TRADER ATAU INVESTOR?. MILENIAL PILIH YANG MANA? – Astari Aslam

Berinvestasi di pasar modal menjadi pilihan sebagian orang untuk mendapatkan penghasilan. Dana yang diinvestasikan akan berkembang atau bahkan menyusut sesuai dengan kinerja emiten yang dipilih. Ada 2 istilah umum di kalangan para penanam modal, yakni trader dan investor.  

Trader adalah orang yang menanamkan modal melalui bursa saham pada suatu perusahaan dalam waktu singkat. Tradermemanfaatkan momentum kenaikan fluktuatif harga saham untuk mendapatkan keuntungan. Biasanya pada tradermengandalkan hasil analisis grafik harga saham, MACD, Volume, Stochastic dan sebagainya pada suatu emiten pilihannya untuk dijadikan acuan dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan traderinvestor justru menanamkan modal pada suatu perusahaan dalam waktu yang lama. Para investor tidak peduli terhadap kenaikan fluktuatif harga saham dalam waktu singkat, tetapi mereka lebih peduli terhadap kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

Kaum milenial harus jeli dalam memilih, menjadi trader atau investor. Banyak di kalangan milenial yang masih menganggap bahwa menanamkan modal di bursa saham akan selalu mendapatkan keuntungan. Alhasil, banyak di antara mereka yang kurang persiapan sehingga berujung bangkrut. Meminjam uang dari teman atau lembaga untuk diinvestasikan pada bursa saham tanpa memiliki latar belakangan pengetahuan investasi yang mapan, akan berakibat fatal. Hal ini disebabkan, harga sebuah saham dari emiten tertentu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang mengakibatkan harganya akan naik atau turun. 

Kondisi ini pun dialami oleh saya, Astari Aslam, saya seorang wanita karir, salah satu milenial yang menanamkan modalnya di bursa saham. Untuk menjadi trader maupun investor memang perlu  jam terbang yang cukup, mental yang sehat, memahami kinerja perusahaan dan paham cara menganalisis grafik. Saya ingin berbagi pengalaman ketika awal mula  berinvestasi di pasar modal pada bulan Oktober 2019. Kala itu saya menanamkan modal pertamanya pada PT Bukit Asam (PTBA) dengan alasan emiten tersebut rutin membagikan dividen nya sebesar 10% setiap tahunnya, jadi saya rasa ini pilihan yang baik dari pada berinvestasi di deposito yang hanya mendapatkan imbal hasil 5% saat itu.

 Niat awal berinvestasi  di pasar modal untuk persiapan tabungan hari tua dimana pasar saham merupakan salah satu instrument yang mampu melawan inflasi, namun di tengah jalan niat saya berubah ketika emiten ini naik 15% , terlintas kenapa tidak saya jual saja toh nanti kalo koreksi bisa beli lagi, dan pada akhirmya niat saya untuk menjadi investor pun berubah menjadi trader bahkan scalper, mendapatkan 3-5% dalam sehari bukan hal sulit untuk saya, 2-3 emiten keluar masuk dalam sehari bukan lagi hal yang aneh ditambah IHSG selalu bullish di bulan Oktober hingga window dressing di bulan Desember bursa benar-benar menjadi “game” yang menyenangkan , gilanya lagi saya sempat berfikir untuk keluar kantor dan menjadi full time trader tanpa jam terbang dan perhitungan yang cukup omg!! Tapi saya yakin, pemikiran ini tidak hanya terlintas di fikiran saya saja, tapi teman-teman milenial yang lainnya juga dengan alasan yang sama ingin cepat kaya, agar lebih punya waktu untuk keluarga dan tidak ada yang mengatur.

Perjalanan di bursa saham pun berlanjut. Awal 2020 ketika Covid-19 masuk ke Indonesia, IHSG  anjlok. Tuntutan terbesar bagi para trader atau investor pemula ketika menghadapi hal tersebut yakni harus mempersiapkan mental secara prima. Bagaimana tidak kelimpungan, dana yang diharapkan untung dan terus berkembang, malah didapatkan sebaliknya. Puluhan juta hilang dalam waktu singkat, ini seperti tamparan! 3 bulan saya tidak buka portfolio karena takut dengan angka berwarna merah dengan minus rata-rata 50% di koleksi saham saya , ini lah yang di katakan dilema ingin menjadi trader tapi tidak mau cutloss sehingga terseret terlalu dalam, menjadi Investor pun karena keterpaksaan.

Pelajaran langka ini membuat saya mulai rajin membaca buku mengenai value Investor sampai akhirnya saya menemukan buku dari  Joeliardi Sunendar, kaum milenial mengenal beliau dengan sebutan “Warret Buffett  Indonesia” . Di dalam bukunya di tuliskan ada pandangan dari Buffett  untuk memilih emiten yang memiliki 3 kriteria ini : 1) memiliki perusahaan berkinerja baik, 2) Membelinya di harga wajar, 3) Bersahabatlah dengan waktu. Joeliardi Sunendar  juga menambahkan bahwa yang harus di perhatikan saat memilih menjadi seorang invesor  yaitu perhatikan ROE minimal 15%  , ROA,  CFO positif,  Sales Growth tumbuh minimal 5% dalam 5 tahun, Gross Margin minimal 40%  dan sebagainya.

Walau Covid-19 belum usai, namun IHSG sudah kembali ke harga 6000  dari bottom nya di tanggal 24 Maret 2020 diharga 3.933, tapi berkat pelajaran  Maret tahun lalu mental dan pengetahuannya akan pasar modal  semakin matang, saya punya tips bagi para pemula, kaum milenial, yang ingin berinvestasi di bursa saham. Saya menyarankan agar para pemula jangan malas belajar dan mencari informasi mengenai pasar modal,  Tidak perlu panik ketika terjadi koreksi  wajar selama anda memiliki alasan yang kuat kenapa mengkoleksi emiten tersebut,  jangan berinvestasi dengan berhutang maupun menggunakan dana darurat karena kondisi dibursa ini sangat dinamis dan fluktuatif, gunakan dana “dingin” untuk berinvestasi di bursa minimal 3 tahun.

Bergabungnya saya  di JSPortfolio, dimana Joeliardi Sunendar sebagai owner maupun mentornya,   saya diajarkan berinvestasi  di pasar modal dengan cara sangat simple, tenang dan nyaman, JSP berbeda dengan beberapa advisor lain. Salah satu keunggulannya, yaitu kesederhanaan sistem yang disesuaikan dengan latar belakang member yang ingin turut bergabung. Di JSP setiap bulannya kami di beri 1 rekomendasi saham beserta alasanya yang menurut tim JSP layak untuk di koleksi, saya awalnya sempat berfikir “kok hanya 1 saja? Kenapa tidak 5 dalam 1 bulan” lantas setelah terjadi koreksi dibursa saya baru paham bahwa berinvestasi di pasar modal ternyata tidak seagresif itu, di JSP rekomendasi saham yang di berikan berdasarkan price yang sudah di hitung sedemikian rupa sehingga terbentuk harga yang di rekomendasikan, jadi kalo harga yang di tawarkan pasar belum layak JSP koleksi kami akan menunggu sampai terjadinya koreksi, ketika IHSG sedang koreksi seperti saat ini para member JSP tengah berbahagia,  bersemangat koleksi emiten-emiten yang direkomendasikan karena bisa mendapatkan harga saham lebih murah di bawah JSP sarankan (selama tidak terkena trailing  stop atau batas bawah harga rekomendasi) 

Sebenarnya tidak ada yang salah ingin menjadi trader atau investor, tanyakan pada diri sendiri, seberapa dalam memahami investasi dan pasar modal. Jika Anda merasa belum andal di bidang tersebut, maka menjadi trader merupakan pilihan yang buruk. Kemudian cara terakhir, seberapa kokoh mental Anda. Kondisi mental yang tidak stabil bagi sebagian orang yang berkecimpung di dunia investasi akan mengakibatkan blunder. Alih-alih mendapatkan keuntungan, malah kerugian yang didapat karena terlalu emosional melihat harga saham yang terus menyusut menjauhi harga modal hingga berujung cutloss.   

Menjadi trader atau investor merupakan pilihan yang dapat diambil oleh masing-masing orang dalam berinvestasi. Dengan suatu komitmen yang kuat, seberapa pun penghasilan yang didapat, akan tetap ada tempat untuk berinvestasi. tentukan pilihan yang sesuai dengan kondisi keuangan Anda. Berinvestasi pada bursa saham dapat menjadi alternatif atau penghasilan utama bagi diri sendiri jika dikombinasikan dengan usaha yang tepat. Walaupun memiliki risiko yang tinggi bagi sebagian orang, berinvestasi dinilai ampuh untuk menumbuhkan kekayaan secara efektif.

Salam,

Astari Aslam

Skip to toolbar