By T. Kopiholic

Syarat ketika akan berinvestasi di pasar modal, salah satunya adalah “memakai uang dingin”. Apa definisi uang dingin? Yang sering menjadi pegangan saya adalah apa yang pernah dan sering disampaikan oleh Pak Joel; uang dingin adalah uang idle yang tidak dipakai setidaknya dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Entah itu untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, atau pun lainnya. Jadi benar-benar “uang nganggur”.

 Kenapa harus memakai uang dingin? Hal ini tentunya berkaitan dengan psikologis; yaitu perlunya KETENANGAN dalam bereaksi atas apa yang terjadi di market. Karena sebagaimana kita tahu, market seringkali bertindak irasional. Saham berfundamental bagus, GCG baik, laba dan dividen konsisten naik tiap tahunnya, tapi market justru menghukumnya dengan penurunan lumayan ketika laporan keuangan dipublished, katakanlah 15%-20%.

Apakah ada yang seperti ini? Ada! Ya demikian lah market. Maka Anda salah ketika sudah memutuskan membeli suatu saham, yang menurut perhitungan di atas kertas semua memenuhi syarat sebuah perusahaan dikatakan baik, dan berharap pekan depan atau bulan depan harganya harus naik. Tidak demikian. Market bisa bertindak di luar nalar. 

Bayangkan kalau Anda memakai uang panas, uang yang masih dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari. Misalkan Anda beli saham hari ini. Kemudian satu bulan setelah beli saham tersebut, ada rumor negatif. Entah itu kenaikan suku bunga acuan, kurs dollar naik, atau direktur perusahaan yang Anda beli sahamnya berurusan dengan KPK misalnya, yakinlah bahwa seringnya market akan menghukum saham tersebut secara kejam. Katakanlah, saham yang Anda beli turun 30% hanya dalam waktu satu bulan. Dan pada bulan berikutnya, Anda membutuhkan uang tersebut untuk melunasi hutang yang jatuh tempo, misalnya. Hal yang sering terjadi, dan ini pernah pula saya alami, psikologis menjadi kacau.

Cutloss gak ya? Kalau tidak cutloss, jangan-jangan malah tambah dalam iin turunnya? Menjadi mudah goyah dengan keyakinan diri sendiri. Ketika psikologis sudah kacau, tidak tenang, maka tindakan yang diambil pun seringnya ngawur; menjual di mana seharusnya membeli/menambah porsi kepemilikan saham. Hal ini tentu bertolak belakang bila kita memakai uang dingin. Ada pun alasan kenapa memakai time frame tiga tahun karena kalau kita melihat sejarah yang ada di pasar modal Indonesia, dalam rentang waktu tiga tahun tersebut selalu diiringi dengan koreksi. Baik itu koreksi kecil maupun besar.

Namun memakai uang dingin saja kurang lengkap bila tidak tepat mindset-nya. Misal, sering kan kita dengar ungkapan: “Uang dingin itu adalah uang yang siap hilang.”“Ah, tidak mengapa lapkeu-nya jelek dan harga saham turun, toh saya pakai uang dingin. Nanti juga bakal naik sendiri. Nanti LK-nya juga akan baik.”“Gak papa langsung pakai jumlah besar, toh ini uang dingin, uang tidak dipakai untuk kebutuhan mendadak.”Dan masih banyak ungkapan semisal.

Hal yang perlu diluruskan adalah, jangan sampai kita menganggap uang dingin itu sama dengan uang yang siap hilang. Tidak demikian maksudnya. Kalau sedari awal tertanam keyakinan “siap hilang” terlebih dahulu, dikhawatirkan Anda menjadi tidak serius. Maksudnya, tidak serius dalam melakukan analisa atas suatu saham yang akan dibeli. Kalau sampai hal ini terjadi, kan kurang lebih sama seperti tebak-tebak buah manggis, “Ah moga-moga saja bulan depan harganya naik bisa saya jual. Kalau pun turun, gak papa, wong uang dingin. Rugi (cutloss) pun gak masalah, wong uang dingin.”

Jangan sampai hal seperti ini terjadi. Anda menjadi tidak peduli dengan perusahaan yang dibeli. Mau LK-nya sudah tidak sesuai dengan thesis awal, bodo amat. Kan uang dingin? Mungkin sebagian orang akan menyatakan bahwa membeli saham bisa diibaratkan suatu permainan, yang bisa jadi menang, kalah atau draw. Tapi ingat lah, meski itu sebuah permainan, namun Anda harus bermain dengan serius! Dengan serius mengikuti aturannya, peluang untuk menang menjadi lebih besar.

Patuhilah aturan mainnya layaknya Anda bermain sepak bola. Yang mana meski hanya bermain dengan teman-teman, kalau hands-ball, maka free kick. Kalau bola keluar lapangan, maka lemparan ke dalam. Itu permainan, tapi Anda harus tetap patuh pada aturan permainan tersebut.Hal berikutnya yang disarankan adalah, jangan sampai baru di awal-awal terjun di pasar modal, langsung menggunakan jumlah dana yang besar, dengan beralasan “ini uang dingin”. Percaya lah, seorang Usain Bolt pun untuk menjadi manusia tercepat di dunia, memulainya juga dari yang kecil-kecil.

Mimpi boleh besar, tapi langkah dibangun dari yang kecil-kecil terlebih dahulu.Taruh lah, misalkan dana 100 juta menurut hitungan Anda adalah besar. Bila Anda baru terjun ke pasar modal, kemudian langsung pergunakan semuanya, dan market menuju periode bearish, sedingin apa pun uang tersebut pasti akan mengganggu psikologis! Ingat, sikap irasional market seringnya lebih panjang dibandingkan kesabaran kita.

Maka yang logis, pergunakanlah sebagian kecilnya (misal 20% saja terlebih dahulu, sisanya simpan sebagai dry powder). Gunakan 20% itu sebagai “biaya pendidikan”. Sebagai sarana agar bisa merasakan denyut nadi market seperti apa. Hilangkan perasaan ingin cepet kaya! Kemrungsung kalau kata orang Jawa Timur. Semakin terobsesi ingin cepat kaya dari pasar modal, semakin kacau psikologis Anda. Perasaan menjadi tidak tenang, dan keputusan yang diambil seringnya kurang tepat. Karena kalau ingin cepat kaya, meja judi jauh lebih menarik dan menantang. Sayangilah dan kelola dengan baik uang Anda. Sedingin apa pun uang tersebut, toh itu merupakan hasil kerja Anda. Hormatilah uang Anda! Jangan sampai menderita kerugian yang besar dikarenakan ketidak-seriusan (baca: main-main) dalam memperlakukan uang tersebut. Bagaimana kita menghormati dan menyayangi uang, biasanya demikian pula uang akan memperlakukan kita.

Happy investing. 


Skip to toolbar