DIVERSIFIKASI MERUPAKAN KUNCI – Aliyah Natasya.

Saya, Aliyah Natasya, ingin sharing ke teman-teman the great insights yang saya dapat sejak tergabung sebagai member di JS Portfolio. 

Bulan Desember lalu, saya diberi kesempatan berdiskusi dengan Pak Joeliardi dan satu topik yang langsung mengubah perspektif saya tentang investasi adalah diversifikasi.

Mendengar kata diversifikasi untuk investasi tentu pikiran saya terfokus pada pembagian alokasi porsi investasi di beberapa asset class berdasarkan resikonya.

Sebuah point of view baru yang lahir dari diskusi di Desember 2020 itu mengusik pikiran saya. setelah mendengarkan pengalaman Pak Joel menghadapi jatuh bangun bersama market. The love and hate relationship, tapi beliau tidak pernah meninggalkan market. 

Justru ia berusaha berporses dalam trial dan error untuk lebih mengenal market, how to get to know the market so the market can be loved by us. Bagaimana bertumbuh di berbagai era pertumbuhan dan juga resesi ekonomi tapi tidak pernah lelah jatuh bangun, karena investasi kita bisa tumbuh sesuai eranya. 

Setiap market memiliki waktunya, dan kontrol untuk mendapatkan profit adalah di kemampuan kita mengelola dan mendiversifikasi.

Saat itulah saya bertanya ke diri saya,”Apakah saya sudah melakukan diversifikasi di different market?”

Mahalnya Maya Uang Dollar

Saya dan juga mungkin kamu sudah terbiasa melihat segala sesuatu dalam Rupiah dan ketika mengkonversi harga barang dalam Dollar itu selalu  terkesan mahal. Perasaan ini akhirnya menjadi normal dan berujung bias. 

Padahal dalam kacamata lain jika hukum pengandaian itu berlaku dan hal yang seharusnya saya lakukan adalah memiliki investasi yang mahal itu, dalam mata uang lain untuk mengamankan agar tidak hanya fokus dalam pergerakan satu indeks saja.

 Diversifikasi investasi saham dalam kurs mata asing terasa mahal, namun rasa mahal itulah yang akhirnya  mampu melindungi nilai investasi kita.

data chart dari tradingview.com

tabel diatas menunjukkan pergerakan harga Rupiah terhadap USD Dollar dari 1998 hingga tahun 2021. 

Melihat dengan kacamata technical analysis, chart tersebut menunjukkan menunjukkan trend yang relatif stabil naik. The hidden message in this chart is kenaikan dalam Dollar berarti penurunan dalam Rupiah.

Dalam lima tahun terakhir ini nilai mata uang rupiah naik sekitar 10% terhadap USD yang artinya penurunan mata uang rupiah yang terefleksi ke nilai investasi yang kita miliki.  Sebagai tambahan informasi, dalam lima tahun terakhir IHSG naik 20 persen. 

data chart dari tradingview.com

Sekarang kita lihat, pergerakan Dow Jones Industrial Index Average

data chart dari tradingview.com

Selama lima tahun terakhir indeks Dow Jones berhasil naik hingga 80%an. Tiap negara memang memiliki kekuataan market yang berbeda, hal inilah yang juga wajib kita perhitungkan sebagai faktor pertumbuhan nilai investasi dan meminimalisir resiko yang terfokus dalam satu negara saja.

Dengan pertumbuhan DJI diatas 80% dan perkembangan nilai mata uang Dollar yang terus bergerak naik, bisa kalian bayangkan berapa valuasi investasi kalian ketika di Rupiahkan?

Penggambaran market USD dan Indonesia hanyalah satu bentuk ilustrasi saja. Banyak sekali indeks yang juga memiliki performance yang baik dan bisa dijadikan pertimbangan diversifikasi.

Hal-hal Yang Menjadi Pertimbangan Penting Dalam Mendiversifikasi

  1. Currency Risk

Dalam mendiversfikasi dibutuhkan cara agar kita bisa menyeimbangkan nilai investasi kita terhadap resiko mata uang. Saya harus akui, jika kurs Rupiah cenderung dinamis. Saya sebagai warga negara Indonesia juga optimis agar Rupiah bisa kembali lagi ke kisaran Rp 10.000 hingga Rp 11.000, namun saya tidak bisa memprediksi kapan itu terjadi.

2. Resiko Politik

Setiap negara dan marketnya merupakan sebuah sistem yang tidak terpisahkan. Kebijakan pemerintah juga menjadi pendukung pergerakan indeks saham. Sikap dan support terhadap perkembangan sosial dan ekonomi bisa mendorong atau justru menjatuhkan market akibat regulasi dari pemerintah. 

3. Resiko Trend Business

Resiko ini baru saya sadari setahun terakhir ini, perbedaan antara bisnis perusahaan di negara maju dan berkembang, dimana apresiasi dan valuasi untuk sektor teknologi mencapai titik tertingginya. Amerika dengan FAANG (Facebook Apple Amazon Netflix dan Google) memiliki valuasi market cap yang jauh berkali lipat dibandingkan dengan IHSG sebagai negara. Per Agustus 2020, jumlah market cap 5 perusahaan ini mencapai valuasi USD 5.6 triliun . Di Indonesia, kita masih belum memiliki sektor teknologi.

Pentingnya Diversifikasi

Dalam tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman untuk terbuka dan melihat sudut pandang lain tentang diversifikasi. Hal ini juga jelas terlihat dalam rekaman catatan JSPortfolio, portfolio yang dimiliki oleh team JSPortfolio isinya beragam. Ada saham-saham IHSG dengan kategori second liner dan juga blue chip. Ada juga pilihan saham perusahaan dari berbagai negara, Amerika, London, Swiss.

Diversifikasi mengharuskan kita untuk open minded and taking the risk. Investasi memang erat kaitannya dengan resiko. Jika kita tidak mengambil resiko untuk mendiversifikasi di market lain, berarti kita memfokuskan resiko dalam satu market saja. Belajar mengambil resiko mengajarkan kita juga untuk mem-priced in opportunity cost. Biaya kehilangan kesempatan  try the new market dan juga resiko terhadap kurs serta inflasi. 

Mendiversifikasi portfolio saham di luar negeri, terdengar wah dan premium. Tapi saya percaya taking the chance to start exploring new market would be a great investment strategy. Mahal murahnya, kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Everything has its own price.

The premium price has a premium quality, and the ones who are willing to pay will reap the benefit.

Jika takut mencoba dan kebingungan dengan market selain IHSG, kamu bisa subscribe jsportfolio.id dan mendapatkan insight terkait global market beserta pilihan saham yang sudah menjadi bagian dari portfolio.

Salam,

Aliyah Natasya

Skip to toolbar