By Joeliardi Sunendar

BERANDA 19 MEI 2021. SMALL PROFITS MAKE BIG LOSSES

Kemarin, melalui e-mail, seorang kolumnis WSJ bercerita tentang satu buku yang sangat berbekas dalam perjalanan hidupnya. Zweig, penulis itu, mulai mengisi kolom WSJ tidak lama setelah krisis keuangan tahun 2008 terjadi di Amerika. Dia juga menjadi editor dari buku (Edisi Revisi) The Intelligent Investor, yang ditulis Benjamin Graham.

Buku yang dibacanya, “What Do You Care What Other People Think?”, merupakan karya satu Fisikawan terkemuka, Richard Feynman, yang lahir di tahun 1918. Pada saat Perang Dunia ke-II, Richard Feynman, sesuai dengan keahliannya, mempersiapkan Manhattan Project, yang dirancang untuk membuat bom atom. 

Di saat yang sama, istrinya yang menderita tuberkulosis, harus dirawat di rumah sakit. Diceritakan Feynman, bahwa istrinya mengirim pensil ke kantornya, yang dibumbuhi ukiran tulisan : “Richard darling, I love you, Putsy” (Putsy, nama panggilan istrinya).

Feynman, yang menerima pensil itu di kantornya, menghapus tulisan itu – yang kemudian diketahui oleh istrinya. Istrinya menduga, bahwa tulisan itu dihapus Feynman, karena dia mungkin malu kalau tulisan di pensil itu diketahui kolega kantornya – dan kemudian menjadikannya sebagai bahan guyonan. (Betapa simpel-nya kehidupan zaman itu).

Ternyata dugaan istrinya benar, sehingga dia mengajukan pertanyaan ke Feynman “What do you care what other people think?”.

Pertanyaan di atas sangat berbekas di dalam perjalanan hidup Zweig. Zweig menyampaikan, “From the moment I read that scene, I have never forgotten it. Ever since, I’ve tried to take my work seriously – but not take myself seriously. I’m not afraid of other people’s ridicule, nor do I live for approval”. Apa yang disampaikan pihak lain, yang tentunya berada di luar kendalinya, tidak lagi memiliki peranan penting tentang apa yang menjadi pendapatnya. 

Dia melanjutkan, “I think Feynman’s story help immunized me against FOMO – the fear of missing out that has been driving so much market speculation recently”. 

Apa yang dikatakan Zweig terakhir, seharusnya tidak mengherankan. Sebagai Editor buku Graham, tentunya dia sudah seringkali membaca apa yang dikatakan oleh Benjamin Graham, “You are neither right or wrong because the crowd disagrees with you. You are right because your data and reasoning are right”.

Di posting IG hari ini, saya ada menulis tentang assets bubble di Jepang tahun 1990. Insane valuation saat itu, telah mendorong Index Nikkei mencapai angka lebih dari 37,000. Dan 30 tahun kemudian, sekarang ini, Nikkei belum pernah bisa kembali ke angka itu. The lost decades.

Itu sebabnya, saat poster di atas menjadi bagian dari tulisannya, yang bertuliskan “….Small Profits Make Big Losses…”, saya pikir, catatannya itu terkait dengan apa yang terjadi dengan 3 dekade yang hilang dalam perjalanan Nikkei selama ini.

Ternyata gambar tadi hasil karya pelukis Jepang, bernama Kuniyoshi (1798-1861), yang dikenal sebagai “Sixteen Wonderful Consideration of Profit”. Hasil karya lain Kuniyoshi ini ada juga yang berkaitan dengan “ketamakan” dan “hutang”.

Zweig kemudian menyampaikan, bahwa “These images are a satire on books about how to get rich quick, which become popular in Japan from the 1600s on”. Boleh jadi, apa yang terjadi dengan Nikkei dalam tahun 1990-an itu, bukan merupakan sebuah pengecualian.

Namun, boleh jadi karena umurnya, Zweig tidak dapat menahan diri, karena kemudian dia meneruskan pernyataan di atas itu, dengan “Like today’s TikTok videos on trading stock or digital currencies, they were long on spirit but short on substance”. 

Anak-anak muda yang membaca kalimat itu, tentu saja dapat dengan cepat berkomentar :”Dasar kuno. Nyinyir banget sih. Zaman sekarang kan beda banget dengan zaman dulu.”. 

Sama seperti reaksi anak anak muda di atas, saya menduga Zweig juga tidak akan memperdulikan reaksi seperti apa, yang bakal dia dapatkan dari komentar nyinyirnya itu. 

Prof Moretti membantu Zweig, dengan menterjemahkan tulisan yang ada dalam lukisan Kuniyoshi ini, “There are those who try to win a little but end up losing big. This is known as “penny wise, pound foolish”. Hal ini mengingatkan saya kepada terjadinya pergerakan saham yang berlangsung setiap harinya. 

Meningkatnya gelombang minat retail investors untuk masuk ke pasar modal, mudah-mudahan saja tidak terbius oleh keinginan “try to win a little……” dengan semakin mudah dan cepatnya melakukan transaksi di pasar modal sekarang ini. 

Terkait dengan apa yang terjadi di Jepang – dan “keras kepalanya” Jay Powell tentang inflasi sampai saat ini, apakah Fed akan melakukan apa yang dilakukan BOJ dalam satu dekade ini, dengan membeli saham di pasar modal?.¬†Jika akhirnya Fed harus menaikan suku bunga – lebih cepat dari yang dijanjikannya selama ini, karena inflasi tidak lagi transitory – dan pasar bereaksi negatif, hal yang tidak terbayangkan bahkan sampai 2 tahun lalu, boleh jadi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan Fed. Ataukah Fed memiliki senjata lainnya sebelum hal itu dilakukan?

Skip to toolbar