By Kevin Wibowo

Ketika kita belajar tentang Value Investing, kita diajarkan bahwa membeli saham sebuah perusahaan dengan valuasi yang rendah seperti rasio P/E (price-to-earning ratio) dibawah 10 ataupun rasio P/BV (price to book value ratio) dibawah 1 adalah sebuah praktis yang baik karena valuasi rendah menunjukkan ada nya diskon atau salah harga pada emiten tersebut. Saya juga sangat setuju dengan praktis ini karena itu memastikan agar kita tidak membayar berlebihan atau kemahalan untuk saham perusahaan-perusahaan yang kita mau.

Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan super (The world dominating companies seperti Apple dan Microsoft, The Capital Efficient Companies seperti Unilever)? Perusahaan-perusahaan tersebut hampir tidak pernah berada dalam valuasi murah menurut kriteria yang disebutkan di atas, tidak pernah dalam 15 tahun terakhir dan mungkin tidak akan terjadi juga dalam 15 tahun ke depan. Karena itu apakah perusahaan-perusahaan tersebut tidak pantas untuk kita investasikan karena valuasinya yang tidak pernah memenuhi kriteria value investing tersebut? Tentu saja tidak begitu. 

Terry Smith, investor tersukses di Inggris dan salah satu investor tersukses di dunia dalam 1 dekade terakhir menulis di bukunya “Investing for the Growth” tentang saham dengan P/E tinggi. 

“The level of valuation which may represent good value at which to buy shares in a high-quality company may surprise you. The following chart shows the “justified” P/Es (price-to earnings ratios) of a group of stocks of the sort we invest in. What does that mean? It looks at the period 1973 to 2019 when the MSCI World Index produced an annual return of 6.2% and works out what PE an investor could have paid at the outset for those stocks and still returned 7% p.a. over the period, so beating the index”

Sumber: Investing for Growth by Terry Smith

Di tahun 1973, para investor bisa membayar P/E yang tinggi seperti beberapa contoh berikut:

  • L’Oreal dengan P/E 281
  • Altria-Group dengan P/E 241
  • Hershey dengan P/E129
  • Colgate dengan P/E 126
  • Pepsico dengan P/E 100 

Emiten-emiten diatas dalam waktu 46 tahun masih menghasilkan 7% CAGR per tahun mengalahkan MSCI World index yang menghasilkan 6,2% CAGR per tahun dalam jangka waktu yang sama walaupun membayar P/E 281 untuk L’oreal atau P/E 100 untuk Pepsico. Tentu saja membayar valuasi setinggi ini sangat tidak cocok dalam konsep harga diskon atau salah harga untuk sebuah emiten, akan tetapi fakta menunjukkan bahwa valuasi yang “mahal gila” untuk perusahaan-perusahaan berkualitas tinggi tersebut tetap merupakan good value untuk investor jangka panjang. Jangan lupa Price adalah harga yang kita bayar, Value adalah nilai yang kita dapatkan!  

Bagaimana kita tahu bahwa sebuah perusahaan adalah perusahaan berkualitas tinggi yang dapat membenarkan valuasi P/E yang tinggi? Berikut beberapa kriteria yang dicari oleh Terry Smith:

  1. Kemampuan perusahaan untuk mempertahankan “Return on operating Capital Employed” yang tinggi dalam bentuk tunai (bukan hanya piutang dalam jumlah besar yang bisa lama untuk dibayarkan) dalam waktu yang sangat lama (hitungan tahunan atau dekade). 
  2. Kemampuan perusahaan untuk bertumbuh secara terus menerus, dan setiap kapital baru yang ditanamkan mampu menghasilkan “Return” yang tinggi secara konsisten
  3. Moat yg besar dimana perusahaan mampu melindungi diri dari disrupsi yang selalu terjadi dan juga dari para kompetitor baik yang lama maupun baru. 

Menemukan sebuah perusahaan berkualitas tinggi dan membeli dengan harga yang dianggap masih good value untuk perusahaan tersebut hanya merupakan setengah dari tugas kita, setengahnya lagi adalah sesuatu yang memakan waktu jauh lebih lama lagi, dan jauh lebih sulit untuk dilakukan yaitu: Diam dan jangan disentuh!! 

Salam,

Kevin Wibowo

Skip to toolbar