UPDATE CAPCO DAN CIVEO

UPDATE CAPITAL & COUNTIES DAN CIVEO – 30 JULI 2020

Sektor hospitality, property, energy & mining merupakan sektor yang paling parah terkena dampak Covid-19.

Capital & Counties berada di 2 sektor, yaitu hospitality sertra property, sementara Civeo menjadi bagian dari 2 sektor, yaitu hospitality serta energy & mining, yang menjadi inti bisnis hospitality-nya. Saat-saat ini menjadi masa-masa terburuk dalam sektor ini. Oleh karena itu, valuasi kedua perusahaan mencerminkan undemanding valuation. 

Kedua perusahaan ini hanya cocok untuk mereka yang masih percaya, bahwa pandemic Covid-19 ini pada akhirnya dapat dikendalikan. Oleh karena tidak tahu kapan hal itu bisa terjadi, maka time-frame investasi untuk kedua perusahaan harus relatif lebih panjang. Apabila kedua hal di atas tidak dimiliki seorang investor, sebaiknya kedua perusahaan ini jangan dimasukan ke dalam portfolio-nya. Apalagi untuk mereka yang sudah terbiasa mengharapkan kenaikan besar dalam jangka pendek.

Capital & Counties

Seperti sudah disampaikan pada saat CapCo ini dimasukan dalam JSP, perusahaan ini menjadi pemain sentral di West End, London property, yang merupakan prime-area. Bahkan untuk ukuran London, lokasinya berada di lapisan Triple-A.

CapCo juga memiliki dan mengelola Covent Garden, salah-satu pusat kegiatan bisnis, retail, F&B, entertainments, theatre district di London, yang setiap tahunnya dikunjungi sekitar 60 Juta pengunjung, baik turis lokal, turis mancanegara maupun penduduk kota London sendiri.

Akusisi 26% saham Shaftestbury – yang juga memiliki property dalam kawasan Covent Garden, semakin meningkatkan posisi CapCo. Norges Bank, sovereign fund yang memiliki Assets Under Management/AUM terbesar di dunia, sekarang ini tidak hanya menjadi pemegang saham terbesar di CapCo, tetapi juga sudah menjadi pemegang saham paling besar di Shaftestbury.

Jika saham CapCo sebesar 26% di Shaftestbury ini efektif (saat ini baru sekitar 21%) pada akhir tahun ini, maka 51% saham Shaftestbury akan berada di tangan Norges Bank dan CapCo (dimana saham terbesarnya juga dimiliki Norges Bank). Dengan demikian, tidak mengherankan jika sudah mulai muncul spekulasi, bahwa kedua perusahaan bisa menjadi satu di bawah kendali Norges Bank.

Sementara CapCo menguasai Covent Garden, area London Chinatown berada di bawah bendera Shatestbury. Perusahaan property yang bisa menguasai dua lokasi super di kota London, akan merupakan prioritas pertama investor yang ingin berinvestasi di London property.

Masalahnya, sekarang ini Covid-19 telah membuat kegiatan usaha di Covent Garden maupun Chinatown terhenti. Tenants yang berada di lokasi-lokasi ini mengalami kesulitan cash-flow, sehingga menjadikan mereka sulit melakukan pembayaran sewanya sesuai kontrak.

Dalam laporan terakhirnya, CapCo menyampaikan bahwa tenant yang dapat memenuhi pembayaran sesuai kontrak di dalam Kwartal II (April ke Juni) hanya 27%. Angka ini turun, dibandingkan dengan angka pada Kwartal I, yang angkanya masih sekitar 40%. Banyak tenants yang saat ini melakukan negosiasi cara pembayaran, menunggu kondisi kembali normal. Ada yang minta penurunan sewa, ada juga yang minta untuk memotongnya dari uang sewa dimuka (deposito) yang sudah mereka bayarkan.

Hal ini yang menjadi alasan, mengapa manajemen memutuskan untuk melakukan impairment charges di Kwartal II kemarin. Valuasi property diturunkan sebesar 17%, dari GBP 2.6 Milyar menjadi GBP 2.2 Milyar.

Dengan demikian, Net Assets Value juga turun dari 300 pence/saham, menjadi GBp 250 (250 pence).

Valuasi terakhir ini (GBp 250) setara dengan 180% harga saham CapCo sekarang ini. Valuasi seperti ini menjadi bantalan sangat comfortable,  untuk menunggu pulihnya kembali kegiatan usaha. Kecuali tentu buat mereka yang berpandangan, bahwa pandemic ini tidak bakal pernah bisa dikendalikan, dan harga prime property London masih bisa turun 50% lagi.

Posisi likuiditas CapCo juga terjaga dengan baik, sehingga perusahaan didalam kondisi seperti saat ini masih dapat melakukan akuisisi. CapCo memiliki posisi likuiditas (cash dan undrawn facility) sebesar GBP 616 Juta. Selain itu, sisa dana hasil penjualan Earl’s Court property sebesar GBP 210 Juta juga akan menambah kas CapCo di Semester II ini. 

Kombinasi rendahnya valuasi dan likuiditas yang terjaga, menjadi dua alasan yang cukup nyaman untuk mempertahankan saham CapCo di JSP.

Civeo

Civeo, sama halnya seperti CapCo, berada di sektor yang pada saat ini sangat tidak favorable. Tidak mengherankan, jika estimasi analis yang mengikuti Civeo ini sangat pesimis. Pesimisme serta rendahnya angka estimasi, seringkali bisa menghasilkan surprise. Sedikit perbaikan saja, sudah cukup menjadikan katalis positif untuk meningkatkan harganya.

Semalam, dari release Civeo untuk kinerja usaha Kwartal II, sekali lagi Civeo menunjukan, bahwa bahkan dalam kondisi seperti sekarang ini, Civeo masih bisa mencatat hasil yang baik.

Sementara berbagai analis memberikan estimasi, bahwa Civeo dalam Kwartal II ini akan menghasilkan EPS negatif, Civeo melaporkan angka EPS positif, $ 0.06. Dalam 4 Kwartal terakhir, tiga kwartal diantaranya, hasil EPS Civeo lebih baik dibandingkan estimasi para analis. Di sekolah apabila ada murid yang 3 kali salah dari 4 kali test, apakah itu artinya muridnya yang bodoh, atau test-nya yang salah?

Tidak mengherankan, semalam harga saham Civeo naik 43%, bahkan intra-day sempat naik 100%. Volume transaksi juga meningkat 2,600% dalam perdagangan semalam dibandingkan rata-rata transaksi harian.

Dalam keterangan pers-nya semalam, Bardley Dodson, CEO Civeo juga menyampaikan, bahwa perusahaan berhasil mencatat Free Cash Flow sebesar $ 25 Juta dalam Kwartal II ini. Free Cash Flow sebesar $ 25 Juta  yang dihasilkan dalam periode 3 bulan ini, menjadi sangat berarti buat CVEO, yang Market Cap-nya (setelah kenaikan semalam) hanya sekitar USD 130 Juta. 

Bardley juga menyampaikan, bahwa akhir Juni kemarin, Debt/EBITDA juga bisa diturunkan dari 2.54 menjadi 2.34. Dengan angka seperti ini, pinjaman perusahaan dapat dilunasi dengan angka EBIDA kurang dari 3 tahun. Untuk Kwartal II ini, EBITDA mencapai angka $ 28.5 Juta.

Akuisisi yang dilakukan CVEO di tahun 2019 lalu, dengan masuk pasar Australia, telah berhasil memperbesar jangkauan pasar Civeo. Industri shale-oil Amerika yang terpuruk, serta relatif stabilnya kegiatan usaha di Kanada, yang selama ini menjadi inti kegiatan Civeo, sangat dibantu oleh peningkatan hasil usaha Civeo Australia, yang baru dimasukinya. Kegiatan pertambangan di Australia yang menjadi target Civeo sangat bervariasi, dan berbeda dengan sektor shale oil (Amerika) dan sand-oil (Kanada), yang selama ini menjadi target pasar Civeo.

Carolyn Stone, CFO Civeo, juga menyampaikan, bahwa dalam Kwartal II, dilakukan pembayaran pinjaman sebesar $28 Juta, sehingga saldo pinjaman akhir Juni 2020 tercatat $ 299 Juta. Selain itu, posisi likuiditas Civeo juga sangat nyaman di angka $ 162 Juta.

Posisi yang cukup comfortable ini, juga diperkuat dengan kemampuan Civeo, yang masih dapat menghasilkan Free Cash Flow dalam kondisi yang tidak favorable seperti saat ini, seperti disebutkan di atas.

Meskipun sudah terjadi perbaikan harga minyak, yang kembali di atas $ 40, Bradley menganggap masih sulit untuk mengharapkan terjadinya recovery kegiatan usaha Civeo di pasar Amerika. Dengan demikian, di Semester II tahun ini, pasar Canada dan Australia akan menjadi fokus perhatian Civeo. 

Untuk tahun fiskal 2020, Civeo memproyeksikan pendapatan berada di kisaran $ 476-486 Juta, dengan EBITDA sekitar $ 80-85 Juta. Dengan Market Cap saat ini, $ 130 Juta dan Net Debt $ 292 Juta, maka EV Civeo tercatat sebesar $ 422 Juta. Proyeksi EBITDA yang disampaikan oleh manajemen ini, menyiratkan valuasi EV/EBITDA 4.96 – 5.27 X, dan PBV sekitar 0.43 X.

Apa yang terjadi pada CVEO ini menjadi salah satu contoh bagaimana fluktuasi harga bisa terjadi pada cyclical company. Harga saham Civeo saat ini hanya tinggal sekitar 4% dari harga tertingginya, $ 25, di tahun 2015, ketika shale oil berada di puncak kejayaannya.

Timing memiliki peranan sangat penting dalam melakukan investasi di cyclical company. Jika investasi itu dilakukan pada periode yang salah, yaitu saat produk atau sektor itu sedang sangat disukai, dan Anda telat  menghindar, sehingga menjadi the greater fool, you’ll lose your shirt. 

Sebaliknya, apabila kita melakukan investasi di cyclical company ketika sektor ini sedang tidak disukai, sehingga valuasi menjadi sangat murah dan kita memiliki kemewahan waktu, seringkali investasi ini memberi kita imbalan yang sangat memuaskan. Apalagi jika kita sudah memiliki down-side protection.

Namun tentu saja sulit untuk mengharapkan, bahwa harga saham ini akan kembali ke harga yang pernah dicapainya di tahun 2015, $ 25. Adanya kenaikan harga CVEO semalam, tentu mengharuskan adanya penyesuaian angka Trailing Stop perusahaan ini.

Salam,

Joeliardi

Skip to toolbar