By T. Kopiholic

Ketika membeli suatu saham, kemudian dalam waktu tidak terlalu lama (katakanlah 1 bulan), harganya naik 15%, Anda jual, maka itu merupakan suatu return yang baik. Mengingat besaran bunga deposito (yang notabene modal kita dijamin keamanannya) hanya berkisar 4%-5%.Dari hasil penjualan tersebut, Anda belikan saham lainnya lagi. Kemudian naik lagi. Tentu betapa indahnya dunia ini.Hal seperti inilah yang seperti penulis alami, ketika mulai masuk ke dunia pasar modal Desember 2016. Anda semua tentu paham, bagaimana kondisi market yang bullish di tahun 2017. Januari 2017, IHSG berada di angka 5200-an. Di bulan tersebut kali pertama penulis membeli saham . 

Dunia terasa indah penuh bunga. Dari beberapa saham yang menghuni portofolio, hanya 1-2 saja yang floating loss. Selebihnya hijau royo-royo. Ada kesombongan yang menyelinap. Semua yang dipegang seolah menjadi emas, midas touch! Sampai terbersit, gini amat ya cari cuan di pasar modal, mudah banget. Heheheheeee…..Tahun 2017 ditutup dengan angka IHSG 6350-an kurang lebih, setara kenaikan (+/-) 20%. Sedangkan porto mengalami kenaikan 30%-an. Whuih! Untuk pemain baru, dapat cuan 30% setahun, setidaknya bisa berjalan dengan sedikit congkak. Heuheuheuuuu…..

Memulai tahun 2018, penulis ingat betul ketika itu ucapan seorang tokoh nasional yang juga merupakan mantan pejabat publik, yang dengan optimisnya mengatakan bahwa di tahun 2018 IHSG seharusnya bisa menyentuh angka 7000. Semakin gegap gempita rasanya. Sudah terbayang di angan-angan, kalau tahun kemarin bisa naik 30%, misalkan tahun 2018 naik 20% saja, maka itu setara kenaikan 50%-an dari modal awal. Wah, mantab neh!

Mulai lah, “negara api menyerang”.Dimulai dengan kenaikan bunga di AS. Memanasnya hubungan AS-China. Dilanjutkan dengan perang dagang. Dollar yang “balik kampung”. Maka IHSG longsor. Dalam keadaan penulis bengong, mencari info, ini kenapa kok turun? Kapan naiknya? Apakah akan terus longsor? Dan, dan, dan… 

Bertanya di group sekuritas di mana penulis terdaftar pun bukannya membuat tenang, malah semakin bingung. Arus informasi demikian cepatnya. Ada yang optimis naik, ada yang mengatakan turun. Dan, penulis plonga plongo seperti pinokio! Tidak tahu apa yang akan dilakukan! Kepanikan melanda. Pikiran tidak rasional. Tindakan jual dan beli, bukan berdasar keputusan pribadi, tapi lebih kepada keputusan emosional. Berdasarkan rumor. Berdasarkan saham apa yang ramai. Berdasar rekomendasi dari “teman senior”. Maka bisa ditebak apa hasil yang didapat.Modal awal di tahun 2018 yang sudah naik 30% dari modal awal, perlahan tapi pasti tergerus. Aksi jual dan beli terus dilakukan, dengan nafsu agar bisa balik kondisi porto seperti di awal 2018. Bukannya menuai cuan, boncos yang didapat! Seolah semua yang dipegang menjadi (maaf) kotoran. Dan penulis, tidak menyisakan dry powder kecuali hanya sedikit, sekitar 5% saja.

 Yang paling diingat, yaitu ketika dua pekan menjelang ramadhon (Mei 2018), penulis bepergian ke Gunung Argopuro. Berangkat dengan penuh sukacita. Terlebih ini baru kali pertama menginjakkan kaki di Argopuro, yang panjang track-nya sekitar 42 km, terbentang dari Situbondo sampai Probolinggo. Empat hari tiga malam isinya happy-happy, tak ada sinyal, tak perlu lihatin aplikasi online trading. Sejenak melupakan kondisi porto yang berdarah-darah. Begitu keluar dari hutan, melihat porto. Bukannya menghijau, malah semakin dalam. Hahahaa….. nyeseknya tuh di sini!

Hari berganti hari bukannya makin membaik, kondisi market tambah merah. Panik? Jelas iya! Didorong kepanikan dan kecemasan itulah akhirnya penulis menjual sebagian besar porto, kecuali menyisakan 1-2 saham saja, yang mengakibatkan kerugian sekitar 45% dari modal awal tahun 2018. Nyesek? Jelas! Sempat vakum, tak membuka apliakasi OLT, RTI ataupun group sekuritas. Benar-benar ingin menyepi.Mulai lah googling, mencoba mencari cara gimana sih berinvestasi yang benar? Dilanjutkan membeli buku, lihat youtube, juga mulai bergabung dengan stockbit. Mulai lah pikiran terbuka. Ow, seharusnya begini kalau berinvestasi.

 Di akhir 2018 mulai lah membenahi portofolio. Berusaha menerapkan apa yang dipelajari selama masa vakum tersebut. Terkhusus terkait dry powder, yang wajib ada! Mutlak diperlukan. Karena inilah (ketiadaan dry powder), yang menjadi salah satu penyebab kehancuran penulis di samping kesalahan dalam memange portofolio (jenis emiten dari sektor yang sama).Fast forward, covid melanda, dan terjadinya March Madness 2020. Penulis tentu mengalami floating loss. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya lebih besar dibandingkan ketika kepanikan market 2018. Tapi alhamdulillaah di situ penulis bisa tenang menghadapinya. Kenapa? Karena adanya dry powder!

Penulis ingat, waktu itu di rekening ada 35% dry powder (hasil 25% dry powder ditambah penjualan beberapa saham di awal 2020). Maka penurunan market di tahun 2020 itu sudah penulis antisipasi dengan kesiapan dry powder. Membelanjakan semuanya. Dan alhamdulillaah, membuahkan hasil yang memuaskan.Tak akan pernah ada yang tahu akan bagaimana ke depan kondisi market. Itu semua di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan, dan dalam kendali kita, adalah mempersiapkan apa yang kita bisa. Besaran dry powder dan jumlah porto saham, kesemuanya ini mutlak berada di tangan kita. Kesemuanya ini merupakan pengalaman penulis. Tentu tak bisa dijadikan sebuah tolok ukur kebenaran. Tapi setidaknya, semoga secuil pengalaman ini bisa diambil pelajaran bagi semuanya. Semoga bisa memberikan manfaat. Tak lupa, selamat Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin.Happy cuan!

Skip to toolbar