^

BIKE – 20 Juli 2025

Wed, Jul 30 2025

Cover Story

Kemenangan Chevron atas ExxonMobil mengangkat kembali nama negara kecil yang telah berubah menjadi sebuah Petrostate baru.

Bisnis Global

Akuisisi ini menjadikan Chevron memiliki 30% interest di ladang Stabroek — yang merupakan salah satu ladang migas terbesar dunia. Sejak 2015, terdapat 30 penemuan besar di Stabroek offshore, dengan perkiraan total cadangan mencapai sekitar 11 Miliar BOE.

2015: MENGUBAH SEGALANYA

ExxonMobil menemukan ladang minyak raksasa di Stabroek Block — di lokasi offshore Guyana, dengan perkiraan cadangan migas mencapai sekitar 11 Miliar BOE (barrel oil equivalent).

Ladang yang ditemukan di tahun 2015 itu, produksinya dimulai di tahun 2019. Sejak 2021, ekspor minyak Guyana meningkat dengan pesat.

Exxon memperkirakan produksi minyak dari Stabroek Block pada tahun 2027 bisa mencapai 1,7 Juta boepd — dari 1,2 Juta boepd di tahun 2025 ini. Dengan konsumsi minyak Guyana sekitar 20.000 boepd, praktis hampir semua produksi dari Stabroek diekspor. Pendapatan Guyana dari minyak naik 60× lipat dalam 5 tahun terakhir. GDP naik dari $5.960 di tahun 2015, menjadi $33.000 di tahun 2024 (data IMF).

Makro

Berkah migas ini telah menjadikan Petrostate baru — dengan penduduk 800.000 ini — berhasil mencatat pertumbuhan tercepat di dunia. Dalam 5 tahun ini GDP-nya tumbuh dengan angka 25% per tahun. Dalam 5 tahun, produksi minyak naik 60× lipat.

Dulu, siapa peduli pada Guyana, satu negara kecil yang terletak di kawasan Amerika Selatan? Guyana, namanya kalah kondang dari negara tetangganya, seperti Brasil atau Venezuela.

Dulu, Guyana merupakan salah satu negara termiskin di Amerika Selatan. Dengan jumlah penduduk 800.000, GDP sekitar $4,55 miliar — setara GDP per kapita $5.960 di tahun 2015. (Data World Bank)

GDP per kapita Guyana naik 5× lipat lebih dalam 10 tahun terakhir ini, ke angka $33.000. Untuk bisa memberi perspektif (bukan untuk apple-to-apple comparison), pada tahun 2015 lalu, GDP per kapita Indonesia $3.300. Tahun ini diduga dapat mencapai angka $4.500.

GDP per kapita Guyana tahun ini bisa mencapai hampir $40.000 — sudah lebih besar dari Italia (Di 2024, Italia: $34.000).

Selain menjadi negara dengan pertumbuhan GDP tercepat di dunia, Guyana juga menjadi negara dengan angka ekspor minyak per kapita ke-3 tertinggi di dunia. Meningkatnya kesejahteraan rakyat Guyana yang sangat tajam ini niscaya memicu peningkatan demand berbagai barang industri dan konsumsi — tidak lagi hanya terbatas di oil sector. Sejauh ini, JSP belum mengetahui apakah ada emiten BEI yang saat ini telah menjajagi peluang besar yang ditawarkan Guyana.

Menjadi PetroState seperti Brunei atau Saudi Arabia? #kaburdulu

Selain bisa menawarkan peluang untuk berbagai barang dari Indonesia, mereka yang memilih #kaburdulu, serta memilih Guyana ini, ada baiknya tidak membayangkan PetroState Guyana ini seperti Saudi Arabia, PetroState di Timur Tengah. Guyana skalanya lebih mirip Brunei, PetroState di Asia. GDP per kapita Brunei, tahun 2024 sekitar $30.000 — dengan jumlah penduduk 500.000. Sementara Saudi Arabia, meskipun GDP-nya di bawah Guyana ($25.000, 2024), produksi minyaknya telah mencapai 9,6 juta boepd. Penduduknya 35 juta orang.

Analisis

COMMODITY CURSE

Mudah-mudahan Guyana (begitu juga Indonesia) bisa terhindar dari “commodity curse” — yang justru membuat rakyatnya tidak sejahtera.

Dengan harga akuisisi Hess, $53 Miliar (yang memiliki 30% Stabroek, dengan cadangan 11 Miliar BOE), berapa nilai 100% Stabroek yang minyaknya baru akan habis dalam 40 tahun ke depan?

Selain Stabroek, Hess juga memiliki sejumlah ladang migas lainnya.

Kontribusi Stabroek atas total Revenue Hess sekitar 65%. Dengan demikian, harga akuisisi Hess $53 Miliar itu, untuk 30% interest di Stabroek, setara $34,5 Miliar. Dengan perkataan lain, nilai 100% Stabroek dengan cadangan 11 Miliar BOE itu nilainya $115 Miliar.

Guyana, meskipun memiliki cadangan yang besar, tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kekayaan yang tersembunyi di dalam tanahnya. ExxonMobil, Hess/Chevron, dan CNOOC China menjadi pihak yang dapat merealisasikan kekayaan Guyana itu.

Investasi

Satu micro cap energy stock (Market Cap di bawah $50 Juta), meski memiliki ladang migas dengan perkiraan cadangan 1 Miliar BOE di Jawa Barat, diperkirakan juga tidak memiliki kemampuan untuk merealisasikan cadangan yang besar itu. Pada saat mulai masuk tahap eksploitasi, pasti microcap itu harus mencari dan mengajak Big Boys untuk memonetisasi cadangan besar itu.

Related Posts

Belajar Dari Krisis “Spesial” 2020

Belajar Dari Krisis “Spesial” 2020

Krisis saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis “spesial” 2020. Tetapi kita masih tetap bisa belajar dari krisis itu. Bahkan di tahun 2021 itu, Fed Chairman, masih saja...

read more