Saat ini di JSPortolio ada 2 saham batubara, yaitu ABMM di BEI, yang masuk tanggal 1 Desember 2020, dan BRL di ASX, yang masuk tanggal 7 Oktober di AUD 0.36. Tanggal 19 Oktober kemarin, closing price ABMM di Rp 1,615 dan BRL di AUD 0.90.

Kenaikan harga BRL 150% dan ABMM 115% tentunya tidak terlepas dari harga batubara yang naik tajam dalam setahun ini dari harga $ 60 ke harga $ 200-an. Bahkan harga sempat mencapai $ 260, meskipun saat ini sudah mulai turun ke $ 230.

Kenaikan harga ini akan tercermin dalam laporan keuangan Kwartal III, sehingga gambar perusahaan akan lebih baik. Dengan demikian, sangat mungkin harga saham perusahaan juga dapat lebih tinggi.

Namun demikian, agar selalu diingat bahwa coal company adalah price taker. Kenaikan harga batubara sebesar 300% dalam satu tahun ini merupakan cermin dari karakter klasik cyclical company, yang ditimbulkan oleh disrupsi supply dan lonjakan demand. Namun kenaikan ini tidak akan sustainable dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Trailing Stop untuk kedua saham ini sudah waktunya dipersempit dan dapat mulai diturunkan dari angka 40% menjadi 20%.

China merupakan konsumen batubara terbesar dunia. Apa yang dilakukannya sangat menentukan pembentukan harga batubara dunia. Lonjakan tajam harga batubara, seperti dilaporkan Bloomberg hari ini, sudah dipandang NDRC (The National Development and Reform Commission) sebagai “threatening energy security dan economic growth”. Karena itu, diperkirakan akan ada langkah intervensi untuk dapat menurunkan harga batubara. NDRC menyampaikan, bahwa China merencanakan untuk meningkatkan output batubara sebesar 12 Juta Ton per-hari.

Langkah China ini tidak akan mengubah Laporan Keuangan Kwartal III, sehingga gambarnya tetap lebih baik. Tergantung seberapa besar dan seberapa cepat langkah China ini diresponse pasar, akan menentukan kinerja Kwartal IV. Namun di tahun 2022, diperkirakan harga batubara di atas $ 200 akan sulit dipertahankan.

ACTION : Turunkan angka Trailing Stop untuk kedua emiten batubara ini dari 40% menjadi 20%