Harga komoditi bisa turun naik dengan tajam, dalam periode panjang – seperti tampak di harga Uranium, pada posting sebelumnya. Namun, apabila komoditi tersebut masih diperlukan, harganya tidak bisa jatuh di bawah biaya produksi dari produsen yang paling efisien. Itu sebabnya, jika harga komoditu itu telah jatuh mendekati biaya produksi dari produsen paling effisien, hal itu bisa menjadi indikasi bahwa the bottom is near. That’s the best time to invest in the commodity stocks.

Dan junior atau small caps – yang biasanya kurang efisien dibandingkan big caps – mendapat berkah lebih baik, ketika recovery mulai meninggalkan titik nadir harganya. Mari kita lihat matematikanya. Saat gold price jatuh, katakan ke harga $ 1,200, maka produsen dengan biaya produksi $ 1,180, hanya mendapatkan margin $20 per-Oz.

Produsen yang lebih efisien, yang biaya produksinya $ 1,100 akan lebih diminati, karena bisa mendapatkan margin lebih baik, $ 100 per-oz. Emiten ini akan lebih disukai – dan membuat harganya naik atau terjaga. Sementara itu, produsen yang tidak efisien, tidak akan disukai, sehingga harganya akan mengalami penurunan.

Pada saat gold price naik ke $ 1,250, produsen yang paling efisien margin-nya naik 50%, dari $ 100 ke $ 150. Namun, kenaikan ini memberikan dampak lebih besar bagi produsen yang kurang efisien. Margin dari perusahaan, yang tadinya $ 20, naik 300% menjadi $70 – tidak hanya sekedar 50%. Lonjakan persentase yang lebih besar ini, yang membuat sahamnya bisa meningkat lebih tinggi di saat terjadinya perbaikan harga komoditi. Apalagi jika sahamnya selama ini tidak disukai – dan telah menjadikan sahamnya terpuruk selama ini.

Dengan mulai bergulirnya kegiatan ekonomi, small caps yang kurang efisien, bisa menjadi perhatian di tahun 2021 ini.

Skip to toolbar