By T. Kopiholic

Tahun 1993 ketika akan masuk SMP, saya minta sepeda mountain bike (MTB) yang lagi ngetrend kala itu. Karena sadar akan kemampuan ayah saya yang hanya seorang PNS golongan rendah dan harus menghidupi kami empat bersaudara, belum juga menanggung biaya hidup saudara-saudaranya, maka saya cukup tahu diri. Saya tidak memaksakan diri meminta sepeda yang baru. Cukup second layak pakai. 

Tiga hari kemudian, di hari Minggu siang, ayah datang ke rumah sambil mengendarai sepeda yang baru saja dibeli dari temannya. Segera saya naiki. Ada rasa kurang nyaman, terlebih setelah saya mengetahui harga belinya. Ini kemahalan, pikir saya. Karena saya tahu, hanya dengan nambahin sedikit saja, sudah bisa membeli sepeda MTB baru seperti milik teman sepermainan saya.

Tahun 1997, ketika kali pertama mendaki Gunung Welirang, saya pinjam celana gunung merk Alpina (pendaki gunung jaman old pasti tahu neh, hehehe…..). Bukannya meminjami, dia malah berniat menjualnya, karena lagi butuh duit. Saya tahu kualitas Alpina seperti apa. Untuk track kering, basah dan atau berpasir, semua dilibas! Harga yang ditawarkannya waktu itu 30 ribu. Harga barunya masih 100 ribu lebih. Saya lihat barangnya, masih terhitung baru. Juga jarang dipakai. Yah, paling hanya dipakai harian, bukan “dihajar” di alam bebas. Secara keseluruhan, harga 30 ribu bagi saya murah sangat! Saya gak pakai menawar. Dan celana tersebut bisa bertahan sampai 4 tahun. Itu pun bukan karena rusak, tapi lebih kepada lingkar perut yang mulai melebar, hehehehheheeee…… sehingga harus berpindah tangan kepada teman lainnya.

Tahun 2015, salah seorang teman dari komunitas kopi menawarkan rokpresso yang baru dibelinya tiga pekan sebelumnya dikarenakan untuk café-nya dia sudah memakai mesin espresso. Tidak memungkinkan lagi memakai manual rokpresso untuk melayani pelanggan yang membludak. Harga yang ditawarkan 1,6jt. Harga baru tahun tersebut sekitar 2,4jt. Saya langsung cek barang tersebut secara detail. Saya pastikan bahwa ini memang barang baru. Dicoba sekali dua kali untuk buat espresso dan turunannya. Memuaskan. Deal! 

Apa pelajaran yang bisa diambil dari tiga cerita tersebut?Hal yang sama sebetulnya juga terjadi ketika kita akan berinvestasi di suatu perusahaan. Tindakan saya mengecek celana gunung Alpina, mencoba rokpresso, meneliti setiap baut dan tuas di rokpresso, ini semuanya sama seperti kita membuka laporan keuangan sebuah perusahaan.

Melihat jumlah kas, ROE, asset tetap, penjualan, dan seterusnya.Membandingkan dengan merk lain tak ubahnya pula kita mencari emiten kompetitor agar kita bisa menentukan mana yang lebih baik. Kesemuanya adalah value yang akan kita dapatkan bila memilikinya.Dan terakhir, harga (price). Apakah harga celana 30 ribu dan rokpresso 1,6jt tersebut terhitung murah? Tentu sangat murah bagi saya! Sangat menarik. 

Begitu pula di pasar modal. Sering terjadi perusahaan baik dijual di harga yang murah. Sekedar berbagi kisah, pada Januari 2020, Indo Acidatama yang sudah saya miliki sebelumnya, tiba-tiba harganya turun sampai di harga Rp 51. Setara dengan penurunan 21% dalam dua hari. Saya lihat tidak ada perubahan fundamental di perusahaan tersebut. Mencoba googling, barangkali ada kasus hukum yang sedang menimpa, hasilnya nihil. Volume dua hari tersebut lumayan tinggi disbanding hari biasanya.

Iseng saya kirim pesan WA ke guru saya, “Bapak jualan SRSN?” karena saya tahu beliau pegang barang ini.Dengan santai dibalas, “Kenapa memang?”, seolah penurunan 21% dalam dua hari itu hanya noise yang tak perlu diperhatikan. Cukup abaikan.“Dua hari ini turun cukup dalam, 21%,” jawab saya.Dengan setengah berkelakar beliau menjawab, “Masa’ orang jual sahamnya gak boleh? Mungkin dia mau mengkhitankan anaknya.”Hahahaha, saya ketawa! Dan tekan tombol BUY, menambah porsi kepemilikan. Ya, saya tahu kisah beliau ketika terpaksa harus menjual sahamnya untuk tambahan biaya menikahkan anaknya.

Fast forward, untuk saat ini, porto saya di Indo Acidatama, sudah tak sebanyak Januari 2020 kala itu.

DYOR, semoga bermanfaat.

Salam,

T. Kopiholic


Skip to toolbar