By Vinalia Ghozali

Hybrid Investing – A journey of discovering the ultimate way. 

Di awal perjalan investasi saya, yakni pada tahun 2016, saya mendapati banyak sekali trader maupun investor yang hampir setiap hari berargumen tentang mana teknik analisis saham yang lebih baik, analisa teknikal atau fundamental, di dalam forum saham (ketika itu belum marak account edukasi saham pada media sosial). 

Para fundamentalist tentu selalu menyebut Warren Buffet dan Lo Kheng Hong sebagai proven success untuk teknik ini, sedangkan technicalist menyebut nama yang mungkin “less popular” seperti Jim Simons, Jesse livermore, atau Marty Schwartz. 

Karena memiliki rasa penasaran yang besar, saya research segala hal mengenai para ahli tersebut. Cerita tentang keberhasilan investasi mereka sungguh sangat luar biasa, dan tentunya begitu menggiurkan untuk investor pemula seperti saya ketika itu. Membaca wejangan dari THE OG, Mr. Buffet, dari letters to shareholder Berkshire Hathaway, membuat saya mengukuhkan diri untuk invest jangka panjang pada perusahaan yang baik. Namun ketika saya membaca cerita tentang Marty Schwartz, seketika saya seperti hilang ingatan akan tekad saya untuk investasi jangka panjang. Apalagi sering kali saya sudah girang sekali karena cuan suatu saham, karena tidak direalisasikan, harga balik lagi ke modal atau malah bahkan jadi minus (We all have been there!). Membaca cerita tentang Jim Simons, si ahli matematika yang fenomenal itu, lebih luar biasa lagi! Medallion Fund yang dikelolanya menghasilkan cuan ratusan kali lipat daripada Mr. Buffet dalam 3 dekade. Bayangkan betapa pusingnya saya ketika itu. Jadi mau pake aliran mana nih.. Teknikal (belajar chart) atau Fundamental (belajar laporan keuangan)? 

Singkat cerita saya pun terus belajar dan mencari tau mengenai kedua teknik tersebut, dan langsung diaplikasikan dalam trading / investasi saya pribadi. Tentu lebih baik kita dapat belajar sambil langsung dipraktikan, daripada hanya teori saja. Investasi itu kan 60% psikologi dan 40% hal lainnya. Belajar dari loss sendiri tentu lebih efektif ketimbang hanya baca / dengar tentang loss orang lain. Sakitnya beda! Hehe.. 

Setelah beberapa tahun trading, saya merasa semakin dewasa dan yakin dalam menentukan posisi dan style trading.. Saya pun memakai metode “Hybrid” dalam trading saya, yaitu mengkombinasikan analisa fundamental (a more traditional way, cek laporan keuangan) dan analisa teknikal charts (a more progressive way, analisa chart). Mengapa demikian? Karena dari hasil eksperimen pribadi, tidak semua saham dapat di hold lama dan memberikan return yang sama dengan saham yang dihold sebentar. Lagipula, dengan dana kelolaan yang masih kecil, tentu compounding dari cuan dalam waktu singkat begitu menarik. Bagaimanapun, saya hanyalah anak muda biasa yang masih sangat tertarik dengan cuan cepat. Hehe.. 

Walaupun ada juga beberapa saham yang saking menariknya, saya sendiri tidak tega untuk melepasnya walaupun sudah bertahun-tahun dalam portfolio, apalagi diberi “uang tunggu” oleh emiten tersebut, yaitu dividend yield yang menarik.

Apabila komponen yang penting untuk mobil hybrid adalah bensin & baterai (listrik), maka menurut saya komponen yang terpenting dalam trading the hybrid way adalah psychology dan money-management. Semua itu tidak akan bisa dipelajari dari buku manapun. Pengalamanlah yang akan mengajarkan kita tentang hal tersebut. 

Short-term maupun long-term trading keduanya sama-sama efektif, dan tentu sama-sama dapat menyebabkan loss, laporan keuangan dapat diotak-atik, charts juga dapat dimanipulasi bandar, sehingga tidak perlu diperdebatkan yang mana yang lebih baik. Bisa jadi saat ini memang zaman serba Hybrid, transisi dari cara yang lebih “old school” ke jaman now. Untuk itu, jangan pernah menutup diri pada ilmu apapun. Apa yang dirasa tidak tepat, bisa saja karena berlandaskan ketidak tahuan. Never stop learning. 

And one more thing, there’s no ultimate way in trading. We all know there’s only one ultimate way in everything, God. Happy Eid al-Fitr 2021. 

Cheers, 

VG

Skip to toolbar