Bisnis Lokal

INVESTASI BARU 5 PERUSAHAAN ASAL AMERIKA DI INDONESIA
BERNILAI SEKITAR $23 MILYAR
Sementara investor asing di pasar saham masih mencatat neto jual sekitar Rp 60 Triliun (ada kemungkinan angkanya hari ini bisa berkurang) — 5 perusahaan asal Amerika menyatakan akan menanamkan dana investasi sekitar $23 Miliar.
ExxonMobil yang dikalahkan Chevron di Guyana, memilih Indonesia untuk bisnis Carbon Capture-nya, dengan investasi senilai $10 Miliar. AI menjadi fokus tiga US Big Techs, dengan investasi total $12,7 Miliar. Oracle untuk Data Centre, AMZN untuk AI Infrastructure dan MSFT untuk membangun Azure AI hubs.
Mereka tentu perlu partner lokal untuk membangun bisnisnya di Indonesia. Baik perusahaan yang bisnisnya memang ada di sektor terkait, maupun yang bisa menawarkan peluang “cangkul dan sekop”.
Calon partner lokal Exxon mungkin lebih jelas. Namun, AI tidak hanya perlu chips Nvidia. AI perlu data centers yang lebih banyak. Data centers perlu lahan yang memadai, dan perlu energi yang lebih banyak. Tidak heran jika Exxon memilih Indonesia, dan 2 proyek ladang gas raksasa di Blok Masela dan di Andaman Sea, proyeknya akan mulai berjalan.
Mustahil berbicara pertumbuhan GDP di atas 5%, sementara pembentukan modal tetap bruto (PMTB) di Q1/2025, angkanya hanya 2.1% (Gb 2 – IG, 4 Juli 2025).
Adanya investasi baru kelima perusahaan Amerika ini, bisa menjadi kabar baik. Indonesia tidak akan terus berada di luar radar.
Makro

Bukti Ironis Masih Ogahnya Asing Melirik Indonesia.
Entah mengapa kok BlackRock dan Bloomberg malah memakai Malaysia sebagai contoh negara Asia yang 10 yr Bond yield-nya turun cukup besar sejak “Liberation Day” — bukan Indonesia.
10 yr yield Indonesia turun lebih besar, 38 bp. Angkanya lebih besar dari Malaysia, 24 bp, maupun Italia, 33 bp, negara Eropa dengan penurunan yield terbesar sejak “Liberation Day”.
Di BEI, ogahnya asing tampak dalam posisi Net Jual-nya yang hampir Rp 60 Triliun saat ini. Tidak adanya perhatian asing is a good thing. Not a bad thing. Harga menjadi lebih wajar.
“Hilangnya” nama Indonesia dari radar investor asing di bursa, is a Good thing – not a Bad thing.
Optimisme Prabowo tentang GDP Indonesia
Pemimpin setiap negara tentu harus bisa menjaga semangat dan optimisme rakyatnya. Namun, entah dari bisikan siapa, di St. Petersburg itu Prabowo merasa yakin bahwa GDP di Sm I/2025 bisa tumbuh 5%, dan akhir tahun 2025 bisa 7%.
Siapa rakyat yang tidak mau melihat optimisme pemimpinnya seperti itu? Tetapi ada baiknya menyimak apa yang terjadi. Misalnya seperti dikatakan MenKeu di DPR saat membahas APBN kemarin, bahwa: a) Pembentukan Modal Tetap Bruto di Q1/2025 hanya 2,1%, b) Dia juga minta izin untuk tidak memakai SIAL (Sisa Anggaran Lebih), Rp 85,6 Triliun.
Tentu kita sudah tahu, hilangnya hak atas dividen BUMN karena diambil Danantara menjadi salah satu faktor tekornya penerimaan pemerintah.
Bagaimana mungkin GDP bisa tumbuh lebih tinggi jika PMTB hanya tumbuh 2,1%? PMTB Indonesia, sekitar 29%-an dari GDP, menjadi komponen terbesar kedua GDP, setelah Konsumsi Masyarakat (54%), dan lebih besar dari komponen Belanja Pemerintah (7,7%), serta Net Ekspor (1,8%).
Pertumbuhan PMTB di Q1/2025 itu lebih kecil dari angka Q1/2024, 3,78%, maupun FY 2024, 4,61%. Kita juga sudah mengetahui, di Q1/2025, GDP hanya tumbuh 4,87%.
Investasi

Waktunya buat memasukan saham energi di BEI menjadi Core Stock
Langkah 3 Big US Tech companies masuk di Indonesia, untuk mengantisipasi transformasi AI, mendorong JSP untuk melakukan realokasi di Core Stocks. Transformasi AI tidak hanya memerlukan chips dari NVDA saja. AI juga perlu AI Data Centers, yang sangat haus akan energi. Energy is the new currency. Sudah waktunya ada energy stocks di Core Stocks.
Sebelum Buffett menyatakan pensiun jadi CEO Berkshire, dia memangkas berbagai saham di Equity Portfolio-nya — termasuk saham AAPL. Hal yang berbeda dia lakukan di saham Occidental/OXY. Dia terus mengakumulasi OXY ini hampir pada setiap kuartal. Akumulasi yang dilakukan Buffett menjadikan Berkshire saat ini menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan penghasil migas ini, setara 26,92% dari total saham.
Adanya common shareholder di 3 AI-related stocks di BEI menambah katalis pada satu saham energi di BEI ini.
Namun begitu, pertimbangan utamanya tetap berasal dari margin of safety-nya yang tinggi — dengan PE sangat wajar dan dividend yield-nya yang tinggi. Kedua faktor itu juga disertai tingginya prospek pertumbuhan kedua emiten BEI ini di masa-masa mendatang.
Karena alokasi di core stocks sudah penuh (100%), masuknya 2 anggota baru ini harus disertai dengan pengurangan bobot stocks yang sudah ada di Core Stocks saat ini.
Kenaikan yang terjadi di BEI saat ini bisa dimanfaatkan untuk menjual dan mengurangi bobot saham yang ada — agar terdapat ruang yang cukup untuk dua anggota baru Core Stocks ini.
Catatan lengkap mengenai hal ini telah diminta untuk diposting di website. Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan menghubungi langsung DM @jsportfolio.id
Refleksi & Kutipan

But, in the AI ChatGPT era
Kindle your questions bright — truth loves a worthy light.
The river of truth flows only where questions carve their banks.
Usahakan membuat ChatGPT, Grok, DeepSeek atau Gemini sering mengucapkan “minta maaf karena melakukan kesalahan” (Gb 2).

Semakin sering mereka minta maaf, semakin baik. Membuat mereka bisa lebih berhati-hati menjawab setiap pertanyaan Anda, dan mengatakan: “You asked well”.
Pertanyaan yang baik, menjadi awal untuk mendapatkan jawaban yang baik.


