By Aline Wiraatmaja, Business Anchor.

“Try to time the market and you invariably find yourself getting out of stocks at the moment they’ve hit the bottom and are turning back up, and into stocks when they’ve gone up and are turning back down. People think this happens to them because they are unlucky. In fact, it happens to them because they are attempting the impossible. Nobody can outsmart the market.”

-Peter Lynch-

Jangan mencoba untuk mengatur-ngatur waktunya market (timing the market). Pesan ini disampaikan Peter Lynch dalam bukunya “Learn to Earn”. Kemudian, saya pun kembali diingatkan akan pesan ini saat menemukan artikel di CNBC International yang berjudul “This Chart Shows Why Investors Should Never Try to Time the Stock Market” yang ditulis Pippa Stevens. 

Dalam tulisannya, Pippa Stevens mengutip data dari Bank of America. Menurutnya, mencoba mengatur-ngatur waktunya market (timing the market) adalah sebuah perkara yang sulit, meski di kala market sedang bersahabat, sekalipun dilakukan oleh seorang trader berpengalaman.

Nah, baru baru ini, Bank of America melakukan penghitungan berapa banyak potensi cuan yang hilang bagi pelaku pasar yang mencoba-coba keluar masuk pasar di saat yang tepat. Melihat data historis sejak 1930, Bank of America menemukan, jika seorang investor melewatkan 10 hari terbaik di S&P, maka imbal hasil yang dikantongi adalah 28 persen. Di sisi lain, jika investor tersebut tetap berada di market walau tengah naik turun, return yang didapat sebesar 17.715 persen. Wow, jauh banget bedanya!

Saat pasar anjlok, respons alamiah kita tentu saja langsung ingin menjual saham-saham di portofolio. Namun, riset Bank of America menemukan bahwa hari hari terindah di bursa muncul mengikuti keanjlokan terdalam pasar saham. Jadi panic selling bisa menurunkan kinerja portofolio saham seorang long term investor secara signifikan, karena mereka saat keluar dari pasar juga melewatkan hari-hari terbaik bursa saham. 

Savita Subramanian, Head of US Equity and Quantitative Strategy Bank of America, mengatakan, “tetap berada di pasar selama turbulensi bisa membantu memulihkan kerugian akibat pear market – dibutuhkan sekitar 1100 hari bursa secara rata-rata untuk memulihkan kerugian akibat bear market.” Meskipun kadang pemulihan terjadi lebih cepat, seperti pada tahun 2020.

Studi dari Bank of America menunjukkan jika ada seseorang yang dengan akurat bisa menghindari 10 hari terburuk dalam satu dekade, maka imbal hasil yang diraih meroket hingga 3.793.787 persen. Di sisi lain, jika kita mengeluarkan 10 hari terbaik dan 10 hari terburuk, maka returnnya mencapai 27.213 persen. 

Namun, mengingat begitu sulitnya memprediksi puncak tertinggi dan lembah terdalam di market, maka pilihan yang lebih baik adalah tetap berada di pasar alias tidak panic selling.

Menariknya, Bank of America juga mencatat sejumlah faktor seperti positioning atau momentum (trading) kinerjanya unggul dalam jangka pendek. Namun, analisa fundamental menang dalam rentang tahunan (jangka panjang). Bank of America menulis, “walau valuasi dalam jangka 1-2 tahun menghasilkan return yang kecil, valuasi menjadi faktor di balik imbal hasil 60 hingga 90 persen atau lebih di atas jangka waktu 10 tahun.” Bank of America menyebut pihaknya belum menemukan faktor penentu yang bisa memprediksi dengan kuat arah saham dalam jangka pendek.

Jadi kuncinya, valuasi dan bersahabat dengan waktu, tidak perlu panic selling saat pasar ambruk. Ada pelangi di balik hujan. Seperti studi dari Bank of America, “the market’s best days often follow the biggest drops.” 

Saya sendiri dengan pengalaman yang baru seumur jagung di pasar, sempat merasa rugi telah melewatkan kesempatan emas di pasar, yaitu saat bursa ambruk dihantam pandemi. Saya justru kala itu takut dan malah “mengungsi”, melewatkan kesempatan untuk mengakumulasi saham saham fundamental baik dengan valuasi yang entah kapan terulang lagi. Harusnya saya ‘hold steady to my investment through ups and downs’ ya seperti studi dari Bank of America. Tetap setia untuk saham yang berharga.

Salam,

Aline Wiraatmaja

Skip to toolbar