
Dual-FEED Proyek Abadi LNG merupakan proyek besar bernilai milyaran dolar yang dijalankan oleh operator INPEX, asal Jepang, di Blok Masela, Indonesia.
Blok Masela sudah banyak dibahas melalui catatan IG @joeliardisunendar, yang memiliki kapasitas (puncak) produksi 9.5 juta LNG per-tahun (MTPA) dan 150 juta kaki kubik standar per-hari (MMSCFD) gas melalui pipa. Hal ini yang ikut mendorong JSP mulai memasukkan energy stocks di Core Stocks Juli kemarin.
Untuk memastikan hasil terbaik untuk fasilitas darat yang sangat penting, INPEX menggunakan pendekatan kompetitif “dual-FEED”. Ini berarti dua konsorsium terpisah melakukan desain rekayasa awal (Front-End Engineering Design/FEED) secara paralel. Dengan Dual-Feed contract ini, nantinya hanya satu yang akan dipilih untuk melanjutkan kontrak EPC (Engineering, Procurement, and Construction) yang jauh lebih bernilai. EPC akan menjadi game changer bagi peserta konsorsium yang menang.
Ada dua tim utama yang memperebutkan proyek ini, masing-masing dengan komposisi yang unik:
A. Konsorsium yang Dipimpin oleh KBR (AS), dengan anggauta Samsung E&A dan Adhi Karya.
KBR merupakan perusahaan teknologi dan rekayasa global yang dikenal dengan model bisnis berintensitas modal rendah (capital-efficient) dan keahliannya dalam proyek-proyek skala besar. Revenue hampir sekitar $ 8 Milyar (tahun fiskal terakhir, yang berakhir 3 Jan 2025), dan laba operasi $ 554 Juta, dengan hanya memiliki Fixed Assets (Net Property, Plant And Equipment) kurang dari $ 500 Juta.
Samsung E&A (Korsel) adalah perusahaan rekayasa dan konstruksi global besar, yang memiliki kemampuan eksekusi EPC yang baik. Dalam kontrak EPC untuk proyek gas di Saudi Arabia, senilai $ 6 Milyar, Samsung E&A keluar sebagai pemenangnya. Market Cap-nya saat ini, KRW 5.2 Trilyun. Secara YTD saham Samsung E&A naik 59.8%, jauh lebih baik dari KOSPI Index yang “hanya” naik 33.7% secara YTD.
PT Adhi Karya, kita tahu menjadi salah satu Karya Brothers, yang batuk-batuk dengan berbagai proyek besar zaman Jokowi. Market Cap-nya dalam 4 tahun ini, sudah rontok sekitar 85%. Dengan Market Cap Rp 2.1 Trilyun, dan Enterprise Value Rp 9.2 Trilyun (Kas Rp 1.5 Trilyun dan Hutang Rp 8.6 Trilyun), bisa merupakan indikasi dari besarnya hutang berbunga emiten ini. Namun, dengan modal Rp 9 Trilyun, dan kemampuannya untuk melunasi sebagian obligasinya tahun 2025 ini (Rp 1.4 Trilyun), emiten ini bisa dianggap mulai keluar dari tekanan besarnya. Kemitraan ini sangat penting bagi Adhi Karya, dengan beban utang tinggi dari proyek-proyek infrastruktur lain sebelumnya.
Memenangkan kontrak FEED saat ini, jika bisa dilanjutkan dengan kontrak EPC (saat ini masih sangat terlalu awal) akan menjadi pengubah permainan bagi kesehatan keuangannya dalam jangka panjang. JSP tidak mengetahui, apakah hal ini yang telah mendorong rombongan Direksi ADHI bulan lalu ikut melakukan pembelian saham perusahaan tempat mereka bekerja.
B. Konsorsium yang Dipimpin oleh JGC (Jepang), melalui PT JGC Indonesia – dengan satu anggauta, Technip Engineering Indonesia.
JGC adalah raksasa LNG global. JGC yang berasal dari negara yang sama dengan INPEX (operator Blok Masela), merupakan pesaing tangguh dengan kehadiran yang memiilki akar kuat dan pengalaman luas di Indonesia, termasuk pengerjaan proyek Tangguh LNG.
PT Technip Engineering Indonesia, merupakan anak perusahaan lokal dari Technip Energies (Perancis). Kemitraan ini menggabungkan keahlian dua perusahaan rekayasa global, yang keduanya beroperasi sebagai entitas lokal melalui anak perusahaan mereka, JGC (Market Cap, ¥ 327 Milyar) dan Technip Energies (Euro 7 Milyar). Sama seperti saham Samsung E&A, saham Technip Energies juga naik cukup tinggi secara YTD, sekitar 54%. Lebih baik dari CAC 40 Index, yang hanya naik kurang dari 5%.
Dual-FEED adalah kompetisi berisiko tinggi. Kedua konsorsium saat ini sedang melakukan pengerjaan rekayasa dan desain terperinci secara bersamaan. Proses ini dirancang untuk, a) Dapat menghasilkan desain yang paling layak secara teknis dan hemat biaya untuk INPEX, serta b) Mitigasi risiko dengan memiliki dua rencana independen
Langkah ini, bisa mendorong persaingan ketat, serta menghasilkan hasil yang lebih baik bagi pemilik proyek. Nilai kontrak FEED itu sendiri hanya sebagian kecil dari total biaya proyek.
Hanya sekedar contoh saja, misalnya, bagian Samsung E&A bernilai sekitar $26 juta untuk kontrak FEED di Blok Masela ini. Hadiah berharga sesungguhnya adalah kontrak berikutnya, dalam bentuk EPC – yang atas dasar perkiraan total investasi proyek sekitar $20 miliar – diperkirakan akan mencapai puluhan miliar dolar.
Memenangkan kontrak EPC – jika FEED yang dimenangkan-nya saat ini dipilih oleh INPEX – akan menjadi “pengubah permainan” (game changer) yang signifikan, mendorong pendapatan dan keuntungan besar selama bertahun-tahun dan memperkuat posisi KBR, Samsung E&A, JGC dan Technip sebagai pemain terkemuka di pasar LNG global – terutama di pasar Asia yang sedang berkembang.
Bagi PT Adhi Karya, hal Ini adalah langkah strategis yang sangat penting. Jika setelah kontrak FEED, konsorsiumnya dengan KBR dan Samsung E&A bisa dilanjutkan dengan kemenangan dalam kontrak EPC, keberhasilan ini akan memvalidasi kemampuannya di luar proyek infrastruktur pemerintah tradisional.
Hal ini juga dapat memberikan jalur keuangan yang vital untuk mengelola beban hutangnya yang signifikan. Dengan kata lain, jika kontrak FEED ini bisa diikuti kontrak EPC, peristiwa ini dapat memiliki potensi transformatif bagi salah-satu anggauta dari Karya Brothers ini.


