By Aliyah Natasya

Sebagai seorang investor legendaris, Peter Lynch dipercaya memiliki kemampuan untuk memilih stock yang berpotensi memberikan imbal hasil yang positif.

Tapi di satu sisi, beliau yakin jika para investor retail juga memiliki kemampuan yang justru lebih baik daripada investor institusi dalam hal ini adalah Asset Management.

“Invest in what you know”.

Merupakan prinsip kepercayaan Mr Lynch dalam  memilih perusahaan yang menjadi seleksi kriteria portfolionya.

Peter Lynch sendiri dikenal sebagai seorang “story investor”. Setiap pilihan stock dipilih dikarenakan memiliki ekspektasi yang baik terkait proyeksi pertumbuhan bisnis perusahaan. Ekspektasi tersebut berasal dari strategi bisnis perusahaan, visi dan misi, target pencapaian serta langkah strategis perusahaan untuk mencapai hasil yang bertumbuh.

Semakin kita mengerti dan mengenali perusahaan serta mengerti segi bisnis dan ekosistemnya, semakin baik kesempatan kita untuk mengetahui “good story” dari perusahaan.

Jika ditanyakan, seperti apa perusahaan yang difokuskan dalam seleksi pemilihannya?

Peter Lynch memilih perusahaan kecil yang memiliki trend pertumbuhan cepat yang masih memiliki valuasi harga yang relatif murah.

Untuk lebih jelasnya, Lynch mengkategorikan jenis perusahaan berdasarkan “story” tersebut ke dalam 6 kategori.

1.Slow Growers

   Perusahaan besar dan sudah stabil, yang tetap memiliki pertumbuhan yang tergolong kecil namun tetap stabil.

2.Stalwarts

Perusahaan besar yang masih memiliki potensi pertumbuhan lebih baik daripada Slow Growers. Dengan annual earning growth sekitar 10 – 12%.

3. Fast Growers

Perusahaan yang tergolong kecil tapi memiliki kekuatan bertumbuh yang agresif sekitar 20% -25% per tahun. Tidak selalu harus berada dalam industri yang sedang mengalami trend kenaikan yang signifikan.

4. Cyclicals

Perusahaan ang memiliki trend sales dan profit yang naik dan turun sesuai dengan pola berdasarkan siklus ekonomi. Beberapa contoh industrinya seperti pertambangan, airlines dan auto industri.

5. Turnaround

Perusahaan yang berada dalam fase buruk, bisa juga dibilang mengalami masa bisnis yang depresi. Disebut juga sebagai “no-growers”. DIharapkan perusahaan bisa bangkit dan mengalami turn around story.

6. Asset opportunities.

Perusahaan yang memiliki asset plays, bisa dikatakan perusahaan yang memiliki asset tersembunyi yang belum dimaksimalkan potensinya atau di priced in kedalam harga saham.

Ke-6 kategori tersebut belum cukup untuk memilih perusahaan mana yang layak dipilih. Dalam menganalisa perusahaan Mr Lynch berusaha untuk mengerti bagaimana kekuatan perusahaan dan proyeksi bisnis ke depannya, termasuk melihat sisi kompetiitif lainnya dan mengetahui kekurangan perusahaan.

We cannot have good returns if the stock was purchased at a high price. We need to buy at wonderful price so we can enjoy profitable gain.

Mau tidak mau, kita harus kembali lagi mengevaluasi angka-angka dalam laporang keuangan sebagai indikator yang mengkonfirmasi daya tarik perusahaan tersebut.

  1. Year by year earnings. Catatan kinerja ini membantu kita untuk melihat konsistensi pertumbuhan pendapatan.
  2. Earnings Growth, dari angka inilah kita bisa mengkategorikan kecepatan pertumbuhan perusahaan.
  3. Price-earning ratio. Potensi pendapatan perusahaan merupakan valuasi utama dalam menilai company value. Pada umumnya, saham dengan potensi kinerja yang bagus memiliki harga jual PER yang lebih tinggi.
  4. The Price Earnings Ratio relative to its history average dan industry average. Dengan melihat history PER kita dapat melihat rata-rata kinerja PER dan membandingkan valuasi saham terhadap kompetitor di dalam industrinya.
  5. The Price Earning ratio relative to its earning growth rate.
  6. Ratio of debt to equity. Jumlah hutang. Kekuatan dari arus kas menjadi benchmark atas kemampuan perusahaan untuk berekspansi atau justru memiliki problem keuangan.
  7. Net Cash per Share. Berapa jumlah cash dan setara kas, dikurangi long term debt dan dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
  8. Dividen dan pay out ratio. Pembayaran dividen sangat umum dilakukan oleh perusahaan besar dan Mr Lynch cenderung menyukai smaller growth firms.
  9. Inventory. Bagaimana kondisi inventory perusahaan terutama perusahaan ritel dan manufaktur.

Banyak catatan terkait strategi investasi dari Mr Lynch and Mr Buffet yang telah dirangkum oleh Pak Joeliardi Sunendar dalam Cara Simple Berinvestasi Saham Part I dan Part II. Merupakan salah satu buku yang wajib dibaca oleh para value investor. Selalu belajar dari point of view orang lain akan membantu sisi analisa yang sebelumnya belum terpikir oleh diri kita sendiri.

Market yang bergerak dinamis dan memiliki perputaran sektor bukan penghalang untuk kita mencari kesempatan untuk mengais cuan. Turunnya harga saham bisa menjadi kesempatan ang baik untuk membeli saham yang berpotensi dalam harga yang jauh lebih terjangkau.

Jangan hanya fokus ke saham-saham yang telah memberikan cuan di masa lalu. Kita perlu melihat dengan logika, jika saham telah menyentuh harga wajar dan saat itulah kita bisa menikmati profit.

Mr Lynch percaya dengan stock rotation. Jangan hanya menjual saha,, tapi pelajari rotasi dari sektor. Menjual saham dan menggantikan posisinya dengan saham dari perusahaan lain yang memiliki potensi ke depannya. Kita tetap berkomitmen berinvestasi di dunia saham, tapi kita tetap me monitor dan mereview saham mana yang sudah waktunya dijual dan saham mana yang bisa dibeli.

We need to focus still on the fundamental value and also upcoming story.

Dengan fokus pertumbuhan dan perbaikan ekonomi Indonesia, kira-kira saham dari sektor industri manakah yang memiliki positive growth story di Q2 2021 ini?

Skip to toolbar