Mulai bulan April 2021 ini, catatan di Beranda akan mulai dilakukan dengan tulisan yang dibuat oleh beberapa penulis, selain saya sendiri. Tulisan yang dibuat tentu merupakan pandangan dari masing-masing penulis, yang namanya dicantumkan dalam catatan masing-masing. Apa yang disampaikan, bisa sama dengan pandangan JSIRA, bisa juga berbeda. Keragaman pandangan ini bisa memperkaya pemahaman kita tentang berbagai hal, termasuk soal investasi. Akan kembali terpulang kepada mereka yang membaca, mana pandangan-pandangan yang sejalan dengan pemahamannya.

Menutup bulan Maret, IHSG kembali ditutup di bawah angka 6,000, yaitu di 5,985. Tidak ada angka magic dibalik angka 6,000 itu. Angka ini disebut, hanya karena mudah mengingatnya saja. Dengan closing price di angka itu, praktis angka IHSG tidak kemana-mana dalam 3 bulan ini. Seperti kita tahu, akhir tahun 2020, IHSG ditutup di angka 5,979.

Tentu saja gambar yang berbeda, akan tampak, jika kita melihat saham atau sektor tertentu. Itu sebabnya, saya sering menyampaikan agar angka IHSG tidak perlu terlalu menyesatkan Anda.

Jika ada yang menarik, adalah, mulai surutnya nilai transaksi di pasar. Seperti tampak pada Gambar di bawah, kabar tentang vaksin di akhir Kwartal III/2020 menjadi pemicu peningkatan transaksi di pasar modal dunia, termasuk di BEI. Nilai transaksi meningkat dua kali lipat lebih di Kwartal IV/2020. Peningkatan volume berada di balik peningkatan IHSG, yang meningkat sekitar 51% dari titik terendahnya dalam bulan Maret 2020. Memasuki 2 bulan pertama 2021, peningkatan harga komoditi dan rotasi dari WFH (Work From Home) ke BTW (Back To Work) menjadi pendorong kenaikan angka IHSG, dan bahkan sempat mencapai angka 6,500. Memasuki bulan Maret, nilai transaksi terlihat mulai menunjukan penurunan, dan bahkan di hari pertama bulan April, angkanya sudah di bawah Rp 10 Trilyun.

Jika kita melihat apa yang terjadi setelah krisis tahun 2008, kenaikan IHSG yang terus berlanjut dalam 5 tahun berikutnya, memang tampak harus melalui perjalanan naik turun. Dalam jangka pendek, kurva kenaikan itu tidak berjalan lurus. Granted, hal yang sama ini akan terjadi juga dalam perjalanan IHSG di masa masa mendatang.

Pertanyaannya adalah, apakah penurunan nilai transaksi dan angka IHSG seperti ini akan kita perlakukan sebagai hal yang luar biasa – dan menjadikan kita terdorong melakukan hal yang sama di pasar – ataukah akan kita anggap sebagai munculnya opportunity, sebagai bagian dari tahapan perjalanan investasi yang panjang ke depan?.

Apabila kita melihat data-data historis, dan bahkan apa yang terjadi dalam setahun terakhir ini, telah menunjukan kepada kita, opportunity terbaik itu datangnya pada saat pasar dijauhi banyak pelakunya, dan pada saat terjadinya koreksi di pasar – seperti tampak pada Gambar di bawah ini. Hal ini sudah berulang-kali terjadi – dan berulang-kali juga dilupakan banyak orang. Masih banyak yang merasa nyaman, apabila yang dilakukannya itu disepakati banyak orang. Melakukan pembelian saham pada saat pasar sedang bullish – dan harga sedang naik, bisa membuat orang lebih nyaman – karena hal yang sama dilakukan oleh banyak orang. Namun hal itu tidak sama dengan peluang yang dapat memberikan hasil terbaik.

Have a long weekend.

Salam,

Joeliardi

Skip to toolbar