^

18 APRIL 2026 – INSIGHT : BBRI ATAU BMRI?

Sat, Apr 18 2026

Mengapa pilih BBRI dan bukan Mengapa JSP lebih memilih BBRI dibandingkan BMRI?

Pertama, meskipun JSP lebih memilih BBRI, JSP tidak pernah mengatakan bahwa BBRI lebih baik dibandingkan BMRI.

Bahkan dengan dieksekusinya dekonsolidasi BRIS di Q1/2026 ini, JSP menyampaikan bahwa hal ini bisa menjadi katalis bagi BMRI.

Estimasi JSP, windfall profit dari remeasurement gain ini (sekitar Rp 28–30 triliun) akan membuat laba BMRI di Q1/2026 melonjak hingga hampir 3x lipat rata-rata laba kuartalan tahun lalu.

Catatan penting: ini adalah one-off non-cash accounting gain, bukan perbaikan earnings power yang berkelanjutan.

Memilih BBRI (dan BBCA) hanya persoalan diversifikasi.

JSP menganggap kedua bank ini (1 swasta, 1 BUMN) dapat mewakili denyut nadi perekonomian Indonesia.

JSP berpandangan, jika Anda percaya kepada Indonesia, emiten bank harus menjadi bagian dari Portfolio.

Memilih BMRI, BBRI, atau BBNI sebagai wakil bank BUMN merupakan masalah sekunder.

Namun, jika harus memberi alasan, butir-butir di bawah ini bisa dipakai sebagai alasan:

a. Pelajaran krisis 1998 dan risiko governance di bank.
Krisis terbesar Indonesia tahun 1998 berasal dari runtuhnya industri perbankan — yang dijadikan kasir oleh pengendalinya.

Tidak ada satu pun konglomerat pengendali bank saat itu yang mampu menyelamatkan bank-nya. Hanya Mu’min Ali Gunawan (yang bukan konglomerat), pengendali Panin Bank, yang selamat dari krisis 1998 itu.

Kelompok Salim (BCA), Syamsul Nursalim (BDNI), Usman Admadjaja (Danamon), Mochtar Riady (Lippo) — tidak ada yang mampu menyelamatkan bank mereka.

Contoh krisis 1998 sudah menunjukkan bahwa menjadi sangat berbahaya jika pemilik Bank merasa mereka bisa melakukan apa pun di Bank yang mereka kendalikan.

Di Indonesia, kedekatan antara pengusaha dengan pejabat bisa membuat sulit posisi manajemen bank BUMN — apalagi jika yang membutuhkan dana itu BUMN lain.

Kalau Presiden meminta Bank BUMN memberikan pinjaman kepada kelompok PT Karya, atau menyuruh mereka memberikan pinjaman ke Garuda, apakah Direksi/Komisaris Bank akan berani menolak?

b. Granularitas portofolio kredit — law of large numbers.

BBRI fokusnya lebih ke UMKM — sehingga besar pinjaman per nasabah relatif kecil, dan proses penyaluran kredit bisa lebih rigid.

Meskipun BBRI juga ikut memberikan pinjaman kepada related parties, angkanya sekitar Rp 154 triliun atau sekitar 10% dari total kredit.

Di BMRI, kredit kepada related parties jumlahnya jauh lebih besar — sekitar Rp 402 triliun, sekitar 22% dari total kredit, atau 2x lipat persentase BBRI.

Berbeda dengan BBRI, fokus BMRI adalah korporasi — big ticket.

Berdasarkan data FY2025, terdapat perbedaan skala yang sangat kontras antara rata-rata pinjaman BBRI (fokus UMKM/Mikro) dan BMRI (fokus Korporasi/Wholesale).

  1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
    Fokus utama BRI adalah segmen Mikro dan UMKM, yang mencakup sekitar 83,86% dari total portofolio kreditnya. • Total Kredit UMKM: Rp 1.042,87 triliun • Realisasi KUR 2025: Rp 178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur • Estimasi rata-rata per nasabah KUR: ±Rp 46,8 juta
    (Angka ini bisa lebih rendah untuk segmen Ultra Mikro/PNM Mekaar yang rata-ratanya di kisaran Rp 5–10 juta, atau lebih tinggi untuk segmen Kecil yang plafonnya hingga Rp 500 juta.)
  2. Bank Mandiri (BMRI)

Meskipun memiliki portofolio UMKM yang cukup besar (Rp 140,1 triliun), kekuatan utama Mandiri tetap pada segmen Wholesale/Korporasi.

•   Total Kredit Korporasi (per 9M2025): melebihi Rp 557 triliun (+12% YoY)

•   Aplikasi Kopra by Mandiri mencatat hampir 300 ribu perusahaan terdaftar (korporasi hingga UMKM value chain)

•   Estimasi rata-rata per grup korporasi: di atas Rp 100 miliar hingga triliunan (Satu fasilitas kredit korporasi untuk sektor infrastruktur atau energi sering bernilai Rp 1–5 triliun per nasabah.)

BBRI : Fokus UMKM & Mikro. Portfolio Utama angkanya senilai Rp 1,042 Trilyun. Skala pinjaman (puluhan juta retail), estimasi Rp 47 Juta/nasabah (segmen KUR). Pinjaman afiliasi Rp 154 Trilyun (10% dari total kredit).

BMRI : Fokus Korporasi & Wholesale. (Data Q3/2025, Wholesale Rp 557 Trilyun). Skala milyaran sampai trilyunan. Rp 250 Milyar/group. Pinjaman afiliasi Rp 402 Trilyun (22% dari total).

Perbedaan rata-rata pinjaman segmen mikro BBRI vs segmen korporasi BMRI mencapai lebih dari 5.000 kali lipat.

Portofolio BBRI bersifat “massal” — jutaan nasabah dengan nilai kecil.

BMRI bersifat “eksklusif” — nasabah terbatas dengan nilai pinjaman yang sangat masif.

Ini adalah law of large numbers sederhana: jika satu nasabah korporasi BMRI macet, nilainya setara dengan kredit untuk 5.000 debitur BBRI. Peluang 5.000 debitur UMKM semuanya macet secara bersamaan, tentu jauh lebih kecil daripada satu grup korporasi macet.

c. Kinerja harga jangka panjang sejak IPO.

Meskipun BBRI saat ini terkoreksi hampir 50% dari tertingginya, return sejak IPO (tanpa menghitung dividen, sudah split-adjusted):

•   BBRI (IPO November 2003): +3.918% atau tumbuh sekitar 40x lipat (harga April 2026: Rp 3.430, setelah stock split 1:2 pada 2011, 1:5 pada 2017, dan Rights Issue jumbo 2021 — 1 lembar saham IPO kini setara 10,25 lembar).

•   BMRI (IPO Juli 2003): +2.638% atau tumbuh sekitar 27x lipat (harga April 2026: Rp 4.620, setelah dua kali stock split 1:2 pada 2017 dan 2023 — 1 lembar saham IPO kini setara 4 lembar).

d. Valuasi saat ini.
P/E keduanya sama-sama di bawah 10x, dan dividend yield sama-sama di kisaran 10%.

Related Posts