MEMETIK BUNGA YANG BELUM MEKAR – T.Kopiholic

Sebanyak apa pun buku yang dibaca, seberapa sering pula diskusi dengan mentor, dan seberapa banyak pula seminar yang diikuti, tak akan bisa menggantikan satu pengalaman berharga yang dialami.HaRUM, yang tak seharum namanya, at least bagi saya pribadi. Setiap kali disebut si HaRUM, menjadi sebuah kenangan yang tak akan pernah saya lupakan. Ada semacam “memori pahit” setiap kali HaRUM disebut.Kali pertama menginisiasi HaRUM ketika harga sekitar 1300-an. Itu setelah saya “insaf”. Setelah saya mulai belajar berinvestasi dengan benar.

Beruntung saya bisa membaca tulisan-tulisan Pak Joeliardi secara gratis di sebuah platform komunitas saham. Kisah HaRUM pun pernah pula dituliskan beliau ketika mendapat 3-bagger. Apa yang mendasari pembelian saya atas HaRUM? Di perhitungan saya kala itu, dengan menggunakan metrik Enterprise Value, yaitu Market Cap ditambah Hutang (yang menimbulkan beban bunga) kemudian dikurangi Kas dan Setara Kas, saya dapatkan angka yang mendekati nol. Harga yang saya bayarkan kecil sekali. Ini peluang, pikir saya.Beberapa waktu kemudian datanglah badai covid-19.

Saya ingat, ketika itu Pak Joeliardi menulis “de javu”. Apa yg dimaksud de javu oleh beliau? Yaitu si Ning HaRUM ini! Yaitu bahwasanya enterprise value HaRUM senilai NOL RUPIAH. Persis seperti tulisan kali pertama beliau September 2015. Silahkan dibaca di buku CSBPM volume 1, di bagian terakhir. Saya sempat bertanya kepada beliau, “Bener nih Pak, HRUM nol rupiah lagi?”, yang dijawab singkat oleh beliau, “And you know what to do.” Saya menambah porsi di HRUM di harga 1000 sekian Fast forward, ketika gelontoran dana dari cetak duit Amerika mulai membanjiri market. Harga komoditi mulai merangkak yang tentu diikuti pula oleh naiknya harga saham. Termasuk neng HaRUM. Sedangkan dana saya sudah kekuatan penuh di saham. Hanya ada 5% cash.

 Saya mulai berfikir untuk mengurangi porto, menyeimbangkan antara saham dan cash. Saya lihat keseluruhan emiten. Dari sektor apa saja, dan sub-sektor apa. Dan saya lihat bahwa over-weight di coal. Baik dari jumlah emiten, maupun alokasi dana. Ada tiga emiten coal yang saya pegang. Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk melepas HRUM. Pertimbangannya adalah bahwa di antara emiten yang saya pegang, hanya HRUM yang tidak membagikan dividen di tahun 2020. Tidak ada masalah apa pun dengan fundamentalnya, sebatas yang saya tahu. Alasan menjual murni karena untuk menyeimbangkan saham dengan cash.

 Ketika melepasnya, saya sudah tahu bahwa HRUM membeli perusahaan nikel di Australia. Tapi waktu itu belum ada “good news” tentang nikel yang dipromotori oleh Elon Musk dengan Tesla-nya. The rest is history, dan terjadilah apa yang terjadi. HRUM “mengamuk” bahkan sampai menyentuh harga 7000. Dan saya hanya bisa memandangnya sambil ngelus dada.

Dari kejadian ini saya belajar beberapa hal.Yang pertama, jangan pernah memetik bunga yang belum atau baru mulai mekar. Imbal hasil 50%-70% dalam waktu tidak ada setahun tentu suatu hasil yang luar biasa. Saya kira semua sepakat. Tapi ketika melihat harga yang terus melaju sampai 4-bagger, rasanya seperti menangis tak berdarah. Heheheeeee….

Kedua, ketika melakukan re-balancing, sehingga terpaksa harus menjual sebagian saham, maka saya tidak akan pernah lagi menjual seluruhnya selama fundamentalnya tidak berubah. Ketiga, free-riding. Apa maksudnya? Misalkan saham yang kita punya sudah mencapai kenaikan 100% (1-bagger), maka jual 50%-nya. Dengan begitu kita sudah free-riding. Mau naik mau turun, sudah masa bodoh. Hati pun sudah tenang. Kalau naik, alhamdulillaah. Kalau pun turun, toh modal kita sudah kembali. Terlebih bila emiten tersebut rutin membagikan dividen. Seperti mendapatkan uang gratis.

Free-riding, bukan saja dilakukan ketika sudah 1-bagger. Hal ini bisa kita lakukan bahkan seandainya pun baru mencapai kenaikan berapa saja. Terpenting, modal kita kembali. Hal ini yang sekarang menjadi pedoman bagi saya ketika memutuskan untuk menjual saham dikarenakan ingin menyeimbangkan antara saham dengan cash. Ingat, bahwasanya syarat utamanya, tidak ada perubahan fundamental. Kalau fundamental sudah berubah, dan menuju arah lebih jelek, tentu dilepas semuanya menjadi sebuah kewajiban.Semoga bermanfaaat bagi teman-teman semua. 

Skip to toolbar