By Aliyah Natasya

New normal market behavior

Krisis corona-19 melahirkan banyak orang kaya baru. Banyak investor di luar sana yang telah menunggu moment kejatuhan harga saham dan menanti waktu tepat untuk mengambil posisi tepat di Maret setahun lalu.

Saham-saham pilihan di JS portfolio pun sudah beranjak naik, dengan posisi 8 saham telah meraup keuntungan 100 persen. Bukan berdasarkan spekulasi namun tepat dengan menghitung valuasi. Thanks to Pak Joeliardi.

Metode value investing mengasah kemampuan kita menghitung, mencari news dan make a good business strategy sembari menunggu waktu yang tepat untuk kapan perusahaan bisa menunjukkan valuasi yang wajar dan tepat.

Behavior ini menjadi falsafah ajaran Benjamin Graham dan Warren Buffet.

Di sisi lain, banyak yang mengikuti aliran trading. Mencari cuan dalam hitungan yang lebih cepat. Harian atau mingguan selama bisa meraup cuan, transaksi terus berjalan. Secara resiko bisa dikatakan aliran trader beresiko sangat tinggi.

Apa yang menjadi alasan para trader ini mengejar cuan dengan trading selain news yang sedang menjadi highlight. Sudah tidak heran jika petuah, “buy on rumors and sell on news. Spekulasi menjadi kekuatan utama, lain dengan menggunakan aliran valuasi.

Hal-hal yang memiliki fundamental kuat kurang bisa diterima oleh kaum Young Millenials dan Gen Z, waktu bukanlah sahabat mereka. Generasi ini tumbuh dalam percepatan waktu, ditempa dengan the power of technology yang memungkinkan segala sesuatu bisa diproses dengan cepat.

Menurut saya, generasi ini lebih mudah menerima trend hype dibanding dengan kekuatan valuasi yang hasilnya terasa seriing perjalanan waktu. Di tengah pandemi corona ini mereka membentuk new normal market behavior, yaitu the non fundamentalist.

Kerajaan Cryptoicoin membuktikan kehebatannya. Dengan mengutamakan aliran open transparancy ledger system, Bitcoin sebagai pioneer digital coin ini membuka mata untuk otonomi kekuatan rakyat dunia. Yang tidak melihat kekuatan GDP negara, cadangan devisa dan juga sistem pemerintahan.

Rasanya, market dan sebagaian investor crypto di belahan negara manapun tidak lagi memerlukan penjelasan struktural untuk kekuatan digital coin. We called it the bubble. Bagaimana sebuah asset crypto tanpa sisi fundamental bisa menarik untuk market bahkan Bitcoin sendiri, pioneer dari crypto galaxy ini menuai all time highnya di 2021.

This is the new normal market behavior. The rising of non fundamentalist.

Dalam chart ini, harga Bitcoin di Oktober 2013 di angka U$118 per Bictoin dan harga hari ini pada 11 April 2021 sudah di angka U$ 60.000 per coin. kurang lebih dalam tujuh tahun terakhir naik 600 kali lipat bukan 600 persen.

Chart ini juga menunjukkan jika kenaikan Bitcoin justru makin melonjak setelah pandemi Covid terjadi. Melewati level all time high di 2018.

Chart diambil dari coindesk.com

Namun artikel ini bukan menceritakan keindahan ratusan persen kenaikan Bitcoin. Namun kelahiran dari market non fundamentalist, sebuah bentuk perilaku market yang tidak lagi memerlukan logika.

Jika masa Wealth Management terdahulumengangkat high premium art dan vintage wine menjadi bagian dari investasi kaum ultra high net worth, the new corona investor memiliki aliran non fundamentalist yang berbeda. Tidak heran dengan semakin banyaknya status World’s Billionaire yang dicapai di usia 30an.

New Behavior of One of A Kind Digital Art

Selain Bitcoin, kehadiran NFT yaitu Non Fungible Token. Sebuah data yang terbuat dari kode unik yang hanya ada satu di dunia, one of a kind. Ambil contoh, jika kamu collector Hermès dan memiliki tas kolaborasi  Ginza Tanaka Hermès Birkin yang harganya U$ 1.9 juta dollar menjadi kebanggan tersendiri, NFT adalah bentuk collectible items yang hanya cuma ada satu dalam dunia walaupun itu adalah dunia digital.

Tahun 2021 ini trend NFT semakin bersinar, walaupun pembeliannya lebih didasarkan kepada spekulasi namun dengan semakin banyaknya selebriti yang turut menjual cipta karya digital, booming NFT ini semakin menggila.

Sebut saja, The Weekend yang baru saja menjual unrelased music karyanya seharga $2.29 juta Dollar dalam bentuk NFT. Penjualan tersebut dilakukan di NFT market place, Gemini. Disini juga Calvin Harris, Steve Aoki juga menjual karya musik NFT mereka.

Berlanjut ke lima NFT termahal di dunia (data di ambil per tanggal 8 April 2021)

Di posisi ke lima adalah, sebuah tweet pertama dari akun Twitter CEO nya Twitter Jack Dorsey yang bertuliskan,”just setting up my twttr.”ini berhasil terjual di harga U$ 2.9 juta dollar. Tweet simple ini bisa dihargai hingga Rp 50 miliar, katakanlah seharga sebuah rumah di Pondok Indah Jakarta Selatan.

Posisi ke-4 adalah hasil karya Digital Artist, Mike Winkelmann yang terjual di harga U$ 6.6 juta dollar.

Di posisi ke dua dan ke tiga merupakan karya CryptoPunk yang masing-masing terjual di harga U$ 7.57 juta dollar dan U$ 7.58 juta dollar.

Namun harga NFT termahal di dunia saat ini terjual dalam lelang digital pertama yang dilaksanakan oleh rumah lelang Christie. sebuah digital art berjudul Everydays- The first 5000 days di harga U$ 60 juta dollar. 

Gambar digital, The First 5000 days 

Untuk diri saya sendiri, saya masih kesulitan menerima this new market behavior. Tidak realistis. Tapi semakin lama akal sehat saya dipengaruhi dengan kekuatan berita yang menceritakan berbagai financial institution dunia seperti Visa dan Mastercard juga turut menciptakan infrastruktur permbayaran dengan digital coin.

Central Bank di Negara Swedia yang juga mulai menciptakan digital currency nya yang dinamakan, E-Krona. Jika proyek ini sukses berjalan, akan melengkapi bentuk transaksi pembayaran dan juga melindungi nilai mata uang Swedia (Krona) terhadap perkembangan cryptocurrency.

Buat saya sendiri dunia, Cryptocurrencies, Digital Art NFT, dan mata uang E- Krona ini masih sulit diterima. How come they become so huge and super pricey? Tapi apa yang masuk akal dalam dunia investasi.

Sometimes, the price never reflect the real price.

Pak Joeliardi beberapa kali juga mengingatkan, perubahan harga dalam hitungan detik, menit dan hari juga tidak bisa menjustifikasi the actual price dari pergerakan nilai perusahaan. Tapi di satu sisi saya juga mencoba melihat the opportunity of risk jika saya tidak segera mengalokasikan sebagian kecil diversifikasi portfolio saya ke dalam bentuk Cryptocurrency.

Some part of me called myself a speculatr but some part of me also remind me the quotes from Charles Darwin, “It is not the strongest or the most intelligent who will survive but those who can best manage change.”

Skip to toolbar