By Ronald Tanggo

Credit Picture : LivingTextiles

Tidur cukup di malam hari sambil berinvestasi saham

Tidur nyenyak di malam hari (sleep well at night) atau disingkat SWAN, meminjam istilah pak Joel menjadi sangat penting buat seseorang yang mempunyai rutinitas padat dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Tidur 6-8 jam sehari penting untuk menjaga kebugaran supaya dapat beraktivitas dengan baik setiap hari, khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini yang menuntut imunitas yang prima. Bagi para profesional, karyawan atau siapapun yang sangat sibuk, mempunyai investasi tanpa mengganggu tidur bukan perkara mudah.

Sebagian dari mereka yang waktunya sedikit ini juga sadar bahwa mereka tidak selamanya berada dalam kondisi puncak untuk bekerja, ada saatnya harus berhenti bekerja karena memasuki masa pensiun atau  karena usia dan kondisi fisik yang mulai menurun. Diharapkan hasil investasi yang dilakukan secara disiplin di masa muda dapat menutupi kebutuhan hidup sehari-hari di masa akan datang.

Pilihan untuk investasi bagi mereka sangat banyak tersedia saat ini dan sangat mudah diakses dari ponsel pintar. Mulai dari investasi jenis paper seperti deposito, surat utang negara (misal: Obligasi Republik Indonesia, Sukuk Ritel), reksadana dan saham. Ada juga aset komoditas seperti emas dan perak yang dapat dibeli fisiknya secara online. Properti sekarang ini juga bisa dipesan melalui berbagai aplikasi yang bisa diunduh di playstore dan app store. Saat ini sedang booming juga para milenial berinvestasi di mata uang digital. Pemilihan instrumen investasi ini juga tentu sebaiknya berdasarkan profil dan resiko masing-masing investor. instrumen investasi yang relatif aman biasanya memberikan hasil yang cenderung rendah seperti deposito dan surat utang negara. Saham atau bahkan mata uang kripto dikatakan bisa mencapai imbal balik hasil yang lebih memuaskan dibandingkan dengan investasi emas fisik dan properti. 

Panduan dalam meracik campuran kendaraan investasi ini bisa dikaitkan dengan modal awal, tujuan investasi dan waktu dengan mengerti prinsip bunga berbunga atau compounding effect. Misalkan di tahun 2040 nanti ingin punya dana pensiun katakan sebesar X rupiah, maka sebaiknya berinvestasi pada instrumen dengan imbal balik Y persen, dengan modal awal sebesar Z. Cara diatas bisa dihitung menggunakan kalkulator bunga berbunga yang banyak tersedia di internet. Kekuatan bunga berbunga ini sangat luar bisa, tidak salah jika salah satu topik di seminar Pak Joel membahas tentang hal ini: The magic of compounding, the younger, the better. (Boleh daftar saja biar lebih mengerti :). Singkatnya, bunga yang tampaknya kecil akan memberikan hasil yang terlihat kecil di awal, tapi jika hasilnya ini digulung terus maka akan menjadi bola salju yang akan semakin besar seiring dengan waktu. Perbedaan bunga cuma 5% diawal, hasilnya berbeda secara berarti jika dilakukan terus dalam waktu yang panjang. Perbedaan dalam berinvestasi di reksadana dan saham, jika dilakukan dalam waktu yang panjang, hasilnya akan sangat berbeda. 

Misalkan dana awal 10 juta, tanpa menambah lagi dana pada tahun berikutnya,  jika diinvestasikan di obligasi atau reksadana dengan pengembalian 10% dan digulungkan terus setiap tahun, maka dalam 10 tahun hasilnya menjadi 25 juta dan dalam 20 tahun menjadi 67 juta, setelah 30 tahun menjadi 174 juta. Jika dana tersebut diinvestasikan di saham dengan rata2 pengembalian 15% setahun, maka dalam 10, 20 dan 30 tahun dana tersebut menjadi 40, 163 dan 662 juta. Bagaimana jika kita berhasil mencapai return 20%? (Warren Buffet mempunyai track record rata2 pengembalian tahunan juga 20% setahun sejak 1965). Maka setelah 10, 20 dan 30 tahun, hasilnya adalah 61 juta, 383 juta dan 2,3 milyar. Itu jika dana awal 10 juta, bagaimana jika lebih? Silahkan dihitung sendiri. Bagaimana juga hasilnya jika setiap tahun ditambahkan dananya? Katakan 10 juta lagi tiap tahun? Tentu hasilnya lebih tinggi dibandingkan contoh diatas. Jadi modal, tingkat pengembalian dan waktu adalah tiga elemen penting yang dapat membantu kita memperkirakan hasil investasi kita dimasa depan.

Jika sepakat tingkat pengembalian adalah salah satu elemen yang penting, maka saham yang tingkat pengembaliannya bisa 15% bahkan lebih adalah instrumen investasi yang patut kita pertimbangkan. Tetapi seperti dikatakan sebelumnya, saham walaupun mempunyai tingkat pengembalian yang lebih baik, jenis investasi ini juga mempunyai resiko dibandingkan dengan deposito, yaitu fluktuasi harganya yang bisa membuat kita sulit tidur nyenyak (SWAN). Bagaimana bisa tidur dengan nyenyak, jika kita beli hari ini minggu depan investasi kita bukannya bertambah malah berkurang 10%. Bagi para investor yang berharap masa pensiun ditopang oleh instrumen ini, akan semakin was-was. Baru seminggu saja berkurang 10%, bagaimana 20 tahun? Bagaimana kita bisa tenang jika memikirkan hal ini setiap tidur, bagaimana kondisi kita bisa baik dalam bekerja setiap hari jika memikirkan saham ini naik turun terus tiap hari, bagaimana tubuh bisa melawan covid jika imunitas kita turun akibat kurang tidur?

Ada beberapa prinsip yang bisa dipahami agar dapat berinvestasi di pasar saham dengan tetap tidur dengan nyenyak, antara lain:

  1. Perhatian berfokus pada kinerja perusahaan, bukan pada harga perusahaan.
  2. Mengerti perumpamaan Mr. Market (harga saham bukan nilai perusahaan)
  3. Memperpanjang waktu ekspektasi imbal balik dari hasil investasi.
  4. Komitmen berinvestasi dalam jangka panjang.

Masing-masing akan dijelaskan secara terpisah dibawah ini.

Setelah membeli saham sebuah perusahaan publik, maka langkah selanjutnya adalah memberi waktu perusahaannya apakah sudah bekerja sesuai dengan ekspektasi. Dengan bertumbuhnya kinerja perusahaan, makan harga saham akan mengikuti. Oleh karena itu waktu menunggu 1-2 tahun adalah hal yang wajar karena sebuah perusahaan memang membutuhkan waktu untuk bertambah besar. Melihat penilaian orang terhadap harga perusahaan (baca: buka aplikasi dan cek harga saham) tersebut setiap hari adalah hal yang tidak masuk akal. Perhatian lebih baik difokuskan untuk melihat apakah perusahaan yang kita beli ini berhasil mencetak omset dan laba yang seperti diharapkan, apakah ekspansinya berhasil, apakah sanggup membayar hutang yang mau jatuh tempo, bagaimana harga bahan baku, bagaimana permintaan pasar terhadap produknya, apakah brandnya kuat, dan banyak lagi hal yang bisa diamati. Karena pekerjaan mengamati kinerja perusahaan tidak perlu juga dilakukan setiap hari, mungkin cuma perlu sekali dalam beberapa bulan, maka kita juga punya waktu lebih banyak untuk melakukan pekerjaan rutinitas sehari-hari.

Istilah Mr. Market yang dicetuskan awalnya oleh Benjamin Graham adalah sebuah ide brilian yang dapat membuat tidur lebih nyenyak. Mr. Market adalah sebuah perumpamaan karakter yang oleh guru Warren Buffett ini disebutkan datang setiap hari ke pemegang saham memberikan penawaran harga. Mr.Market ini adalah istilah untuk menggantikan kumpulan para pelaku pasar yang melakukan transaksi sehingga membentuk harga saham setiap saat. Harga ini berubah setiap menit, jam dan hari tergantung suasana hati Mr. Market. Untungnya pemegang saham boleh memilih menerima atau tidak penawarannya, karena kita mengetahui nilai sejati dari perusahaan tersebut. Keyakinan untuk tidak menjual di harga yang ditawarkan umumnya datang dari pengetahuan akan perusahaan tersebut, setelah melalui berbagai analisis yang dalam. Seperti yang dikatakan Peter Lynch, jika kita tidak melakukan pekerjaan rumah yang cukup, maka kita tidak punya alasan yang kuat untuk tidak menjual saham kita kepada Mr. Market ketika harga saham turun misal 10% (baca: cut loss). Jadi ketika harga saham sedang turun, jika kita yakin dengan prospek dan nilai perusahaannya kita cukup jawab dalam hati yang benar saja, nawarnya kemurahan. Justru kalau ada dana lagi malah kita tambah lagi porsi kepemilikan.

Dengan prinsip berpikir diatas maka ekspektasi akan tercapainya harga saham yang diinginkan akan menjadi lebih panjang (diatas 1 tahun). Berharap membeli saham hari ini dan mendapat untung 25% besok adalah hal yang tidak perlu (walaupun sangat mungkin terjadi), jika kita sudah meyakini bahwa nilai sejati perusahaan tersebut akan tercapai tahun depan. Karena waktu imbal hasil yg lebih lama, maka ekspektasi pengembalian hasil yang kita cari sebaiknya besar (baca: margin of safety besar). Karena kita akan melihat kenaikan harga saham minimal dalam 1 tahun kedepan, sebaiknya jangan mencari return kecil, minimal di atas obligasi, atau normalnya sekitar 15-20% setahun, bahkan mungkin diatas 100%, atau bagger, meminjam istilah Peter Lynch. Jika kita kaitkan dengan prinsip bunga berbunga sebelumnya, maka mencapai tujuan investasi kita dengan cara ini adalah sangat mungkin jika kita cukup sabar dan disiplin.

Dengan berpikir bahwa perusahaan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat membuktikan kinerjanya dan dikombinasikan dengan prinsip bunga berbunga yang telah dijelaskan sebelumnya, maka komitmen untuk berinvestasi di pasar modal diatas 15 tahun bahkan lebih merupakan hal yang wajar agar mendapatkan imbal hasil yang memuaskan. Jika berpikir untuk mengembangkan dana untuk biaya pendidikan anak yang akan dibutuhkan dalam 1-2 tahun kedepan di pasar saham adalah hal yang beresiko.

Demikian, empat hal tersebut diatas bisa membuat kita tidur nyenyak, atau setidaknya berhasil untuk saya. Jadi saya tidak malu-malu lagi soalnya kalau dulu suka ditanyain sama Pak Joel, masih suka ngeliatin harga saham nggak? 😄😄

Salam,

Ronald Tanggo

Skip to toolbar