Dalam beberapa catatan terakhir di IG, istilah Earning Yield ini sering ditulis. Meskipun istilahnya sendiri mungkin jarang kita pakai sehari-hari, namun earning yield ini pasti telah seringkali bersentuhan dalam kegiatan kita sehari.

Jika kita memiliki uang Rp 1 Juta, dan lantas disimpan sebagai deposito atau tabungan dengan bunga 4%, maka bunga 4% ini adalah earning yield kita. Begitu pula, kalau uang 1 juta itu kita belikan SUN dengan kupon bunga 7%, maka kupon bunga 7% itu adalah earning yield kita.

Jika kita membeli apartemen seharga Rp 1 Milyar, yang lantas kita sewakan, maka setelah uang sewa diperhitungkan dengan semua biaya terkait sewa apartemen, kita mendapatkan hasil bersih, misalnya sebesar Rp 75 Juta per-tahun, maka 7.5% itu (Rp 75 Juta dibagi Rp 1 Milyar) adalah earning yield kita. 

Jika ada perusahaan yang earning per-share-nya Rp 100, yang bisa kita beli di harga Rp 1,000, maka Earning Yield kita adalah Rp 10% (100 dibagi 1,000). Earning Yield adalah kebalikan atau inverse dari angka PE Ratio.

Dari tiga prinsip dasar investasi, 1) membeli saham yang baik, 2) membelinya di harga yang baik, serta 3) memberikan waktu yang memadai bagi bekerjanya investasi kita itu, maka earning yield ini terkait dengan butir 2) membelinya di harga yang baik.

Harga yang baik adalah harga yang dapat memberikan earning yield yang tinggi. Lebih tinggi earning yield, tentu lebih baik.

Oleh karena PE Ratio merupakan angka kebalikan dari Earning Yield, maka lebih rendah PE Ratio yang kita bayar, maka tentu lebih baik. PE Ratio yang rendah sering datang, pada saat pasar sedang tidak disukai, atau sedang timbul masalah. Masalah itu bisa datang dari individu perusahaan, bisa juga terjadi secara berjamaah di pasar.

Dengan pemahaman ini, maka kita bisa membedakan karakter earning yield dari instrumen pendapatan tetap (deposito atau SUN dan obligasi) dengan earning yield yang dapat dihasilkan sebuah perusahaan.

Earning Yield deposito atau SUN sifatnya tetap. 4% atau 7% ya tetap 4% atau 7%. Kita tidak bisa mengharapkan earning yield itu berubah.

Lain halnya dengan perusahaan. Earning Yield, atau PE Ratio, terdiri dari dua variabel, yaitu Earning (EPS) dan Harga. Harga yang kita bayarkan sudah given. Sudah terjadi pada saat harga itu kita bayar. Oleh sebab itu, supaya tidak menyesal, pastikan waktu membayar harga itu, kita tahu mengapa kita membayar saham tersebut di harga itu.

Jika perusahaan dalam tahun-tahun mendatang menghasilkan laba yang lebih tinggi, maka earning (EPS) tentu menjadi lebih tinggi lagi. Dengan demikian, karena harga sudah tetap karena sudah kita bayar, earning yang lebih tinggi ini menjadikan kita bisa mendapatkan Earning Yield yang lebih tinggi. Dan melalui kalimat di atas, kita sudah tahu : Makin tinggi Earning Yield itu, makin baik. 

Jika Earning Yield 4%, seperti bunga deposito, kalau bunganya dimasukan lagi di dalam deposito, maka dalam waktu 18 tahun hasilnya akan sama dengan dana pokok awal kita.

Jika Earning Yield 7%, seperti bunga SUN, dan bunganya lantas ditanamkan lagi di SUN, maka dalam waktu 10 tahun 3 bulan, hasilnya akan sama dengan dana pokok awal kita.

Jika kita bisa membeli saham saat ini dengan Earning Yield 12% maka waktu yang dibutuhkan untuk hasil itu mencapai angka pokok, akan lebih pendek lagi, menjadi 6 tahun. 

Oleh karena earning (EPS) perusahaan, seperti telah dituliskan di atas, bisa lebih tinggi – dan menghasilkan Earning Yield lebih tinggi, maka waktu yang dibutuhkan untuk hasilnya mencapai dana pokok awal kita. Jika Earnig Yield itu menjadi 20%, waktu yang dibutuhkan menjadi 3 tahun 7 bulan saja.

Apa yang akan terjadi jika Earning Yield yang kita dapatkan itu (atas dasar harga yang kita bayar hari ini, 12%), menjadi lebih tinggi, katakanlah naik ke 20% atau bahkan 30%? Tentu saja pasar tidak akan membiarkan hal ini berlangsung terjadi dalam waktu yang terlalu lama. Sebelum hal ini berlangsung terlalu lama, niscaya pasar akan “mengoreksi” terjadinya hal itu.

Bagaimana cara pasar untuk dapat mengoreksi hal ini? Seperti dikatakan di atas, ada dua variabel dalam Earning Yield, yakni Earning (EPS) dan Harga. Dengan demikian, apabila Earning itu meningkat, maka otomatis Harga akan meningkat. Bukankah meningkatnya harga itu yang menjadi idaman setiap investor?

Tapi, mungkin begitu kata Anda, perusahaan kan tidak selalu setiap tahun earning-nya meningkat?

Itu sebabnya, selain prinsip investasi nomor 2) ini, diperlukan prinsip nomor 1) perusahaan yang baik. Salah satu kriteria dari karakter perusahaan yang masuk kelompok 1) ini (perusahaan yang baik) adalah “yang secara konsisten berhasil menunjukan peningkatan kinerjanya”.

Dibutuhkan waktu agar perusahaan dapat menunjukan kinerja secara konsisten. Itu sebabnya ada prinsip nomor 3) perlunya waktu yang memadai untuk bekerjanya investasi itu, yang bisa melengkapi prinsip nomor 1) dan 2).Jadi kata siapa, berinvestasi di pasar modal itu sulit?

Salam,

Joeliardi Sunendar

Skip to toolbar