Advisor-nya jika tidak memiliki pemahaman yang memadai untuk mengambil keputusan investasinya. Meskipun data dan informasi yang disajikan disini sudah dikaji dan diteliti sebaik mungkin, tidak tertutup kemungkinan masih ada kesalahan angka dan penulisan yang salah. Oleh karena itu, dianjurkan untuk meneliti serta mengkaji kembali data, angka dan informasi yang disajikan. Apa yang ditunjukan oleh kinerja JS-Portfolio masa lalu, tidak dapat dijadikan sebagai pedoman bahwa hal yang sama akan terjadi juga di masa yang akan datang.

Skip to toolbar