By: Olivia Louise, Investment Content Creator

Selama hampir 4 bulan, sepanjang November 2020 hingga 25 Februari 2021, Rupiah kokoh mempertahankan posisi nya dikisaran 13.876 -14.150 per 1 US dollar. Tetapi setelah tepat di tanggal 26 Februari 2021 hingga saat ini, Rupiah secara trend terus melemah terhadap US dollar. Per tanggal 6 April 2021, saat tulisan ini dibuat, nilai tukar rupiah berada di angka 14.500 per 1 US dollar.


sumber: tradingeconomics.com

Kenaikan US 10-year treasury yield menyebabkan terjadi nya capital outflow oleh investor asing, dimana investor asing membawa kembali sebagian dananya ke AS. Sepanjang Maret tercatat setidaknya asing melakukan Net sell sebesar 4T di bursa saham kita.

Kenaikan US 10-year treasury yield ini dipicu oleh  anatisipasi investor terhadap perbaikan ekonomi di AS, dimana perbaikan ekonomi ini salah satu nya di tandai oleh peningkatan inflasi. Apabila inflasi naik hinga 2%, investor berspekulasi The Fed akan menaikan suku bunga AS. Seperti yang kita tahu bahwa biasanya kenaikan suku bunga maka imbal hasil obligasi juga ikut naik dan apabila ini terjadi, maka spread antara imbal hasil investasi di Emergin Market salah satu nya Indonesia tentu akan semakin menipis dibanding dengan  imbal hasil investasi di AS. Di karenakan berinvestasi di AS lebih aman di banding di Emergin Market, maka spread yang tipis tentunya tidak begitu menarik untuk investor asing. Capital outflow ini tentunya membuat US dollar yang beredar menjadi lebih sedikit .




sumber: tradingeconomics.com

Tapi apakah ketakutan akan kenaikan suku bunga di AS segera akan terjadi?  Pimpinan The Fed sendiri yaitu Jerome Powell masih bertahan dengan pernyataannya,  tidak akan menaikan suku bunga AS setidaknya hingga 2023.

Pelemahan rupiah sering dikaitkan oleh penurunan yang terjadi di bursa dan penurunan yang terjadi bisa di artikan berbeda-beda oleh para pelaku pasar. Apakah penurunan bisa di manfaatkan menjadi buy on weakness, wait and see atau sell on weakness.

sumber: investing.com                                                                            *kolom kuning pergerakan IHSG sepanjang Maret

Sebenarnya tidak semua perusahaan yang ada di bursa berdampak langsung terhadap pelemahan rupiah. Tentu untuk perusahaan yang menjual barang menggunakan bahan baku impor seperti industry Farmasi, Poultry, Otomotif, pelemahan rupiah yang terjadi akan mempengaruhi biaya bahan baku (COGS) dikarenakan harga bahan baku menjadi lebih mahal dan membuat margin tertekan.  Besar kecil nya tekanan ke marjin keuntungan perusahaan akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menaikan harga jual produk ke konsumen (pass on) atau melakukan efisiensi terhadap biaya oprasional.

Perusahaan yang memiliki rasio hutang tinggi dalam bentuk US dollar seperti Semen, Konstruksi, Properti, juga akan terkena dampak pelemahan Rupiah terhadap US dollar, tapi ini tergantung kapan hutang perusahaan jatuh tempo. Apabila kita melihat laporan satu kuartal perusahaan mencatatkan kerugian kurs, sebaiknya kita jangan tergesa-gesa menilai perusahaan tersebut rugi atau tidak perform, karena di kuartal berikutnya belum tentu kurs Rupiah terhadap US Dollar masih melemah. Apabila di kuartal berikut nya Rupiah menguat, maka kerugian kurs tadi bisa berubah menjadi keuntungan selisih kurs.

Pelemahan rupiah juga dapat memberikan dampak positif terhadap emiten atau sektor tertentu. Perusahaan yang produk nya banyak di jual secara ekspor tentu akan di untungkan. Ketika pendapatan perusahaan mayoritas akan berbentuk US dollar, sehingga ketika di konversi ke dalam rupiah keuntungan akan semakin besar, apalagi kalau perusahaan memenuhi kebutuhan oprasional seperti membayar gaji , sewa , promosi dan lain-lain dalam bentuk rupiah. MYOR adalah salah satu contoh perusahaan yang 40% lebih pendapatan nya di sumbang oleh penjualan produk yang di ekpor. Selain itu perusahaan yang penjualan nya kespor biasanya adalah industri tekstil dan pertambangan seperti batubara.

Jadi tidak selalu pelemahan rupiah itu buruk kan? Tergantung dari mana kita menilai dan memanfaatkan setiap momentnya. Untuk saya pribadi, apabila pelemahan rupiah mengakibatkan IHSG terkoreksi, maka saya anggap itu sebagai opportunity untuk membeli saham yang saya incar di harga yang lebih murah.

Disclaimer on:  Emiten dan Industry yang saya sampaikan di atas bukanlah bentuk rekomendasi untuk menjual atau membeli sebuah perusahaan, tentunya di perlukan analisa lanjutan terhadap perusahaan tersebut.

Salam Cuan,

Olivia Louise

Skip to toolbar