By T. Kopiholic

Ketika saya masih di masa SMA, pernah tergabung dalam organisasi pecinta alam (PA), yang pada jaman tersebut anggota PA sering diidentikkan dengan sekumpulan anak yang agak “nakal”. Kalau ada pertandingan sepakbola antar sekolah, mereka merupakan supporter terdepan dalam teriakan. Pun dalam perkelahian; bila ada.Pernah kejadian kala itu, ada murid baru (si A), yang tingkahnya agak songong.

Cara berjalannya pun slengean, sorot matanya tajam terkesan angkuh, dan juga cara bicaranya yang ceplas-ceplos sering tak punya adab kepada yang senior. Hingga suatu titik di mana, dia “punya masalah” dengan kami anggota PA. Berkelahi. Di ujung perkelahian, di mana dia kami keroyok, dia berujar, “Oh beraninya main keroyok! Oke, tunggu nanti pulang sekolah di dekat masjid. Kalau kamu mainnya keroyokan, aku juga bisa!”

Singkat kata, kami berembug, untuk mengantisipasi dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan kalau si A ini benar-benar datang dengan teman-temannya. Bisa saja kami kalah berkelahi. Sampai kami pada satu kesimpulan, si A ini gak bakalan berani datang dengan teman-temannya. Seandainya pun beneran datang, tenaga kami (anggota PA yang ada), bisa mengatasinya. Tak perlu kami panggil bala bantuan dari senior.

 Dan, benar! Si A menepati janjinya.Ketika kami bersepuluh berada di gerobak rokok di depan sekolah, datang satu jeep hardtop. Di depan duduk si A. Kami bersiap-siap. Keluarlah dari mobil tersebut, hanya tiga orang, berempat dengan si A. Tapi …… ini yang tak pernah sekalipun terbersit di benak kami. Tiga orang tersebut body-nya macam Ade Rai. Itu lengannya dibandingkan paha kami, mungkin lebih besar lengan mereka. Yang kira-kira kalau lengan tersebut dipukulkan, minimalnya opname. Gegar otak.Lemes. Pucat pasi. Untungnya mereka tak sampai main pukul. Hanya sebatas memperingatkan dan menyuruh kami meminta maaf kepada si A.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Yaitu kesalahan kami dalam MEMPERHITUNGKAN kekuatan lawan! Salah memperhitungkan! Dan juga, salah melihat lawan! Hal yang seperti ini bisa saja terjadi di pasar modal.Dalam pasar modal, kita sebagai retail investor haruslah menyadari, di lapangan mana kita bermain. Kalau salah dalam memahaminya, bisa fatal akibatnya. Bukannya menanggung untung, buntung yang didapat. Boncos. 

Sebagaimana kita tahu, pergerakan market dominan ditentukan oleh professional investor dengan segala keunggulannya. Mereka lah yang mampu untuk mengerek harga saham. Pun menjatuhkannya. Semau mereka. Smart money memiliki kelebihan dibandingkan “ikan cupang” (meminjam istilah Bang Thowilz) dalam beberapa hal. Di antaranya, bahwa mereka seringkali memiliki akses informasi yang jauh lebih cepat dibandingkan kita. Kecepatan dalam akses informasi ini ditunjang pula oleh barisan analisis yang mumpuni. Dalam hal besarnya dana, lebih-lebih lagi. Tak akan bisa dibandingkan.

Lantas, mungkinkah kinerja kita melebihi mereka? Peter Lynch menyatakan, kurang lebih, kalau kita ingin mengalahkan smart money maka bertindaklah TIDAK SEPERTI apa yang mereka lakukan. Kalau saya memaksakan diri untuk bermain dengan orientasi jangka pendek layaknya di mana mereka bermain, peluang saya kalah menjadi sangat tinggi probabilitasnya. Tentu saya memilih bermain di mana mereka tidak bisa bermain, yaitu dengan memperpanjang time frame. Saya sebagai investor ritel, tak ada kewajiban untuk melaporkan kinerja portofolio setiap kwartalan, semester ataupun tahunan.

Hal demikian tidak didapatkan para professional. Mereka berkewajiban melaporkan kinerjanya dalam periode tertentu. Kalau kinerjanya lebih jelek dibandingkan indeks, siap-siap kehilangan jabatannya. Apa lagi langkah yang bisa ditempuh? Yaitu terkait besaran perusahaan. Bahwa saya tidak terikat dengan aturan harus membeli suatu perusahaan yang market cap-nya minimal sekian triliun. Tidak ada aturan demikian. Apakah ketika HRUM di tahun kemarin di harga 1200, smart money tidak mengetahuinya bahwa EV-nya nol? Pasti tahu! Tapi mereka terikat aturan yang tidak membolehkan untuk membelinya. Ada batasan market cap sesuai kriteria mereka. Atau mungkin juga karena waktu itu coal sedang suram. Kan ini aneh. Ketika murah tidak beli, tapi ketika market cap naik, eh malah beli. Sungguh ironis. 

Menutup tulisan ini, untuk memberikan gambaran betapa mereka smart money “mustahil” kalah dalam pertarungan di lapangan jangka pendek, saya teringat pembahasan di buku CSBPM. Di laporan keuangan JP Morgan tahun 2017. Hanya ada EMPAT hari dalam setahun trading desk-nya mengalami kerugian. Dan hal itu disebut mereka sebagai suatu yang buruk! Di tahun 2015, hanya DUA hari mengalami kerugian. Tahun 2013, 2014, dan 2016 tak pernah sekalipun mengalami kerugian! Dalam lima tahun, hanya ada ENAM hari kekalahan. Tingkat keberhasilan 99%, nyaris sempurna.Akankah memaksakan diri bermain di lapangan yang sama di mana mereka bermain?

Skip to toolbar