By Olivia Tjahjadi

Scientists reveal regions of the brain where serotonin promotes patience |  Hindustan Times

Halo, salam kenal. Aku penulis baru di Beranda JSIRA. Seorang generasi Z yang suka serba cepat tapi terjebak di pasar saham yang berteman baik dengan waktu.

Eksistensi coronials berbanding lurus terhadap pergerakan hot stocks pada masanya. Coronials masuk pada saat market mencari angin segar. Layaknya seorang bayi polos, begitu mudah mereka diiming-imingi return tinggi dalam waktu yang begitu singkat. Belum lagi ditambah dengan kekuatan sosial media yang menembus ruang dan waktu.

Hari dan bulan berlalu, hot stocks mulai turun gunung diiringi dengan cacian karena ada yang terjebak di puncak gunung. Faktanya ini membuat coronials sakit hati lebih dari putus cinta. Banyak yang dikorbankan untuk mimpi yang (ke)tinggi(an). Lalu, apakah coronials belajar dari kejadian ini?

Promosi-promosi instrument investasi dan “instrument investasi” semakin gencar akhir-akhir ini. Tentunya, ada demand, ada supply; ada permintaan, ada penawaran. Naiknya minat dan interest masyarakat mengenai investasi membuat para produsen harus bisa memenuhi keinginan tersebut. Sayangnya, minat ini kurang didukung dengan pengetahuan yang cukup.

Anak-anak angkatanku tidak takut lagi untuk menyuarakan dan mengajak teman sebayanya untuk berinvestasi; untuk pensiun dini katanya. Gambar diri bahwa seorang investor bisa hidup enak tanpa harus kerja keras, hanya ongkang-ongkang kaki tentunya merupakan mimpi anak muda zaman sekarang. Berdasarkan data yang dilansir oleh KSEI, jumlah investor pasar modal tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar 21,66% dibandingkan dengan tahun 2019 dengan total pertumbuhan SID per September 2020 meningkat 42% YoY dimana 50%-nya berusia <=30 tahun. Menarik. Tapi, seberapa banyak dari mereka yang bertahan sampai sekarang?

Menurunnya nilai IHSG diawal tahun 2021, menaikan nama crptocurrency. Yang dulu dihindari karena dianggap aneh dan tidak jelas, sekarang mulai dilirik. Tidak lain dan tidak bukan karena yang katanya harganya naik terus dan bisa memberikan return tinggi dan cepat. Memang tidak salah karena itu kenyataannya tapi, kita harus berhati-hati jika orang berbondong-bondong beralih ke rumput hijau tersebut. You better watch out if it sounds too good to be true.

Pola ini akan terus terulang jika kita tidak belajar dari kesalahan. Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Tapi hijau karena apa? Apa karena obatnya baik? Semata-mata karena sinar matahari? Atau jangan-jangan rumput tetangga adalah rumput palsu? Butuh analisa lebih jauh sebelum menilai sebuah asset.

Bukankah seni dari pasar saham adalah menemukan batu kerikil hitam dan membiarkan waktu yang mengubahnya menjadi berlian? Aku jadi teringat dengan sebuah perkataan bahwa uang di pasar saham itu tidak berkurang, hanya beralih dari yang tidak sabar ke yang sabar.

“Investing should be more like watching paint dry or watching grass grow. If you want excitement, take $800 and go to Las Vegas.” – Paul Samuelson.

Salam,

Olivia Tjahjadi

Tulisan ini dibuat tidak untuk sebuah menjelekan instrument investasi akan yang lain. Tulisan ini ditulis untuk menjadi bahan refleksi dan pembelajaran.

Skip to toolbar