by Juanita Wiratmaja

Koreksi Intai Wall Street?
Sejak anjlok dan menyentuh “bottom” pada 23 Maret 2020 lalu, 3 indeks utama di Amerika Serikat terus melaju kencang. Per 6 April, Nasdaq sudah naik 100 persen, sedangkan S&P 500 dan Dow Jones melesat 82% dan 80%. 
Namun, belakangan beberapa opini muncul ke permukaan mengingatkan adanya potensi koreksi di Wall Street. 
Mengutip CNBC, Vice Chairman Blackstone Private Wealth Solutions, Byron Wien memproyeksi koreksi akan terjadi, sebelum Wall Street melanjutkan rally-nya dan saham-saham menutup tahun di level lebih tinggi dari sekarang.

Byron Wien memprediksi inflasi akan naik lebih cepat dari proyeksi, yang akan mendorong The Fed mulai mengetatkan kebijakan moneter dan berpotensi memicu aksi jual di pasar saham. Wien mengatakan, “Pasar sudah mulai mahal, dan dalam pandangan saya, risiko suku bunga tinggi ada di depan mata.”


Namun, Wien meyakini, walaupun terjadi koreksi, S&P akan tetap bisa ditutup di atas level saat ini, yaitu level 4.500 pada akhir 2021.
Senada, penulis di Motley Fool, Sean Williams, juga menangkap sinyal koreksi yang sama.


Beberapa bulan terakhir, Wall Street khawatir soal kenaikan yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun. Pelaku pasar waswas Bank Sentral AS akan mempertimbangkan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan. Investor khawatir akan potensi meningkatnya ongkos untuk pembiayaan, sehingga bisa menekan kapasitas pembiayaan dan prospek pertumbuhan perusahaan perusahaan teknologi yang selama ini menjadi motor kenaikan pasar saham.


Sinyal lain terbaca dari valuasi saham. Selama 150 tahun terakhir, hanya ada 5 kejadian di mana S&P 500 Shiller P/E Ratio menyentuh dan bertahan di atas angka 30. Pada 4 kejadian sebelumnya, saat S&P 500 Shiller P/E Ratio menyentuh 30, indeks melemah 20%-89%. Sementara per 6 April lalu, S&P 500 Shille P/E Ratio hampir sentuh 36,7. Hmmm… Meskipun diyakini, kalaupun koreksi terjadi, pelemahannya tidak akan terlalu dalam.


Kekhawatiran lain datang dari varian baru virus corona. Kemunculan varian-varian baru virus corona ini mengancam keberhasilan vaksinasi. 


Lalu jika koreksi mengintai Wall Street, apa yang bisa dilakukan investor?Menurut Sean Williams, penulis di Motley Fool, investor bisa melakukan 3 hal ini:

1) Menyadari katalis negatif selalu membayangi dan tak perlu reaksi berlebihan
Tetap rileks dan menyadari selalu ada sentimen negatif yang bisa membuat market melemah. Baik di saat resesi, maupun saat ekonomi melaju kencang, tak ada masa yang benar benar tenang dan bebas dari nyala sinyal peringatan satu atau yang lain. Investor perlu menyadari kejatuhan atau koreksi pasar merupakan siklus normal dari pasar.


2) Evaluasi Portofolio
Evaluasi lagi portofolio dan cek lagi thesis atau reasoning di balik setiap saham yang ada dalam portofolio. Lihat lagi alasan mengapa membeli saham sebuah perusahaan. Bisa saja koreksi pasar tidak mempengaruhi kinerja atau fundamental perusahaan yang sahamnya kita koleksi. Dengan mengingat kembali alasan membeli suatu saham, akan lebih mudah tetap memegang saham bagus di tengah gejolak pasar.


3) Siapkan Uang Kas, saat Kesempatan Datang. Bangun posisi kas yang sehat, sehingga kita bisa mengambil keuntungan saat pasar lagi anjlok. Walaupun S&P 500, Nasdaq, Dow Jones sepanjang sejarah berulang kali mengalami koreksi double digit, tapi koreksi ini selalu terbayarkan setiap pasar rally usai pemulihan. Jadi jika terjadi koreksi, berterima kasihlah, karena kita diberi kesempatan untuk membeli perusahaan bagus dengan harga diskon.


Tak hanya analis, perencana keuangan kawakan Suze Orman juga mengatakan ia mencium hawa-hawa kurang enak. Menurutnya, pasar saat ini mengingatkannya pada dot-com bubble tahun 2000-an. Tapi tujuan Suze Orman bukan untuk menakut-nakuti. Dia justru mengingatkan investor untuk bersiap-siap karena saham-saham akan diskon! Apa saja strategi yang bisa dilakukan investor saat pasar anjlok?
– Beli di Harga Murah

Kita mengharapkan pasar terus naik-naik, tapi saat pasar koreksi, sebenarnya investor punya kesempatan untuk membeli saham dengan harga murah. 


– Berinvestasi secara Rutin dan Teratur Investasikan uang secara berkala, terlepas dari pasang surut pasar (dollar cost averaging)– Diversifikasi Investasi

 Salah satunya bisa diversifikasi dengan berinvestasi juga di ETF.  Suze Orman tetap menekankan pentingnya emergency fund atau dana darurat untuk biaya hidup selama 1 tahun.

Bagaimana dengan IHSG?
Pasar domestik tentu tak lepas dari pengaruh sentimen global. Volatilitas di pasar saham Indonesia masih cukup tinggi. Salah satunya terkait sentimen kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Hal ini membuat arus modal asing keluar meninggalkan emerging markets, seperti Indonesia. Dari domestik, musim pembagian dividen juga belum mampu mengungkit IHSG untuk rally. Karena memang dividen yang dibagikan lebih kecil dari tahun tahun sebelumnya. Nilai transaksi di bursa juga cenderung ke rata-rata 8-9 triliun per hari. Sejumlah analis menilai saat ini pasar saham dalam fase konsolidasi cenderung ke arah downtrend dengan support di area 5892 – 5735 dan resisten 6195 – 6281. Wait and see?
Jika memang IHSG arahnya akan terkoreksi, bagaimana respons Anda? 

Skip to toolbar