Bisnis Global

Indonesia masih beruntung, tidak ada orang yang bisa melenggang di pusat perkantoran, dengan membawa senjata laras panjang, dan berniat membunuh orang, seperti terjadi di Park Avenue, Midtown Manhattan, New York.
Asia Is the Future of Global Market
Dalam 2 dekade terakhir, terjadi pergeseran seismik dalam pangsa pasar pengelolaan dana global (AUM). Global Fund Manager yang tidak melihat Asia akan ditinggalkan oleh pasar global.
2025
Global AUM $36.5T

20 tahun yang lalu, di tahun 2005, Asia Pacific masih “anak bawang”. AUM-nya tidak sampai $1T.
Global AUM $151.2T (CAGR 5%)

Tahun 2025, AUM Asia Pacific (ex-Australia & Jepang) sudah lebih besar dari AUM kawasan Eropa.
Sumber Data: Boston Consulting Group. Data dalam Triliun Dollar. Data Asia Pacific tidak termasuk Australia dan Jepang.
Makro
Berapa umur Anda saat Indonesia bisa keluar dari jebakan MIT?
LAW OF 72 – GDP PER KAPITA

Dengan pertumbuhan 8%, Indonesia bisa keluar dari jebakan MIT tahun 2039 (≈14 tahun lagi). Dengan 5%, terjadi pada tahun 2048 (≈23 tahun lagi). Asumsi World Bank tidak menaikkan batas patokan angka MIT.
*) Proyeksi Menkeu atas dasar proyeksi pertumbuhan GDP 2025. Bisa direvisi di tahun-tahun berikutnya.
Keuangan
Earnings Season
UBSG
Net Income, $2,4 Miliar, lebih besar dari estimasi ($2,21 Miliar). EPS, $0,72, naik 111,7% (yoy). Untuk 6 bulan ini, EPS naik 43%. Aset meningkat 7%, menjadi $1,65 Triliun. Underlying Cost/Income Ratio 75%. Global Wealth Management mencatat dana masuk $54,8 Miliar. Rencana shares buy back sampai $2 Miliar akan diteruskan di Sm-2/2025. Hold di Core Stock.
BBCA
Total Pendapatan (3 bulan, Q2), Rp 24,95 Triliun, naik 2,4% dari Q1/2025. Untuk 6 bulan, Pendapatan Sm-I/2025, naik 7% (yoy). Terjadi penurunan pertumbuhan di Q2/2025 dibanding pertumbuhan di Q1/2025. Pertumbuhan pendapatan di Sm-I, 7%, lebih kecil dari pertumbuhan beban bunga dan syariah, 8,8%. Beban kerugian penurunan aset, naik 43%. EPS naik 7,8% (yoy) ke Rp 235. Angka kenaikan ini juga menunjukkan tren penurunan pertumbuhan EPS. Di Q1/2025, EPS BBCA masih tumbuh 10,5%. Hold di Core Stock.
MSFT
Post-trading, MSFT naik sekitar 8%, yang didorong oleh kenaikan Laba dan Revenue yang lebih baik dari estimasi. EPS naik $3,65 (angka estimasi $3,37), naik 23,7% (yoy). Revenue, $76,4 Miliar (estimasi $73,9 Miliar), naik 18,1% (yoy). Azure menjadi bintang, tumbuh 39% (yoy). Full Year (tahun fiskal MSFT ditutup setiap akhir Juni), laba mencapai $101 Miliar. Hold di Core Stock.
BIRD
Sales untuk 3 bulan Q2/2025, Rp 1,39 Triliun, naik 51% dari Q1/2025. Sales Sm-I, Rp 2,67 Triliun, naik 14,7% (yoy), turun sedikit dari pertumbuhan yang terjadi di Q1/2025, 16,1% (yoy). Gross Margin membaik (33,2%) dibanding tahun lalu (31,7%). EPS tumbuh 27,6%. Dengan PEG Ratio sekitar 0,3×, BIRD bisa diakumulasi di bawah harga Rp 2.000.
Investasi
Artificial Intelligence
AI tidak hanya perlu chips, tetapi juga energi. “One of the biggest issues for data centers now is where you can get the power,” kata Acconcia, partner Arclight PE, kepada WSJ. Dalam 6 bulan ini nilai investasi terkait natural gas plant mencapai $49,15 miliar. Meningkat tajam dari tahun lalu ($4,34 miliar, data Enverus).
Edison Electric Institute: “utilities will invest nearly $203 billion each year in 2025 and 2026”

Who Pays? AI Boom Sparks Fight Over Soaring Power Costs
Data Centers di negara bagian Virginia, salah satunya milik Amazon (gambar), melayani “70% of the world internet traffic”. Transformasi AI mendorong US Big Techs membangun AI data centers. CapEx AMZN, GOOG, dan MSFT tahun 2025 ini mencapai $265 miliar. Ketiga perusahaan ini juga akan membangun infrastruktur AI-nya di Indonesia. Jadi, bisa mulai ditanyakan: Siapa yang akan menjadi partner lokalnya? Siapa yang akan memasok energinya? Di lahan properti siapa mereka ini akan membangun infrastrukturnya?
Migas (Stabroek vs Indonesia)

Ladang Stabroek di Guyana telah mengubah Guyana. Pendapatan dari minyak meningkat 60× lipat dalam lima tahun terakhir.
Kenaikan ini telah meningkatkan GDP/kapita Guyana menjadi 5× lipat ($33.000) dalam lima tahun ini.
Dengan cadangan 11 milyar BOE, valuasi Stabroek mencapai $53 milyar*.
Cadangannya tidak sebesar Stabroek (11 milyar BOE/barrel oil equivalent). Menurut emiten (Gb 2) “a potential billion-barrel equivalent”. Valuasinya tidak $53 milyar, tetapi di bawah $50 juta.
Ini bukan di Guyana, melainkan di Indonesia


Bedanya dengan Stabroek, yang sudah produksi, ladang MicroCap ini, selain yang di Kruh Block, masih belum sampai tahapan produksi. Selain itu, pengendali Stabroek (Exxon, Chevron, dan CNOOC) dipastikan memiliki kantong tebal. Lain halnya dengan pengendali MicroCap ini. Mereka diperkirakan tidak memiliki kemampuan dana yang memadai untuk bisa merealisasikan potensi cadangan migas yang dimilikinya. Pengendali pasti harus mencari Big Boys.

Ini bukan investasi, tetapi lebih merupakan spekulasi. Oleh sebab itu, jangan alokasi lebih dari 1% dana di portfolio. Jika proses dari eksplorasi ke eksploitasi gagal, hilangnya dana tidak harus membuat Anda susah.
Emiten akan memerlukan dana ratusan juta dollar untuk dapat beralih dari tahap eksplorasi ke tahap konstruksi dan produksi.
Jika ada big boys yang berminat berpartisipasi, double atau triple digit return bukan hal mustahil. Sebaliknya, jika tidak didukung big boys, pengendali emiten ini tidak memiliki kemampuan dana memadai — dan cadangan migas yang besar itu hanya berhenti di atas kertas. Tidak bisa dilakukan monetisasinya, dan hasil emiten ini akan berwarna merah. Prosesnya akan berjalan bertahun-tahun.
The choice is yours.
Opportunity di Emiten BEI
Dalam 5 tahun ini (2020–2024), sektor dari emiten ini menjadi sektor terburuk di BEI. Sektor yang paling merana ini turun lebih dari 40% — 2× lipat angka penurunan sektor ke-2 terburuk. Hal ini bisa memberi gambaran ekstrimnya penurunan yang terjadi di sektor ini dalam 5 tahun terakhir.

Kinerja buruk sektor ini berbeda dengan kinerja usaha emiten ini. Dalam 5 tahun, CFO yang dihasilkannya mencapai Rp 12,3 Triliun. Tidak heran kalau posisinya Net Kas dan bisa melakukan tender offer obligasinya dengan harga di bawah Par. Emiten ini berbeda dari koleganya. EBITDA margin dari “recurring revenue”-nya 88%, Hermes dan Nvidia saja “hanya” 70,3% dan 75%.
Merananya sektor ini membuat valuasinya hanya setara PER < 8×, dengan cash operating yield 16%, PBV < 1×, dan PEG Ratio < 1×.
Waktunya memasukkan lagi small-cap di sektor yang paling merana di BEI ini. Sebelumnya emiten ini sudah berulang-kali keluar masuk, dan memberikan return cukup baik.
Harga saat ini, yang jauh di bawah harga saat dilakukan profit-taking, menjadi anomali dengan langkah BI yang mulai berani menurunkan bunga.
Thesis investasinya sudah diposting di website jsportfolio.id


