By Rinaldo Maharditama

Spekulasi memang menarik. 

Setiap hari selalu ada orang yang berspekulasi. Mulai dari angka, barang sampai perilaku orang bisa jadi bahan spekulasi. Banyak uang dan waktu yang mengalir untuk memuaskan hasrat spekulasi, yang entah kenapa malah seakan akan jadi hasrat. 

Kalau tanya secara etis dan agama sih, ngga boleh ada spekulasi. Semua harus didasarkan pada apa yang sudah terjadi dan tercapai. Sehingga, spekulasi dianggap hanya akan membuang waktu belaka, yang seharusnya bisa dilakukan buat yang lain. 

Apa yang paling menonjol dari spekulasi? 

Ketika kita tak tahu, tapi ingin mencoba. 
Ketika kita tidak berpikir tentang resiko.
Ketika kita asal asalan dalam berpikir.
Ketika kita asal yakin bakalan bagus, tapi tidak mengerti yang dikerjakan. 

Ini adalah hal hal yang saya anggap sebagai spekulasi. 

Spekulasi jadi hanya tentang menantang ketidakpastian, yang ketika ia datang, malah kita bingung dan kebakaran jenggot jadinya. Padahal, kita tak semestinya mempertaruhkan diri dan harta untuk menantang ketidakpastian. Meskipun uang dingin sekalipun. 

Saya pernah berspekulasi. Sedikit mencoba bermain di dalamnya. Mulai dari saham gocap, beli reksa dana yang isinya saham gorengan sampai membeli saham yang sedang bermasalah. 

Tapi, ketika banyak kejadian terjadi setelahnya dan itu pernah menggerus uang saya, saya mencoba untuk lepas dari spekulasi. Saya coba perbaiki apa yang salah dari mindset dan pilihan saya. Saya sadar bahwa memang ngga bisa main main dalam hal yang saya lakukan. Apalagi saya ngga bisa menjiwai sebagai seorang spekulan. Susah. 

Karena itulah, saya beralih jadi investor pasif dengan fokus pada fundamental yang baik dan pendapatan rutin alias dividen. Saya kemudian merasa ini jauh lebih nyaman dan santai, namun tetap serius. Saya tetap pantau, namun saya tidak terlalu dekat dengan keributan dan “gatal” dalam jangka pendek. 

Pada prinsipnya, dari sananya kita sudah diajarkan untuk tidak menantang ketidakpastian. Ketidakpastian adalah hal yang biasa terjadi dan sudah dari sananya seperti itu. 

Ketidakpastian justru seharusnya kita manfaatkan untuk hal lain. Untuk prepare, untuk berhati hati, untuk sigap mencari opportunity dalam kondisi tersulit sekalipun, untuk belajar hal baru. Banyak hal yang lebih bisa kita lakukan.  

Selain itu, kita juga harus bisa dengan jelas membedakan mana spekulasi dan bukan. Jangan lupakan bahwa spekulasi adalah resiko tinggi dan tidak ada “penghibur” atau “pelipur laranya”. Jadi, tidak ada yang bisa jadi pegangan selain apa yang ada di diri kita sendiri.

So, berpikirlah secara waras untuk ketenangan dan kenyamanan diri sendiri. 

Best Regards,

Rinaldo Maharditama

Skip to toolbar