By Daniel Bartimeus

Loss Aversion: Memilih Cryptocurrency Daripada Saham

Kita melihat akhir-akhir ini orang sudah mulai jarang posting di media sosial tentang keuntungannya berinvestasi di instrumen saham. Media mainstream banyak memberikan data bahwa investor Cryptocurrency di Indonesia jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada investor saham tercatat per Februari 2021. Hal ini menjadi salah satu konfirmasi berakhirnya euforia investor ritel di instrumen saham  sejak rally akhir tahun 2020 hingga awal 2021 bulan Januari kemarin.

Mengapa investor ritel memindahkan alokasi investasinya dari instrumen saham ke Cryptocurrency?

Kita dapat melihat bahwa instrumen Cryptocurrency memberikan imbal hasil yang relatif lebih besar dibandingkan dengan instrumen saham dalam periode waktu yang sama. Bitcoin memberikan return sebesar 19.000% dari 2015 – April 2021 sedangkan IHSG hanya menghasilkan return sebesar 34%. Namun dari data ini tentu kita tahu bahwa resiko yang terkandung di Cryptocurrency lebih besar daripada instrumen saham. Apalagi kalau kita bisa melihat bagaimana volatilitas pergerakan harga harian antara Cryptocurrency dan instrumen saham. 

Secara jangka panjang, Cryptocurrency belum bisa memberikan track record historis yang jelas sementara itu IHSG sendiri mencetak pertumbuhan CAGR selama 10 dan 20 tahun terakhir sebesar 5,17% dan 14,26%. Angka tersebut cukup baik mengingat investor sekelas Warren Buffet menghasilkan annualized return sebesar 20% pada portofolio kelolaannya. Nah setelah melihat angka tersebut, perlukah kita sebagai investor menghasilkan CAGR 165% lewat Cryptocurrency?

Kemampuan menghasilkan return yang besar dalam jangka waktu yang pendek adalah kesukaan sebagian besar investor ritel. Hal ini terdengar masuk akal sementara di waktu yang sama juga menjadi irasional ketika diterapkan di dalam dunia pasar modal. Konsep sederhana dalam berinvestasi: high risk, high return hingga saat ini masih terus berlaku. Saya rasa ada maksud tertentu kenapa kalimat bijak tersebut menyebut risk dulu baru return karena memang kita harus mengerti terlebih dahulu resiko yang terkandung dalam sebuah instrumen investasi sebelum menikmati return yang dihasilkannya.

Di dalam behavioral finance, yang diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan sahabatnya Amos Tversky pada tahun 1979, dikatakan bahwa pengambilan keputusan investasi oleh seorang investor secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu kognitif, yang berhubungan dengan informasi/pengetahuan yang dia miliki; dan emosional, yaitu kondisi natural yang khas dimiliki oleh setiap investor. Kedua faktor ini banyak menyebabkan pengambilan keputusan yang bias dan irasional, salah satu contohnya adalah Loss Aversion.

Salah satu contoh kasus loss aversion memberikan gambaran dimana investor memilih pilihan instrumen investasi dalam kondisi low probability gain. Misalnya Anda memilih antara kemungkinan 5% mendapatkan 100 juta Rupiah atau 100% mendapatkan 7 juta Rupiah. Dalam kondisi ini sebagian besar investor akan bersikap risk seeking dan secara irasional memilih 5% untuk mendapatkan 100 juta Rupiah. Padahal secara rasional, uang 5 juta Rupiah (5% x 100 juta Rupiah) lebih kecil daripada 7 juta Rupiah.

Anda mungkin mulai bisa melihat, apakah sikap investor ritel, yang memindahkan sebagian besar alokasi investasinya dari instrumen saham ke Cryptocurrency tanpa bekal pengetahuan yang lebih serta dipengaruhi oleh euforia market, sedang berlaku rasional atau irasional?

Pada umumnya market memang seringkali bertindak secara irasional namun dengan menyadari dimana posisi kita sekarang mampu menghindarkan kita dari perilaku yang tidak masuk akal. Dan lagi kalau kita bergerak melawan arah market pada umumnya, terkadang kita dapat menemukan harta karun yang orang lain tidak lihat.

Salam,

Daniel Bartimeus

Skip to toolbar